Tradisi " Endog-endogan " dalam acara Maulid Nabi di Desa Ketapang sebagai bentuk Dakwah Kreatif

                                            Oleh : Muh. Sabilar Rusydi                                               

 Maulid Nabi adalah salah
satu acara religi di Bulan Rabi’ul Awal yakni dalam memperingati hari lahirnya
Baginda Nabi Muhammad SAW. Maulid Nabi juga akrab disebut dengan Muludan di
kalangan masyarakat. Merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah sebagai
salah satu bentuk rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Habib Luthfi bin Yahya
pernah berkata bahwa salah satu tujuan maulid adalah syukur karena dengan
adanya Rasul maka kita mengenal Allah, agama, dan akhlak. Akan tetapi, beberapa
kubu sebelah mengemukakan bahwa Maulid itu bid’ah karena belum pernah dinukil
dari kaum Salaf saleh yang hidup pada tiga abad pertama seperti apa yang
dikatakan oleh Al-Fakihani yakni ulama dari kalangan Madzhab Maliki yang
berpendapat bahwa amaliah Maulid adalah bid’ah yang tercela dan belum ia
ketahui dalilnya sama sekali, baik dalam Al-Qur’an maupun Hadits. Berbeda
dengan AL-Fakihani, dari kalangan Aswaja berpendapat bahwa maulid memang bid’ah
tetapi bukan termasuk dari golongan bid’ah yang tercelah melainkan bid’ah
hasanah (terpuji). Hal ini didasarkan pada pendapat Imam As-Suyuthi yakni
نفي العلم لا يلزم
منه نفي الوجود
(Tiadanya dalil (dari al-Qur’an dan Hadits) tidak selalu
menunjukkan bahwa suatu perkara itu tidak boleh ada (dilarang untuk diadakan).
Imam Suyuthi juga menambahkan bahwa maulid ini memang bid’ah yakni sesuatu yang
baru diadakan oleh sang raja yang adil dan alim. Maulid juga memiliki beberapa
tujuan, salah satunya yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan dalam
acara maulid juga dihadiri para ulama’ dan orang-orang shaleh yang tiada
mengingkari keberadaan maulid ini.

            Atas beberapa dasar itulah beberapa
ulama’ di Indonesia memutuskan untuk merayakan keahiran nabi muhammad tersebut
membentuk sebuah tradisi yaitu tradisi Mauludan. Tradisi mauludan di setiap
daerah berbeda, seperti di banyuwangi merayakan maulid dengan sebuah tradisi
“Endog-endogan”. Tradisi Endog-endogan merupakan sarana dakwah kreatif yang di
dalamnya ada implementasi dari beberapa metode dakwah baik bil-lisan,
bil-qalam,
dan bil-hal. Perayaan maulid dengan tradisi endog-endogan
merupakan salah satu fenomena sosial keagamaan yang menggambarkan eksistensi
budaya lokal dengan nuansa keagamaan dan diwariskan secara turun-menurun pada
masyarakat Banyuwangi.

            Endog sendiri berasal dari Bahasa
Jawa yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah telur. Tradisi
endog-endogan ini bukan hanya dilakukan di desa Ketapang akan tetapi juga
dilakukan di seluruh daerah Banyuwangi. Tradisi endog-endogan memiliki ciri
khas yakni telur-telur dibungkus dengan kertas hias yang kemudian diikatkan
pada tusukan bambu yang menusuk jodang, yakni batang pohon pisang. Jodang juga
dihias sedemikian rupa dengan kertas hias berwarna-warni. Dalam satu jodang
berisi puluhan telur sesuai dengan desain pembuat jodang masing-masing.
Kemudian jodang tersebut diarak keliling kampung dengan cara dinaikkan ke atas
becak atau ada juga yang dipanggul seperti ogoh-ogoh dan arak-arak ini diiring
dengan alat musik seperti patrol, terbang, dan lain sebagainya. Setelah diarak
keliling kampung, jodang diletakkan di dalam dan serambi masjid yang kemudian
dilaksanakan pembacaan maulid yang dilanjutkan mauidhoh hasanah serta ditutup
dengan pembagian telur.

            Tradisi endog-endogan muncul sejak
abad 18 yakni setelah masuknya agama Islam ke wilayah kerajaan Blambangan.
Konon kisah awal tradisi endog-endogan ini karena adanya pertemuan di Bangkalan
antara KH. Kholil dengan KH. Abdullah Fakih yang dalam pertemuan tersebut KH.
Kholil mengatakan bahwa kembange Islam wis lahir (bunganya Islam telah
lahir) di Nusantara yang dimisalkan dengan telur. Dan arti telur tersebut
adalah lambang NU, sementara isi telu melambangkan amaliyah NU.

            Selain itu, Tradisi endog-endogan
memiliki makna filosofi tersendiri. Endog (telur) terdiri dari tiga
lapisan, yakni kuningan, putihan, dan cangkang. Kuning telur merupakan bagian
terdalam telur yang melambangkan embrio proses kehidupan dan diibaratkan
sebagai IHSAN dalam kehidupan. Putih telur merupakan pembungkus dan pelindung
telur yang diartikan bahwa setelah adanya IHSAN maka terbentuklah suatu
keyakinan yakni ISLAM. Cangkang telur merupakan pelapis teluar yang melindungi
kuning dan putih telur yang diibaratkan sebagai IMAN. Kemudian telur tersebut
ditancapkan ke jodang yang diibaratkan sebagai manusia yang ditancapkan iman,
islam, dan ihsan dalam dirinya. Iman, islam dan ihsan adalah harmonisasi
risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang jika ditancapkan dalam diri
manusia akan tercermin kepribadian Nabi Muhammad SAW.

            Tradisi endog-endogan dalam era saat
ini sudah mengalami perubahan yang mana telur yang dihias dan ditancapkan pada
jodang sudah berubah menjadi berbagai model seperti telur yang dihias kemudia
diletakkan dipohon dengan desain telur yang berada pada sangkar di pohon dan
masih banyak juga model lainnya.


Dokumentasi


Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp