Kali Mbalak

Sumber gambar: Pinterest

Oleh:
Hidayatun Na

Hari
Minggu kemarin, aku dan kesepuluh teman kampusku berkesempatan makan hidangan
mewah ala resto seafood di asrama kami. Makanan itu adalah kerang pemberian
ibunda salah satu kawan kami. Dia baru saja kembali dari rumahnya di Sidoarjo
dengan membawakan 6 kilogram kerang dara segar. Kerang-kerang itu diolah
sedemikian rupa oleh teman asrama kami si paling jago masak, sebut saja si
master chef sehingga rasanya lezat bukan kepalang. Bumbunya kental dan medok. Membuat siapa pun tak rela jika
membuang cangkang kerang itu begitu saja tanpa menyesapi setiap incinya.

Tetapi
yang akan kuceritakan padamu sejatinya bukanlah tentang seafood ini, kawan.
Meski tak dapat kupungkiri, ingatanku akan sesuatu yang ingin kuceritakan ini
muncul setelah aku membantu si master chef membuka satu persatu cangkang kerang
dara rebus yang tertutup rapat. Saat melakukannya, aku mengalami nostalgia.
Teringat masa kecil yang bagiku sangat bahagia.

Ini tentang sungai. Nama sungainya adalah sungai Mbalak. Tetapi warga kampungku
menyebutnya Kali Mbalak. Di daerahku terdapat banyak sekali sungai, dan sungai
Mbalak adalah sungai yang dikeruk sebagai buangan para petani, begitu orang
tuaku menyebutnya. Kenapa? Karena dasar Kali Mbalak sangat curam sehingga air
irigasi sawah semuanya bermuara dan mengakhiri perjalanannya di sungai tersebut.
Sungai itu kelilingi oleh pepohonan rindang di segal sisinya, ini berfungsi
untuk mecegah banjir yang berlebih ketika musim hujan. Maka dari kejauhan,
sungai Mbalak tampak seperti barisan hutan yang memanjang.

Namun,
jika diteliti lagi, sungai Mbalak adalah anak kecil dari sungai Macak (anak
sungai Komering yang nanti juga akan kuceritakan kisahnya). Sungai Mbalak membentang
dari kampungku hingga tiga kampung lain. Kalau kau befikir 4 kampung itu kecil,
coba bayangkan jika sebagian besar dari kampung itu adalah ratusan hektar tanah
yang ditanami padi. Maka, Kali Mbalak adalah kali yang panjang. Kali kehidupan
warga di daerahku.

Aku
tinggal di sebuah daerah yang letaknya persis di tengah-tengah pulau Sumatera
Selatan. Bahkan walaupun kusebut nama daerah itu, jika kau tak pernah ke
Sumatera Selatan, kau pasti tak mengetahuinya. Karena letaknya di tengah, maka
daerahku jauh dari tempat wisata seperti pantai, gunung, atau kota. Namun, ada
banyak sungai besar di sana yang alirannya berasal dari Danau Ranau (nah,
kupastikan kalian juga tak tahu danau ini) yang merupakan danau terbesar kedua
di pulau Sumatera.

Sewaktu
kecil, kira-kira ketika TK sampai kelas akhir SD, aku beserta keluarga dan para
tetanggaku sering pergi ke Kali Mbalak untuk mencari kerang hijau air tawar.
Sebut saja namanya kerang kijing. Kerang itu mirip sekali dengan kerang hijau
laut yang sering dijual di pasaran, hanya saja ukurannya bisa dua sampai lima
kali lipat lebih  besar serta memiliki
warna kehitaman.

Pagi
hari, sekitar jam tujuh setelah para ibu selesai memasak dan beberes, kami
berangkat ramai-ramai dari rumah dengan berjalan kaki sejauh 250 meter menuju
kali Mbalak. Tak lupa membawa ember besar serta capil, atau topi tani yang berbentuk kerucut. Kalau hari libur,
yang ikut jauh lebih banyak dari hari biasa. Tak perlu memakai sandal sebab
jalan ke kali sangat ramah bagi kaki. Rasakan pasir halus yang menutupi
permukaan tanah serta rumput-rumput segar di sisi jalan menggelitik tumit.

Sisi
kanan jalan terdapat irigasi kecil dengan suara gemericik air yang lembut. Di
tepinya tertanam berbagai jenis rumput, juga bunga-bunga liar yang membuat
jalanan sawah itu berwarna. Jangan lupakan udara segar yang bersih berpadu
dengan kehangatan matahari. Rasanya menyenangkan. Memberi semangat. Anak-anak
berlarian, saling mengejar dan berlomba menjadi yang tercepat sampai ke Kali.
Jika bertemu para petani lain yang sedang mencangkul di sawah, mencabuti
rumput, atau menyiram tanaman, kami akan saling bertukar sapa.

Anak-anak
seringkali sampai lebih dahulu di kali.
Mereka bahkan sudah tahu spot favorit kerang-kerang raksasa itu.

“Mak
Mak! Di sebelah sini banyak kijingnya! Besar-besar!”

“Cup!
Aku sebelah situ!”

“Aku
di sana! Jangan ada yang ke sana! Itu bagianku!”

“Siapa
cepat dia dapat!”

Begitulah
teriakan anak-anak kecil yang tak takut bahaya. Tetapi memang waktu itu, Kali
Mbalak bukanlah kali yang berbahaya. Justru warga senang memanfaatkan Kali
Mbalak sebagai sumber lauk-pauk mereka ketika musim paceklik sedang melanda.
Kantong kering, usaha sepi, dan sawah baru saja ditanami, belum memberikan
hasil dan satu-satunya yang menjanjikan adalah Kali Mbalak.

Dulu,
yang memimpin rombongan kami adalah Bibiku, namanya Wak Inah. Beliau sudah
bersahabat dengan Kali Mbalak jauh sebelum kami lahir. Maka sejatinya beliau
lah yang lebih tahu seluk beluk Kali Mbalak dibanding kami.

“Kita
mulai jalan dari atas sana, dari Gubuknya Wak Giyo. Abis itu turun sampe
jembatan.” Perintah Wak Inah. Wak Giyo adalah suami Wak Inah. Maka satu
rombongan serempak menuruni ngarai sungai setinggi  satu setengah meter yang curam melalui
undakan berbentuk tangga. Sengaja dibuat oleh dan untuk para warga agar lebih
mudah turun ke dasar sungai.

Tinggi
sungai itu sekitar setengah meter, tetapi hampir membuatku tenggelam karena waktu
kecil, tinggi sungai itu sedadaku. Setelah semua turun, kami mulai berendam dan
mengais-ngais pasir sungai untuk menemukan si Kijing. Pertama, kami mengaisnya
menggunakan kaki untuk merasakan gundukan-gundukan kecil yang tersembunyi di balik
pasir. Jika gundukan itu sudah ditemukan, maka kami akan menurunkan satu tangan
untuk menggalinya dan mengambil gerombolan kerang tersebut. Tangan yang satunya
digunakan untuk menjaga ember agar tetap stabil. Terkadang, para ibu mengobrol
asyik sembari mencari kerang. Jika tak ada bahan pembicaraan, maka mereka akan
membiarkan kesunyian mengelilingi kami. Ini membuatku lebih berkonsentrasi.

Sewaktu
berendam dan tangan di pasir, satu-satunya yang tak terendam adalah bagian
wajah. Seringkali aku mendongak ke atas. Pemandangan yang kulihat adalah
daun-daun pepohonan yang saling menyatu meski akar pohon itu terletak
berseberangan. Kadang kulihat tupai melompat dari satu dahan ke dahan yang
lain, burung-burung pipit bernyanyi bersahutan, kupu-kupu mencari bunga, angin
berembus pelan, serta suara hewan bernama gareng
yang nyaring. Cahaya matahari lembut menyusupi ranting-ranting pohon,
memberikan kehangatan dalam dinginnya air sungai.

Melihat
ketakjubanku akan hewan-hewan di atasku, sambil memasukkan Kijing ke ember, Wak
Inah menegur: “Kalau pagi habis subuh itu banyak burung bangaunya, Da. Huh,
lebih bagus lagi dari pada ini! Burung bangaunya putih-putih hinggap di pohon
kayak kapas. Uwak kalau ke sini subuh-subuh itu burungnya belum pada bangun.
Nanti kalau diteriaki, baru pada terbang, pindah tempat. Kalau matahari udah
muncul, baru mulai terbang nyari makan. Pas terbang rame-rame itu bagus banget,
Da.”

Aku
terkejut, “Loh, bangau masa tinggalnya di pohon, Wak?” tanyaku polos. Pada
musim setelah panen, aku sering melihat bangau mencari ikan-ikan kecil di sawah
yang berair seperti kolam. Mereka terbang setiap pagi dari arah barat menuju
berbagai arah tempat makanan berada. Arah yang paling sering mereka datangi
adalah arah timur dan utara. Kukira bangau hidup di hutan nun jauh dari Kali
Mbalak, ternyata di sinilah mereka hidup.

“Iya…
masa kamu nggak tau? Kan bangau kalau pulang ke arah barat. Ya itu terbang ke
sini.” Jawab Wak Inah. Ia terlihat gemas dengan kepolosanku.

“Besok
kalo ke sawah lagi pagi-pagi aku ikut ya, Wak! Mau lihat bangau tidur!”
celetukku. Saat itu aku dihantui rasa penasaran yang menggebu-gebu.

“Iya
kalau kamu udah bangun, lha wong kamu suka mbangkong!”
Ibuku tiba-tiba menyahut dengan nada ketus.

Semua
rombongan tertawa. Tetapi aku menunjukkan muka cemberut kepada ibuku.

Aku
kembali fokus pada pencarian Kijingku. Emberku masih terisi satu dua biji
kijing yang kecil-kecil. Aku harus mendapat banyak kijing hari ini! Jangan
sampai kalah sama sepupuku! Batinku dalam hati. Dari arah lain kudengar
teriakan sepupu laki-lakiku. Baru saja dia kusebut dalam hati.

“Yeay!
Aku dapat kijing besar, Mak!” teriaknya pada ibunya. Ia juga melirikku sambil
menjulurkan lidah, mengejek. Awas saja ya! Tunggu pembalasanku.

Kuakui,
sepupuku sangat lihai mencari kijing. Setiap berburu kijing, dia pasti
mendapatkan kijing gacoan, atau kijing yang besar-besar sampai sebesar telapak
tangan orang dewasa. Kami suka bersaing. Bagi kami, mendapatkan kijing sebesar
itu adalah prestasi paling membanggakan dan akan terus diceritakan saat
berkumpul, bahkan sampai lebaran tiba.

Berbeda
darinya, aku sulit sekali mendapatkan kijing yang besar. Entah aku yang sial
atau dia yang pandai mencari lokasi keberadaan para kijing, tetapi meski pun
aku telah berpindah-pindah tempat sampai lima kali, aku tetap tak mendapatkan
kijing raksasa. Paling besar hanya seukuran tiga jari orang dewasa. Sisanya,
yang kudapatkan hanya kece.

Oh
iya, belum kujelaskan padamu apa itu kece.
Sedari kecil, aku tak pernah menggunakan Bahasa Indonesia. Murni menggunakan
bahasa ibuku yaitu bahasa Jawa. Jika kerang hijau tawar yang besar dan pipih
disebut kijing, maka kece adalah sebutan untuk kerang kecil yang bentuknya
seperti kerang dara tetapi tidak bergerigi dan berwarna hitam. Kami
berkeyakinan bahwa kerang kece adalah anak dari kerang kijing. Tetapi
sepertinya mereka adalah jenis yang berbeda sebab anak kerang kijing ternyata
berbentuk seperti kerang kijing itu sendiri.

Jadi,
ada dua jenis kerang yang kami cari, yaitu kerang kijing dan kerang kece. Sudah
tertanam dalam otakku bahwa kata kece adalah simbol dari sebuah makhluk bernama
kerang. Maka ketika kata kece popouler pada masa remajaku, aku bertanya-tanya
apakah yang dimaksud dengan kece? Apakah kata kece yang berarti keren itu
terinspirasi dari kerang kece yang sering kucari saban minggu itu?

Entahlah.

Kembali
ke pencarian kerang di Kali Mbalak.

Sebagaimana
yang telah diperintahkan Wak Inah, kami menyusuri dasar sungai dari hulu ke
hilir. Jika dirasa kerang di bagian hulu sungai sudah habis, maka kami akan
turun ke hilir perlahan-lahan hingga ke jembatan Kali Mbalak. Tak jarang, pada
waktu musim kemarau dimana para kerang sedang banyak-banyaknya, sebelum sampai
jembatan, ember kami sudah penuh. Tak muat. Maka keesokan harinya, kami akan
melanjutkan perburuan dari titik kami meninggalkannya kemarin.

Jika
lelah berendam, aku dan kawan-kawanku akan berenang, saling siram,
menakut-nakuti, bahkan kejar-kejaran di dalam air. Tak jarang kami juga saling
mencuri hasil buruan dari ember para orang tua, lalu terkikik-kikik karena
mereka sama sekali tak menyadarinya. Atau mungkin sengaja pura-pura tak
menyadari. Air Kali Mbalak berwarna agak keruh, namun jika menyelam, masih bisa
melihat dasar sungai, kaki dan tangan manusia yang sedang mengorek-ngorek pasir
sungai. Seringkali tangan kami mendapati sebuah objek yang ambigu, apakah ini
kerang kijing atau ranting pohon. Oleh karena itu, kami akan menyelam untuk memastikan
objek misterius tersebut.

Jika
ember masih sedikit, kami meletakkan ember di atas air, membiarkannya
mengapung. Kalau isinya sudah mulai banyak, kami akan meletakkannya di sisi
sungai, atau menggantungkan kawat ember ke dahan-dahan pohon. Kalau tak mau
repot membawa ember, maka cukup membawa plastik atau tas karung beras yang dimodifikasi
sedemikian rupa agar bisa diselempangkan di bahu. Suka suka lah.

Biasanya,
kami berendam selama dua sampai tiga jam. Selain ember yang penuh, indikasi
lain bahwa kami harus segera mentas
dari Kali Mbalak adalah kerutan dan pucat di tangan, tanda terlalu lama berada
di dalam air. Tak jarang, anak-anak adalah golongan yang paling dulu menggigil
meski isi ember belum penuh. Maka para orang tua akan meneriaki mereka untuk
segera keluar dari kali atau pulang. Sembari menunggu orang tua, kami biasanya
bersantai di gubuk Wak Giyo dengan menghadap matahari, mencari kehangatan
sekaligus mengeringkan badan. Di sekitar gubuk terdapat buah rambutan yang jika
berbuah akan jadi rebutan. Ada juga tanaman ubi yang batang daunnya kami gunakan
untuk membuat kalung-kalungan. Bahkan, jika Wak Giyo bertepatan sedang
beristirahat, beliau akan membuatkan kami wayang-wayangan. Kalau sudah
menghangat, kami akan masuk lagi ke air, tetapi bukan untuk melanjutkan
pencarian kerang, melainkan untuk bermain.

Dua
tiga jam di dalam air bukanlah waktu yang singkat. Oleh karenanya, ketika
keluar dari air, badan terasa berat dan sempoyongan. Ingin rasanya kembali
menceburkan diri. Apalagi masih ada tangga tanah liat untuk benar-benar sampai
ke permukaan tanah. Kalau kami melewatinya dalam keadaan basah, tentu tangga
tersebut jadi licin. Anak-anak yang kurang ajar sengaja meninggalkan ember
kerang mereka agar dibawa ibunya. Si empunya ember malah ngibrit pulang
terlebih dahulu. Untung orang tua kita adalah para malaikat yang sabarnya tak
terkira. Tetap membawa double beban
dari ember anak-anak mereka meski sambil menyumpahi anak-anak mereka sepanjang
jalan.

Matahari
sudah mulai meninggi saat kami berjalan pulang. Mulut-mulut yang tadinya ramai
dengan obrolan dan pergosipan kini harus mengap-mengap mengumpulkan tenaga dan
udara sepanjang jalan. Kulit pucat, tangan dan kaki pegal-pegal. Tetapi tetap
harus berjalan karena proses pengolahan kerang masih berlanjut.

Di
sungai kecil yang terletak di belakang rumah Wak Inah, anak dari sungai
Bendungan Komering, saluran irigasi tepatnya, para orang tua beristirahat
sejenak sebelum kembali ke rumah. Di atas sungai itu terdapat pohon mangga
besar, menaungi kami dan memberi kesejukan. Mereka membersihkan diri di air
sungainya yang jernih. Kalau saja di hulu sungai tak dipakai untuk buang air
besar oleh warga yang tinggal di pinggirannya, pasti sudah kuminum air sungai
itu saking jernih dan segarnya. Waktu itu belum ada sampah, apalagi sampah
plastik. Ada, tetapi hanya satu dua sehingga airnya benar-benar masih murni.

Selain
membersihkan diri, kami juga membersihkan kerang hasil tangkapan dari lumpur
yang selama ini jadi rumah para kijing. Ada juga yang memilih langsung pulang
dan bersih-besih di rumah agar tidak menghabiskan waktu. Di bawah pohon mangga
itulah titik kami bubar. Berjalan ke arah yang berbeda menuju ke kediaman
masing-masing dengan membawa makhluk yang akan dijadikan lauk makan malam.

Setelah
dibersihkan dan dibilas, para kerang akan direndam dalam sebuah bak besar agar
kotoran yang masih tersembunyi bisa terangkat dengan maksimal. Siang hari,
setelah matahari mulai turun dari titik zenit, kerang-kerang itu akan direbus
hingga cangkangnya terbuka dan matang. Setelah matang, kerang dipisahkan dari
cangkangnya untuk dibersihkan. Nah, ini yang berbeda. Biasanya, kerang hijau
laut bisa dimakan langsung dengan cangkangnya, tetapi kerang kijing air tawar
ini harus dibersihkan terlebih dahulu dari kotorannya yang berwarna hitam. Kata
Ibuku, jika tidak dibersihkan maka siapapun yang memakannya akan keracunan.

“Kalau
nggak dibuang, nanti mendemi (beracun).”

Proses
inilah yang paling memakan waktu. Apabila ada 100 kerang, maka tangan kami akan
membesihkan sebanyak 100 kali. Bayangkan, ada berapa ratus kerang dalam satu
ember besar itu?

“Makanya,
Ibuk males ngolahin kijing. Udah capek nyari, capek mbersihinnya pula. Iya
kalau kamu mau bantu, lah malah ibuk kamu tinggal tidur.” Protes ibuku ketika
aku mengeluhkan tanganku yang mulai ngilu gara-gara membantunya membersihkan
kerang.

Setelah
dibersihkan, kerang dicuci kembali, baru setelah itu bisa dimasak dengan
berbagai jenis masakan, ada kerang ungkep bumbu ayam, ada serundeng kijing atau abon kijing, pepes kijing, atau kijing goreng
saja, sudah lezat dan gurih untuk dijadikan lauk.

Waktu
berlalu…

Lambat
laun, aktifitas mencari kijing sudah mulai berkurang seiring aku menginjak
remaja. Anak-anak sudah memiliki dunianya masing-masing dan jarang berburu
kijing di Kali Mbalak. Aku kadang masih mengunjungi sungai Mbalak bersama ibuku
untuk tilik sawah yang terletak tak
jauh dari sana. Ketika aku SMP, tren mencari kijing berubah menjadi tren
berburu ikan. Jika dulu mayoritas pencari kijing adalah ibu-ibu, maka pemburu
ikan didominasi oleh bapak-bapak. Cara berburu yang digunakan pun
bermacam-macam. Ada yang berburu ikan dengan setruman yang dirakit sendiri,
pancing, atau jaring nelayan. Jika dulu, kami berburu kijing di pagi hari, maka
bapak-bapak berburu ikan di sore hari setelah dzuhur menjelang ashar.

Memang
masih ada yang mencari kijing di Kali Mbalak, tetapi tidak banyak. Itupun dua
minggu sekali, atau sebulan sekali. Kijingnya juga masih melimpah. Tetapi
karena zaman semakin maju, anak-anak bertambah besar, orangtua mulai lemah
tenaganya, dan makanan mulai beragam jenis dan variannya, maka kerang kijing
seperti hilang popularitas.

Hingga
terjadilah sesuatu yang bisa disebut sebagai kepunahan kerang kijing dari Kali
Mbalak. Karena setelah peristiwa itu, tak ada yang berani memastikan apakah
kerang kijing masih mendiami Kali Mbalak atau tidak. Maka sebut saja peristiwa
ini sebagai kepunahan Kali Mbalak. Sayangnya, aku tak menyaksikan langsung
peristiwa itu karena aku sedang menempuh pendidikan SMA-ku di Pondok Pesantren
pada tahun yang sama.

Aku
baru tau kisah itu tatkala kembali ke rumah untuk liburan semester tahun kedua.
Tiba-tiba aku rindu makan kerang kijing, atau lebih tepatnya ingin bernostalgia
main air dan lumpur di Kali Mbalak sekalian refreshing dari kehidupan pondok
yang begitu menyesakkan.

“Buk,
ayok ke Kali Mbalak nyari kijing lagi. Aku kepengen
makan kijing, Buk!” kataku ketika sedang membantu ibuku mencuci piring.

“Di
Kali Mbalak udah nggak ada kijingnya sekarang!”

“Loh,
masa? Beneran, Buk?” Tanyaku panik. “Kok bisa, Buk? Kenapa? Emangnya kerangnya
punah, Buk? Atau kalinya diapakan sama orang?!”

“Kalau
orang sini pasti sayang sama Kali Mbalak, Mbak. Karena itu adalah sumber
makanan kita kalau musim paceklik. Nggak mungkin warga akan ngelakuin sesuatu
yang berbahaya. Kalau kali Mbalak di apa-apain sama warga, pasti ya imbasnya
kembali ke warga juga,”

“Lah,
terus kenapa kok bisa punah, Buk?!” Nada suaraku meninggi, tak sabar menanti
jawaban Ibuku.

“Masak
kamu belum tau ceritanya? Sampai geger loh!” Ibuku balik tanya.

“Lah,
kan aku di pondok, Buk. Mana aku tau ceritanya. Ibuk juga nggak pernah cerita. Emangnya
ada apa, to Buk?”

“Kali
Mbalak sekarang isinya Lintah Mbak! Hih! Ngeri ibuk kalau inget!” Ibuku
bergidik.

Aku
terkejut bukan main. Mana mungkin kerang bisa berubah jadi lintah? Apa yang
sebenarnya telah terjadi pada kali kesayanganku? Siapa pelaku dari kejadian
ini? Bagaimana mungkin aku tak mengetahui ceritanya?

Dengan
muka cemberut dan agak kesal, barangkali teringat betapa berharganya Kali
Mbalak, ibuku pun bercerita. “Waktu itu, Pondok Pesantren di seberang jalan
besar sana (bukan pondok pesantren yang kutempati) membuka jasa pengobatan
alternatif menggunakan lintah. Katanya, ada seorang santri yang baru belajar
pengobatan ini di Jawa sana dari tabib yang sangat ampuh. Penyakit parah bisa
sembuh dengan pengobatan lintah. Hasilnya mirip dengan bekam dan pengobatan
alternatif lain, lah. Maka mulailah pondok mempromosikan pengobatan itu. Yang
berobat banyak, karena harganya juga terjangkau, yang datang juga dari berbagai
daerah dan katanya hasilnya memang cukup manjur. Meskipun banyak juga
orang-orang yang skeptis dengan metode pengobatan semacam itu. Ibuk sebenernya
juga ragu. Tapi ya, namanya orang usaha ya biarlah.

Tapi
kalau dari sisi medis dan ilmu pengetahuan, ibuk lihat di tivi, memang lintah
mampu menghisap darah kotor dari tubuh manusia. Jadi, Ibuk ya percaya-percaya
saja sih. Tapi kalau disuruh nyoba, ibuk ogah, ndak mau. Wong lihat pacet (hewan pengisap darah, mirip
lintah, tetapi berukuran lebih kecil) yang kecil aja sudah jijik apalagi pakai
lintah yang besar-besar, uget uget. Hih.”
Ibuku menggerak-gerakkan bahunya seolah hewan kecil itu ada di depannya.

“Terus
gimana, Buk?” tanyaku tak sabar.

“Nah
itu masalahnya. Habis dibuat terapi, santri tadi bingung mau buang lintahnya
kemana. Mau dibunuh katanya susah mati, pun kalau mati itu isinya darah
penyakitnya orang. Bisa bahaya kalau kena, terus nular. Terus mereka nyari
tempat buat membuang si lintah ini. Pas kejadian, dipergokin sama Wak Giyo. Waktu
mau pulang ke rumah siang-siang, pas dzuhur, Wak Giyo liat dua orang pakai
sarung, baju koko, sama kopiyah bawa plastik item, isinya lintah yang dibuang dari atas jembatan Mbalak. Karena
penasaran, sama Wak Giyo diteriakin ‘Woi! Apa itu yang dibuang?!’ waktu
diteriaki, dua orang itu panik dan plastik itu spontan dilemparin ke sungai.
Dua orang itu langsung tancap gas pergi dari jembatan. Wak Giyo yang curiga
langsung ngecek, tapi plastik berisi lintah-lintah tadi udah terlanjur
tenggelam dan hanyut kebawa arus. Wak Giyo nggak bisa nyegah kejadian itu. Wak
Giyo langsung pulang lapor Pak Lurah, hingga terkuaklah motif pembuangan lintah
itu.”

Aku
menyimak kisah itu dengan geram. “Tapi kenapa harus di Mbalak Buk?! Kan Mbalak
itu sungai kecil, sungai buangan. Kalau satu sisi tercemar, pasti semuanya
cepat tercemarnya, Buk!”

“Ya
justru karena sungai itu dikatakan sungai buangan, maka orang tadi ya mbuangnya
di situ. Mungkin dipikirnya itu memang murni sungai buangan.”

Aku
menghentikan cuci piringku. Tak terima dengan apa yang baru saja kudengar. “Emang
lintahnya beneran jadi banyak, Buk?”

Ibuku
menghela nafas “Kalo nggak percaya, sana ke kali. Nggak usah ke kalinya, deh.
Kamu berdiri di pinggirannya, di rumput-rumputnya. 5 menit aja, nggak usah
lama-lama. Pasti ada lintah atau pacet yang nempel di badanmu.”

Aku
ingin sekali menangis. Pertama, karena ulah dua orang asing itu, aku tak dapat
menikmati keindahan sungai Mbalak seperti dulu lagi. Padahal aku berniat untuk
nostalgia sekaligus mencari inspirasi untuk tulisanku di sana. Mereka telah
berbuat dzolim pada sungai kesayanganku,
pada warga desaku! Aku benar-benar tak terima.

“Terus
santri tadi nggak ditindak, Buk?!” tanyaku masih dengan hati yang berapi-api.

“Udah.
Wak Giyo sama Pak Lurah udah ke sana, tapi santri yang dimaksud itu nggak ada
yang ngaku atau gimana, lah ceritanya ibuk juga nggak terlalu paham. Atau pak
kiyainya minta maaf ya, ibuk lupa. Tapi ya mau gimana lagi, mau semarah apapun
sama mereka, itu sungai udah nggak bisa dirubah kayak semula. Kata Wak Giyo ya husnudzon aja, mungkin memang mereka
bener-bener nggak tau kalau sungai itu sebenarnya jadi penghidupan warga. Emang
ada yang mau mbersihin lintah yang habis nyedot penyakit orang lain? Yang ada
malah beresiko tertular.”

“Tapi,
Buk… itu kali banyak sejarahnya loh! Dari nenek kakek pertama pindah ke Sumatera,
itu kali udah jadi sahabat mereka!”

“Yaa
mau gimana lagi? Kamu mau mbersihin lintahnya?”

Aku
tak menjawab, malah menangis. “Nggak mau lah!”

“Udahlah,
mungkin memang sejarah Kali Mbalak memang hanya sampai disitu. Toh masih bisa
digunakan buat jadi sungai pembuangan irigasi. Dah ah! jangan nangis kayak
bocah!” Ibuku menggelengkan kepala karena sudah pasrah melihat tingkah
kekanakanku.

Aku
terduduk di kursi ruang makan. Tubuhku lesu. Rasanya ingin sekali menangkap dua
orang itu! Kurang ajar sekali mereka! “Kijingnya masih ada nggak ya, Buk?”
Tanyaku pelan di antara isak tangis.

“Mungkin
masih ada, tapi resikonya kamu dimakan lintah, Mbak!” Jawab ibuku sambil
meneruskan cuci piring yang kutinggalkan. “Udah. Yang udah terjadi jangan
ditangisin! Nggak baik! Air matamu nggak akan menghilangkan lintah-lintah itu.
Toh selain lintah, memang kali Mbalak sudah tercemar. Sekarang orang-orang di
sawah pakai pupuk dan obat macem-macem. Nggak kayak dulu. Itu obat udah
mencemari air, kijing-kijing itu juga pasti ikut tercemar. Kita yang makan juga
sangat beresiko untuk tercemar. Jadi mungkin memang itu akhir perjalanan Kali
Mbalak kita. Dan itu bukan semata-mata salah santri tadi. Kita juga harusnya
bertanggungjawab sama pencemaran airnya.”

Aku
menyimak jawaban ibu dengan seksama. Benar juga apa yang dikatakannya. Tetapi
ada satu titik di hatiku yang tak bisa menerima peristiwa itu.

“Kalau
kamu mau nekat ke Mbalak sekarang, nyari kijing, ibuk nggak sudi makan
kijingnya. Udah terkontaminasi.” Tegas ibuku.

Aku
masih terdiam. Teringat semua kenangan manis bersama kali Mbalak. Sulit sekali
rasanya merelakan peristiwa ini.

Padahal
aku ingin sekali berendam di airnya yang segar, mengais-ngais pasir sungai,
merasakan gundukan kerang kijing besar di selipan jari kakiku, sambil menatap
pepohonan rindang di atasku. Lalu mendengar celotehan burung-burung, atau
kikikan para tupai. Aku benar-benar merindukan suasana itu. Tetapi, mungkin
memang terkadang rindu tak memiliki obat. Yang membuat kita merindu tak bisa
menyembuhkan kerinduan itu. Ia membiarkan kerinduan terus melukai sampai kita
sembuh sendiri. Istirahat dengan tenang ya Kali Mbalak, meski bukan lagi bersama
para kijing dan ikan-ikan kecil, melainkan bersama para lintah dan polusi yang
kini menjadi penghunimu.

Malang, 07 Maret 2023

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp