MALIK BIN DINAR : PREMAN YG MENDAPAT HIDAYAH DI BULAN SYA'BAN

sumber : islam.co


Oleh:
Siti Laila ‘Ainur Rohmah

Sebagian
orang mungkin sudah tidak asing dengan nama “Malik bin Dinar”, yaitu
seorang ulama yang terkenal dari golongan tabiin karena kezuhudannya. Namun
siapa sangka, di balik sosok beliau ini ternyata menyimpan kisah kelam yg
pernah dilaluinya. 

Diceritakan
dalam suatu riwayat, bahwasanya Malik bin Dinar seorang yg lahir di Bashrah dan
masih dari keluarga kerajaan. Hidupnya yg mewah dan bergelimang harta,
membuatnya lalai dan berfoya-foya sesuka hatinya. Meski di sana menjabat
sebagai keamanan (polisi), meminum khamr, zina, dan kemaksiyatan lainnya sudah
menjadi hal biasa yang dilakukan. Karena hal tersebut, maka tak heran jika
dirinya terkenal sebagai preman oleh masyarakat sekitar. 

Namun,
suatu ketika Malik bin Dinar ingin menikah. Karena keinginannya tersebut sempat
terlintas dibenaknya, bahwa dengan menikah akan menghindarkan dirinya dari
berbuat maksiyat. Alhamdulillah Allah SWT memudahkannya untuk menikahi seorang
budak. Dari pernikahan tersebut, kemudian beliau dikaruniai seorang anak
perempuan yg cantik bernama “Fatimah”. Anak ini sangat istimewa dan
luar biasa. Setiap Malik bin Dinar melihat anaknya, beliau selalu terenyuh.
Anehnya anak ini disaat melihat ayahnya hendak minum khamr, dia selalu
mengambil dan menumpahkan khamr tersebut di bajunya Malik bin Dinar. Hal
seperti ini juga dilakukan Fatimah setiap ayahnya hendak melakukan
kemaksiyatan, seakan mengisyaratkan ayahnya untuk perlahan menjauhi
perbuatan-perbuatan tersebut. Malik bin Dinar pun tidak bisa marah, karena
begitu besar rasa cinta dan kasih sayangnya kepada putrinya.

Pada
suatu saat, Fatimah kecil yang berusia 3 tahun ini meninggal dunia. Sejak
itulah Malik bin Dinar merasa putus asa dan kembali melakukan kejahatan yang
luar biasa daripada sebelumnya. Bisikan setan seakan mengatakan kepadanya,
“Engkau harus mabuk semabuk-mabuknya melebihi tahun-tahun sebelumnya”. Akhirnya
Malik bin Dinar pun mulai mabuk berat. Di tengah mabuknya tersebut, kemudian
beliau tertidur. Dalam suatu riwayat menyatakan bahwa kondisi mabuknya itu
bertepatan di malam nisfu sya’ban. Saat itu juga beliau pun akhirnya
bermimpi. 

Di
dalam mimpinya, beliau melihat bahwa kiamat itu datang. Di saat kiamat datang,
tiba-tiba beliau berada di suatu tempat yang sangat mengerikan, di mana ada api
dan di sebelahnya ada ular. Ular tersebut seakan mengejarnya dan Malik bin
Dinar pun merasa ketakutan. Hingga dia bertemu dengan sosok orang tua, lalu
beliau pun meminta tolong kepadanya. Namun, orang tua tersebut berkata, “Aku
tidak bisa memberikan pertolongan kepadamu. Pergilah kesana, mungkin ada di
lorong itu”.

Berlarilah
Malik bin Dinar menuju ke arah yang ditunjukkan orang tua tersebut. Tapi apa
yang terjadi? beliau justru mengarah ke tempat api. Beliau berada dalam keadaan
yang sulit, di mana depannya ada api, sedangkan di belakangnya ada ular yang
hendak memangsanya. Di tengah kebingungan tersebut, tiba-tiba terdengar suara
anak-anak. Anak-anak kecil itu kemudian menyeru kepada Fatimah (anaknya yang
meninggal di usia belia), “Fatimah, Tolonglah ayahmu, tolonglah ayahmu”.
Fatimah pun akhirnya mendatangi Malik bin Dinar. Seketika api dan ular pun menghilang.
Sang ayahpun terkejut melihat putrinya. Beliau pun langsung memeluk Fatimah
seperti di dunia. 

Malik
bin Dinar pun bertanya kepada anaknya, “Siapa ular tadi itu?”. Anaknya pun
menjawab, “Ular dan api itu adalah segala kemaksiyatanmu di dunia”. Lalu
ayahnya kembali bertanya, “siapa orang tua tadi itu?”. Anaknya menjawab,”Orang
tua itu ayah, amal baikmu selama ini. Karena amal baikmu kau lemahkan sampai
kecil-kecil , sehingga dia tidak bisa menolongmu.” “Lalu kau siapa?” ayahnya
bertanya lagi. Anaknya menimpali,”aku adalah putrimu, anakmu dahulu”.

Kemudian
anaknya membacakan satu ayat 

اَلَمْ
يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا
نَزَلَ مِنَ الْحَقِّۙ ……(16)


Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk
mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada
mereka)…….”

Lalu,
terbangunlah Malik bin Dinar dari tidurnya dan ingat akan mimpi-mimpinya tadi,
kemudian beliau sadar dan bergegas pergi ke masjid. Sesampainya di masjid,
beliau mendengar bahwa imam masjid sedang membacakan ayat yang sama seperti
yang didengar dalam mimpinya. Saat itu juga Malik bin Dinar  pun akhirnya
bertaubat kepada Allah SWT. 

Dari
kisah di atas mengajarkan kita untuk tidak mudah putus asa dengan amal kita.
Meski ditinggal anak kesayangannya, tidak membuat Malik bin Dinar langsung
bunuh diri. Rasa sedih itu pasti, tapi tidak kemudian menjerumuskan kita ke
hal-hal yang dilarang-Nya. Justru dari duka-duka tersebut, sebenarnya Allah SWT
ingin mengangkatnya dan memberikan pertolongan kepada hambanya. Malik bin Dinar
masih ditolong oleh Allah SWT karena ada niatan baik untuk menghindarkan
dirinya dari berbuat maksiyat. Pertolongan Allah kadang melalui kesadaran,
mimpi, dll. 

Dalam
kisah ini Malik bin Dinar mendapatkan hidayah melalui mimpinya. Begitulah
gambaran kekasih-kekasih Allah, jika ditimpa musibah tidak terlihat kesedihan
di wajahnya atau sikap tidak terima dengan ketentuan Allah SWT, karena yang ada
hanya ucapan syukur terima kasih kepada Allah SWT. Hal ini seperti ketika Nabi
Ibrahim wafat, Nabi Muhammad SAW pun menangis, menangis tapi beliau
berkata,”mata ini bisa menangis tapi aku tidak boleh melakukan sesuatu kecuali
yang Allah ridhai. Wa allahu a’lam…

 

Sumber
: Ceramah buya yahya, “Kisah Taubatnya Malik bin Dinar”.

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp