SANTRI, MAKHLUK BERTEKNOLOGI

Oleh Hariski Romadona S

            Pernahkah Kalian melihat
pemberitaan media, rapat anggota dewan sering kosong melompong ? juga
mereka yang berkenan datang juga asyik bersenda gurau dan main gadget
masing-masing. Dari yang sekedar berjejaring sosial, hingga streaming youtube.
Di kendaraan, angkutan dan bus umum misalnya, rasa bosan dan dan lelah banyak
dihabiskan dengan aktivitas bermedsos ria. Ketika handphone atau smartphone
atau Iphone belum dikenal masyarakat, antara penumpang kanan dan kiri saling
bertegur sapa dan berbincang-bincang kesana kemari. Entah itu bercerita tentang
saudara, bertukar pengalaman, atau sekedar basa-basi saja. Dengan
berkembangnya zaman dan dan media sosial sudah bertebaran di masyarakat, kondisi
tersebut berbalik 180°. Yang tadinya tegur sana-sini ini malah mengandung atau
menimbulkan rasa curiga. “jangan-jangan Pencopet, atau penjahat “. Waktu
dihabiskan dengan gadget ditangan masing-masing. Kepekaan sosial dan interaksi
sosial lama-lama yang punah dan manusia telah menjadi makhluk individu kalau
kata orang Jakarta “Loe loe, gue gue”. 

            Dalam dunia pendidikan
telah menjadi rahasia umum banyak pelajar yang aktif chattingan daripada
menyimak pelajaran. Misalnya di era pendemi sekarang ini, di sekolah maupun
kampus menerapkan pembelajaraan secara virtual (daring). Terkadang para siswa
atau mahasiswa mengikuti kelas hanya sekedar menyalakan zoom lalu kamera
dimatikan dan main medsos lagi. Dan yang lebih parah ditinggal tidur.Lalu
bagaimana dengan pesantren? Meskipun tidak banyak virus gadget juga mulai
merambah ke kalangan Santri. Bab Facebook, bab Twitter, bab Instagram, dan bab whatsapp, di
mata kalangan santri sudah tidak asing lagi. Hal inilah yang menjadi salah satu
supplier yang menjadikan mereka malas. imbasnya, PR dan ujian akhir telah
menjadi ajang kerjasama antar siswa dalam kelas.

            Dengan berbagai aplikasi
di dalamnya dan fitur-fitur yang sangat lengkap telah  menjadi kebutuhan
primer khususnya golongan muda. Masa yang sesungguhnya tergolong dalam
usia produktif untuk berkarya. Dimanapun dan kapanpun keadaan gadget itu ibarat
pacar atau pasangan,  harus selalu ada
mendampingi setiap langkah kita. Maka timbullah yang namanya syndrome nomophobia.
ketakutan dan kekhawatiran karena tidak ada gadget. Separah itukah kita ?

            Di Indonesia sendiri,
informasi sekarang mudah didapat dan jaringannya begitu luas. Meski terdapat
dalam konteks bebas dan bertanggung jawab namun kebebasan telah menjadi
landasan. Sedangkan  jika tanggung jawab menjadi urusan belakangan dan dikesampingkan,
maka hal ini akan menimbulkan suatu masalah. Ditambah lagi kontrol terhadap IT
serta dunia maya kurang maksimal. Tidak heran jika pengguna internet dengan
leluasa melakukan upload foto dan video, menulis status, bullying bahkan
dan bahkan bisa mengakses film porno. Kepuasan itulah yang dicari para
pengguna internet, mereka mencari kesenangan dengan bermain dan bermedsos ria.
Tanpa mereka sadari, waktu
mereka akan habis hanya berkaca pada gadget.

Dakwah Lewat Medsos 

            Bergadget ria telah
menjadi wirid wajib di masyarakat di era modern sekarang. Sudah menjadi naluri
para kalangan muda juga pesantren untuk bisa mengikuti perkembangan zaman
dengan adanya gadget. Dibalik keasikan dari gadget tersebut sebenarnya
tersimpan berbagai problem karakter. Penguatan nilai agama menjadi sangat
penting dilakukan sedini mungkin dimana usia kanak-kanak saja sudah mengenal
gadget. 

            Sayangnya penyampaian
agama selama ini masih kurang maksimal. Hanya lembaga pesantren yang terus
eksis menjaga dan menegakkan agama lihat pendidikan dan amaliyahnya. Walau
demikian, sistem yang digunakan Pesantren ternyata belum sepenuhnya mampu untuk
menjawab tuntutan zaman. Ditambah lagi problem internal yang sering
menggoyahkanya. 

            Dakwah di Indonesia dakwah
di Indonesia sendiri khususnya memang mengalami perkembangan titik sejak zaman
dahulu, berbagai peringatan keagamaan diisi dengan ceramah agama. Era 90-an
kita mengenal KH. Zainuddin MZ yang berjuluk Dai Sejuta Umat. Selain berpidato
di mimbar mimbar umum, di hadapan masyarakat, ceramah Kyai Zainuddin juga
sering diputar di Stasiun Radio seluruh Indonesia. Setelah itu ada juga Kyai
Haji Abdullah Gymnastiar,Ustad Jefri Al Buchori dan ustad-ustad yang berdakwah
di televisi.

            Selain  radio dan
televisi, modern ini dakwah juga banyak disampaikan melalui internet. Entah
jejaring sosial Facebook, Instagram maupun YouTube telah banyak ditemukan. Dari
sekedar berbagai kata mutiara hadis dan juga lagu-lagu Islami tutorial praktek
ubudiah hingga khotbah Jum’at banyak disiarkan online. Seperti di Pondok
Pesantren Darun Nun,  di mana Pesantren
ini fokus terhadap literasi dan dan bahasa. Para santrinya setiap seminggu
sekali mendapatkan jadwal piket menulis dan hasil karyanya aakaan di upluad di
website pondok da bisa dibaca oleh khalayak umum. Tanpa disadari mereka itu itu
bisa dibilang sudah berdakwah lewat medsos karena tulisannya bisa di dibaca
oleh khalayak umum dan bisa memberi manfaat.

            Penting memang mengikuti
arus yang demikian, guna membendung pengaruh pengaruh berbagai media dan
internet yang begitu besar. Terlebih di luar sana begitu banyak produk
teknologi yang hanya mementingkan pemasaran dan kesenangan masyarakat. Game, medsos,
dan fitur serta aplikasi yang bisa melenakan. Untuk itu para santri dan
Pesantren harus mampu berinovasi agar mampu menjawab tantangan zaman. Mengikuti
dan mengarahkan arus laju perkembangan teknologi.

            Pesantren sebagai lembaga Tafaqquh fiddin
semestinya lebih berhak untuk menyampaikan permasalahan agama kepada khalayak
umum. Dengan pembelajaran ilmu agama yang mendalam, pemahaman akan sebuah problematika
semakin rumit, Inovasi dan keterbukaan modernitas  menjadi kuncinya

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp