Menunggui bocah
By Erwin

Ia berlari mengikuti hamburan cahaya yang terpancar dari sinar penuntun dalam gelap, sambil ternsenyum kegirangan yang sesekali menoleh ke arahku
“Hati-hati dek nanti jatuh, senternya kasih kaka”
Suara lirih terdengar dari belakang, yang tampa melengok pun segenap penghuni boyang sudah tahu, namun nampak tak dihiraukan oleh bocah tujuh tahun itu dan ia tetap mendengungkan gema suara yang terbawa angin malam.
“ini pake kupluk dulu dek”
Suara yang tak asing itu kembali bergema, namun tak ada tanggapan, hanya larian kaki-kaki mungil yang terdengar, menepikan angin, menderit-deritkan ngilu lantai kayu. Bocah itu tampak bersemangat, entah apa yang diocehkan dengan pemilik gema suara tadi, semua terdengar berseliweran, bersimpang siur, dan kolang-kaling.
Entah berapa lama aku duduk disini, berdiam menunggui yang entah kapan mulai beranjak. Tak berapa lama, kaki mungil itu kembali bertalun-talun, memicu derit kayu, mendatangi tempat aku menunggui. Gema suaranya tertebar riang, kelopak matanya membesar, berbinar-binar pertanda ia sudah tak sabar.
“Ayoo ayoo… zzhzhhzhzhzz…”
Ujarnya sembari meloncat-loncat cengengesan.
Yap malam ini aku diminta menunggui bocah ini di pasar malam. Aku lalu beranjak dengan pelan memegang tangan bocah itu sembari berjalan meraih daun pintu. Desis daun pintu mulai terdengar tatkala dibuka, angin mulai berhembus, memaksa masuk merasuk rasuk. Kegelapan malam mulai nampak sebab ketiadaan cahaya. Bulan hanya menampakkan kejap sekejap, sebentar ia bersinar, sekejap ia tertutup awan.
Kami kemudian melangkah menyurusi anak tangga, setiap langkah hawa dingin terus menggerogoti. Sampai ketangga terakhir bocah itu langsung bergegas memakai sandal. Tak peduli meski terbalik ia langsung berlari kea rah sepeda motor yang terparkir.

“Saya paling depan”
Ujarnya teriak sambil cengengesan. Suara yang tadi pun kembali bergema dari arah pintu
“jangan dek nanti masuk angin”
Aku pun ikut menggiring bocah ini ke jok belakang. Namun seketika Mimik muka bocah itu tiba-tiba berubah meredup sambil berucap
“gak mauu, maunya di depan”
Beberapa kali di bilangin tetap menolak dan alhasil jurus andalan bocah seumurannya pun keluar, ia mulai menagis, gema suaranya keras dan tajam sambil memegang tian spion yang sudah bergetar hampir berpindah dari dudukannya (udah lama tapi tidak pernah dihiraukan oleh bapak). Akhinya setelah semua drama ini selesai, kami memilih angkat tangan dari bocah ini.
Besi tua perlahan kujalankan, namun si bocah nampak hanya diam, munking meratapi kesediahnnya tadi, pikirku. Setengah perjalan ia masih diam, tak berapa lama ia menunjuk
“Itu apa”
Ia menunjuk kilatan cahaya dari arah pasar malam.
“itu pasar malamnya”
Kulihat ia kembali cengengesan dari arah spion, tapi ia belum kembali seceria keadaan awal.
Akhirnya tiba…. Next
Author
Nama Erwin, Asal Polewali Mandar Alumni Hukum Keluarga Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 2019 Gendre tulisan suka membahas hal-hal kekinian atau yang lagi viral
View all posts






