Selain terkenal dengan tempat wisatanyan, Bali juga terkenal dengan adat-istiadatnya yang masih kental dan dijunjung tinggi. Banyak sekali upacara-upacar dan pantangan-pantangan di bali yang harus di patuhi, karena masyarakat Hindu Bali sangat menjunjung tingggi konsep “Tri Hita Karana” yaitu hunbungan manusia dengan manusia lainnya, hubungan manusia dengan tuhan, dan hubungan manusia dengan alama.
Salah satu konsep Tri Hita Karan Hindu Bali yang berhubungan dengan alam, yaitu mengikat kain poleng di pohon-pohon besar seperti pohon beringin, Randu, bahkan pohon-pohon yang sering kita jumpai di pinggir jalan. Selain sebagi rangkaian adat oleh masyarakat Bali, hal ini juga sebagai bentuk hubungan manusia dengan alam. Masyarakat bali sadar bahwa pohon memiliki peranan penting di alam, dimana fungsi pohon sebagai penyaraing udara dan penghasil oksigen, sebagai penydia makanan bagi hewan herbivora, menjadi tempat berlindung bagi hewan, menjaga kesuburan tanah, serta menahan laju air dan erosi dan menjadikan lingkungan menjadi lebih nyaman.
Kain poleh (hitam putih) dalam budaya bali merupakan symbol atau ekspresi dari penghayatan Rwa Bhinede suatu konsep keseimbangan baik dan buruk. Jika kita lihat mengapa banyak pohon beras di bali yang diselimuti kain hitam-putih dan diberi sesajen, maka hal itu dapat di artikan sebagai bentuk penghormatan manusia kepada alam sekitar dengan memperhatikan dampak baik buruknya perlakuan manusia terhadap alam dengan symbol pepohonan tersebut.
Menyelimuti pohon dengan kain poelng banyak kita jumpai di pinggiri jalan maupun hutan di Bali, terutama untuk pohon-pohon yang berukuran besar. Penggunaan kain poleng hitam putih sendiri mungkina akan memberikan kesan angker dan mistis, sehingga masayarakt akan berfikir jika pohon yang di ikat denga kain poleng pasti ada penunggunya. Dengan pemikiran masyarakat yang demikian maka masyarakat akan takut untuk menebang ponhon sembaranga. Hal ini membawa membawa dampak positif sehingga mengurangi tingkat penebangan pohon secara liar.
Dalam kaitannya dengan hubungan manusia dengan alam, maka meyelimuti pohon dengan kain poleng memiliki arti sebuah komitmen untuk menjaga dan melestarikan pohon tersebut. Ketika pohon mampu di jaga maka akan berdampak tidak langsung terhadap kehidupan hewan lainnya. Pohon yang di ikat denga kain poleng biasanya erat kaitannya dengan fungsi dan manfaat pohon tersebut bagi masyarakat. Salah satu pohon yang sering di jumpai diselimuti denga kain poleng adalah pohon beringin, di mana pohon beringi bagi masyarakat merupakan kayu larangan bukan hanya memiliki peran penting dalam upacara ngaben tetapi juga sebagai obat.
Masyarakat di Bali sadar jika alam di hancurkan dengan penebangan liar, maka hal itu akan mengakibatkan banjir, polusi, kepunahan berbagai habitat didalamnya dan akan berdampak juga terhadap manusia itu sendiri, sehingga keseimbangan ini harus di jaga dengan bentuk penghormatan, serta di berikan symbol kain hitam putih pada pohon dan benda-benda tertentu seperti dupa dan canang, sebagai symbol penghormatan kepada alam.
Dengan adanya adat seperti ini di Bali membawa keuntungan besar khususnya pada pada alam, baik masyarakat setempat maupun turis local dan asing harus mematuhi peraturan yang ada, karena di Bali tidak hannya merepakan hukum berdasrkan undang-undang namun juga masih menerapkan hukum adat yang kental. Seperti halnya jiak ada seorang yang menebang pohong di tempat yang tidak di perbolehkan atau di anggap sakral, maka orang tersebut harus mengantinya dengan menanam pohon yang sama dengan jumlah yang telah di tentukan.







