CITA-CITA DAN PETAKA

Oleh: Fitriatul wilianti

Namaku Ros, gadis desa yang lahir dari keluarga yang serba
kekurangan. Aku anak sulung dari 7 bersaudara. Adik-adikku perempuan semua,
kecuali adik bungsuku dia laki-laki sendirian. Mereka semua kebanyakan masih kecil, rata-rata duduk di bangku sekolah Dasar. Bapakku bekerja sebagai seorang
buruh tani jagung, sedangkan Ibuku telah meninggal 3 tahun yang lalu ketika aku
duduk di bangku SMP kelas 3. Ibuku meninggal karena kanker lambung yang cukup
parah sehingga sulit diselamatkan serta didukung oleh keberadaan rumahku di
pelosok desa dan kurangnya pemasukan sebagai biaya pengobatan.

Sekarang aku duduk di bangku SMA kelas 3, aku merupakan salah satu
siswi pintar di kelas. Selama tiga tahun di SMA aku meraih juara 1 kelas
berturut-turut. Begitupun sebelum-sebelumnya ketika masa sekolah Dasar sampai
sekarang rangking ku tidak pernah turun. Aku bersekolah disatu-satunya SMA di
Desa seberang, SMA Negeri Donggo.

Dipenghujung terakhir SMA, tentu saja aku dilema seperti
teman-teman lainnya. Aku bertanya-tanya bagaimana nasibku kedepannya. Apakah
aku melanjutkan pendidikan di kampus impian atau tetap di rumah membantu bapak
menjadi tulang punggung keluarga dan menghidupi adek-adek dan hal itu merupakan
pilihan sulit bagiku. Berbeda dengan anak-anak lain yang tinggal memilih
diantara dua pilihan antara melanjutkan kuliah dikampus yang ini atau yang itu,
Pilihanku malah lebih berat, apakah aku akan melanjutkan kuliah atau tinggal
dirumah menghidupi adik-adikku.

Jika mengikuti keinginan dan hati, aku sangat ingin melanjutkan
kuliah, dan kampus tujuanku adalah Universitas Negeri Hasanuddin Makassar. Dan
banyak dari guru-guruku yang mendukungnya, karena nilai-nilai serta prestasiku
semasa sekolah sepertinya cukup memperkuat aku untuk diterima di kampus itu. Dan
tinggal menunggu persetujuan dari bapak. Dilihat dari watak bapakku hanya ada
satu kemungkinan, aku pasti diijinkan kuliah keluar daerah, karena bapakku
tidak perlu membiayainya dan beliau yakin beasiswa pasti bisa menjadi jalan
keluar pendidikan ku kedepannya seperti sebelum-sebelumnya.

Akan tetapi walaupun kelihatannya hanya tersisa seorang bapak di
keluargaku, aku masih memiliki keluarga lain yaitu saudara dari bapakku yakni bibi
dan paman di dekat rumahku dan juga tetangga-tetangga sekitar rumah. Karena aku
tinggal di Desa, menjadi hal yang wajar jika segala sesuatu dalam kehidupan akan
berkaitan dan menjadi urusan tetangga atau sekitarnya. Karena apapun yang akan
kamu lakukan komentar dan masukan tetangga akan sangat berpengaruh dalam
keputusan keluarga juga. Jadi walaupun bapakku menyetujui untuk aku melanjutkan
kuliah di UNHAS akan tetapi masukan keluarga lain dan tetangga sangat
mempengaruhi dan dapat merubah pola pikir bapakku. Apalagi di desaku sangat
jarang anak-anak seumuranku yang melanjutkan kuliah, mereka ada yang langsung
menikah atau pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Dan hal itulah yang akan
menjadi masalah lain yang mempengaruhi kelanjutan pendidikanku. 

Sebelum aku
naik kelas tiga SMA, aku sudah didatangi oleh salah satu pemuda yang 5 tahun
lebih tua dariku. Dia adalah salah satu anak orang kaya di Desa, ia memiliki
beberapa toko yang dibangun dipusat perbelanjaan di kota. Akan tetapi aku tidak
tertarik dengannya karena sifat dan juga latar belakang keluarganya yang jauh
bertolak belakang dengan keluargaku, dan yang paling penting adalah aku belum
tertarik untuk menikah karena umur yang masih 18 dan cita-cita yang belum aku
gapai. Walaupun kebanyakan teman-temanku sudah menikah, bahkan tamatan SMP di
Desaku ada yang langsung didatangi laki-laki untuk dipinang.

Tetapi karena kabar datangnya laki-laki kerumahku sudah terdengar
sampai kesetiap rumah tetangga dan termasuk bibi dan pamanku. Tentu saja itu
merupakan kabar baik untuk mereka, karena dengan adanya pernikahan, aku tidak
perlu melanjutkan pendidikan, cukup dengan menikah aku bias membantu mengurus
adik-adik bersama bapak, apalagi laki-laki yang datang melamarku dari keluarga
kaya, jadi sangat bisa menutupi kekurangan keluargaku. Faktor pendukung lain
yang memaksaku untuk tetap dirumah/ menikah dan tidak melanjutkan pendidikan
adalah karena bapakku yang akhir-akhir ini mulai sakit-sakitan. Beliau mulai
cepat lelah dan beberapa kali ditemukan pingsan di ladang tempat ia menjadi
buruh tani. Dan belum dipastikan sakit apa yang dialami bapakku karena belum
pernah diperiksa dokter. Beliau hanya minum obat-obat sakit kepala yang ada di
warung.

Hingga tiba waktunya, suatu hari aku memberanikan diri bertanya
kepada bapakku mengenai ijin darinya tentang keinginanku melanjutkan kuliah. Saat
itu bapakku sedang istrahat, aku menghampirinya di kamar dan beliau dengan
sangat enteng mendukung dan memberi ijin untukku lanjut kuliah. Meski ada rasa
ragu karena kesehatan bapak, aku tetap mengikuti kata hati yaitu melanjutkan
kuliah. Dan tibalah hari dimana aku meninggalkan rumah yang dilepas dengan
senyuman bangga dari bapak dan tangisan haru dari adik-adikku. Walaupun masih
ada tatapan kekesalan dari paman dan bibiku juga beberapa tetangga karena perkataan mereka tidak ku dengarkan, tetapi aku tetap mengikuti kata hati dan melanjutkan
perjalanan menuju pendidikan tinggi dan kampus impian “Universitas Negeri Hasanuddin
Makassar.

Perjalananku menuju kota Makassar menggunakan kapal laut selama 2
hari. Dan di hari kedua tepatnya hari ini Rabu 20 Juli 2021 ditengah keramaian
kapal, aku menerima kabar duka yang sangat menyayat hati yaitu Bapak yang aku
cintai meninggal dunia ketika sedang bekerja, beliau tiba-tiba pingsang ketika
memikul sekarung jagung dan kepalanya tertimpa karung jagung yang ia pikul itu.
Mendengar berita tersebut hatiku sangat hancur, penyesalan betubi-tubi
menghantamku, ditambah dengan suara tangis adik-adikku lewat telepon dan
kalimat penusuk terakhir dari paman “bapakmu telah meninggal, kamu tidak
usah pulang, lanjutkan saja cita-cita egoismu itu”.
Aku tidak bisa
berkata-kata lagi, rasa sesal dan tangisan memenuhi seisi kapal.

Sekarang aku hanya akan kembali pulang dan mengantarkan ayah
diperistrahatan terakhirnya kemudian melanjutkan kehidupan dan menghidupi
adik-adik, bekerja keras untuk merubah kehidupan keluarga, dan menjadikan
adik-adikku orang sukses yang berpendidikan sehingga dapat merubah kehidupan
keluarga dan membanggakan bapak dan ibu yang telah membesarkan kami semua. Dan
dari sekarang cita-citaku akan ku ubah dari keinginan menjadi gadis yang
berpendidikan tinggi yang sukses berubah menjadi anak sulung pekerja keras yang akan memperbaiki
kehidupan 7 orang adik.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp