CEMARA YANG TUMBANG II

Oleh Syifaul Fajriyah 

 

    Siang itu yang terik, aku pulang dari membeli perlengkapan untuk calon buah hati kita. Kandunganku kini sudah memasuki 8 bulan. Dan sudah dipastikan oleh Dok Nin, anakku termasuk kaum hawa.

Mobil bewarna silverku telah mendarat di garasi rumah. Nampak, mobil yang sama denganku namun bewarna hitam parkir disampingku. Oh, ini mobil Dok Nin yang katanya hadiah dari kekasihnya. Cantik juga ya, batinku. Ku ambil barang bayi yang ada di bagasi mobil, sambil dibantu oleh Bi Nera yang jadi teman belanjaku hari ini. Sebab, Mas Bagas sibuk dengan kantor dan segala kesibukan CEO. 

Ku langkahkan kaki menuju ruang tengah, terkejut aku dibuat. Bagaimana tidak, semua berantakan seperti kapal pecah. Pikiranku pun juga sudah kemana-mana, aku khawatir ada perampokan dan Nina disandra. Bi Nera yang berdiri di belakangku bergegas mengambil pisau dapur. Tanpa pikir panjang, aku mengendap-endap menuju kamar tamu milik Nina. Pemandangan siang itu membuatku terkejut, pikiran ku mengenai perampokan ternyata tak terbuktikan. Tapi memang Nina sedang disandera dalam tanda kutip. Bukan dengan perampok melainkan dengan Mas Bagas. 

Pertengkaran rumah tangga pun terjadi. Aku memutuskan untuk Stay dirumah peninggalan ibu ini. Dan Mas Bagas memutuskan untuk ke hotel sebagai rumah keduanya. Suamiku itu masih menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami. Karena kami belum boleh bercerai sebab aku masih mengandung anaknya. Bersabarlahuntuk  27 hari lagi Elyn.

Impianku saat ini adalah menjalin kehidupan bahagia bersama sang buah hatiku sambil mengelola butik Ibu. Namun impian itu memudar, bayi yang ku kandung telah tiada saat proses melahirkan. Dokter pengganti Nina mengatakan, kandunganku lemah karena stres yang kuterima. 

Tamat

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp