Oleh: Alvian Izzul
Pernahkah kalian ketika ingin melakukan sesuatu dan kalian
mempunyai gambaran bahwa sesuatu tersebut berjalan dengan baik, karena hal
tersebut sudah kalian persiapkan dari jauh-jauh hari, sudah diperhitungkan
dengan matang, dan berekspetasi bahwa hal tersebut akan berjalan dengan baik
dan lancar. Penulis sendiri pernah bahkan sering, meskipun tidak semua hal itu
berjalan dengan baik sesuai ekspetasi. Terkadang ekspetasi kita tidak sesuai
dengan realita yang terjadi.
Ketika ekspetasi yang kita
harapakan berbanding terbalik dengan realita yang terjadi, akan menjadikan kita
tidak bahagia, cemas, bahkan stress dan timbul berbagai perasaan negatif
lainnya. Pada hakikatnya emosi kita baik yang kita rasain positif atau negatif
itu adalah hasil dari ekspetasi kita. Kalau seandainya kita berekspetasi bahwa
hal yang kita lakukan itu akan berjalan dengan baik, tapi pada akhirnya hal
tersebut tidak berjalan dengan baik maka
kita akan merasakan kesedihan yang lebih dibandingkan ketika hal tersebut tidak
berjalan dengan baik dan kita tiak mengekspetasikan apapun.
Dibandingkan kita berekspetasi hal-hal yang positif, Aliran
stoicism justru mengangaggap bahwa ekspetasi yang terbaik adalah ketika kita
memiliki ekspetasi yang terburuk dalam memandang masa depan. Yang menjadi
pertanyaan adalah kenapa kita diharuskan berekspetasi buruk? Ketika kita
berekspetasi buruk, nanti kita akan berfikir negatif akan masa depan.
Sebenarnya tujuan dari berfikir negative itu, agar kita menjadi siap menghadapi
hal buruk apapun yang akan terjadi.
Rumus yang sederhana yang dapat kita ambil dari aliran Stoicsm ini
adalah kita membangun dan merencanakan sesuatu dengan sebaik mungkin, dengan
berekspetasi atau melihat kemungkinan terburuknya, dan megetahui akiabat buruk
yang ditimbulkan, sehingga kita sudah siap akan masalah yang akan kita hadapi.
Dega kita megetahui resiko atau ekspetasi terburuk dari apa yang telah kita
rencanakan, maka kita dapat belajar juga memperbaiki apa yang sudah terjadi.
Walaupun aliran/pandangan ini terkesan pesimis, justru sebaliknya
suasana yang diciptakan akan positif bagi diri kita. Kita jadi lebih bisa untuk
fokus ke proses dan hal yang akan kita jalani, dimana hasil dari apa yang telah
kita usahakan tidak bisa kita kontrol atau tidak bisa kita tentukan. Sehigga
ketika kita fokus terhaap proses, maka kita menjadi siap dengan segala
kemungkinan yang terjadi ketika kita
berproses nantiya.
Padangan ini juga selaras dengan ajaran didalam agama kita,
sebagaimana yang telah disebutkan dalam QS. surat al-Hadid ayat (22-23) Menurut
Prof. Dr. Quraish Shihab pada kitab Tafsir al-Misbah, menganjurkan untuk tidak
terpengaruh dengan gemerlap duniawi, karena sesungguhnya ayat tersebut
mengingatkan manusia jangan terlalu risau dengan apa yang mungkin dibisikan
setan menyangkut dampak negatif berinfak dan berjuang. Sebab tiada suatu
bencanapun yang menimpa kamu atau siapapun di bumi, seperti kekeringan,
paceklik, longsor, gempa, banjir, dan tidak pula pada dirimu sendiri, seperti
penyakit, kemiskinan, kematian, dan lain-lain, melainkan sudah tercatat dalam
kitab yakni Lauh Mahfudh.
Maka Allah mengingatkan kepada makhluknya untuk tidak bersikap
sombong hingga lupa daratan, begitu pula Allah juga tidak menyukai orang yang
berputus asa akibat kegagalan. Karena sesungguhnya musibah itu bisa buruk dan
bisa menyenangkan. Jadi QS. al-Hadid (57): 22-23 ini, menjelaskan hakikat
musibah yang bertujuan menempa manusia dan telah tertulis dalam kitab Lauh
Mahfuzh.
Maka kita sebagai seorang muslim harus dapat mengelola apa yang
telah terjadi, sedang terjadi, dan yang akan terjadi sebaik-baiknya,
menjadikannya syukur, sabar, dan tawakkal aka napa yang telah kita usahakan.
Dan janganlah bersedih atas apa yang telah terjadi, karena itu merupakan hak
periogratif-Nya, kita berusaha Allah yang akan menentukan hal yang terbaik
untuk kita.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







