Oleh: Faiza Fitria
Judul:
Buku Besar Peminum Kopi
Penulis:
Andrea Hirata
Tempat:
Sleman, Yogyakarta
Penerbit:
Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka)
Rilis:
Februari 2020
Edisi:
Cetakan Pertama
Halaman:
x + 350 halaman
Panjang:
20,5 cm
Harga:
± Rp. 80.000 (tergantung dimana anda membelinya)
ISBN:
978-602-291-664-2
Awal
tahun 2020 menjadi momentum bagi salah satu penulis kondang Indonesia yaitu
Andrea Hirata untuk merilis salah satu karya sastranya yaitu novel yang
berjudul Buku Besar Peminum Kopi. Tidak berbeda dari karya-karya sebelumnya,
Andrea Hirata memilih judul yang sederhana dan unik tetapi sarat akan makna
yang mendeskripsikan keseluruhan isi novel tersebut. Sebelum menikmati isi dari
novel ini, para pembaca disuguhkan dengan sebuah kata pengantar yang menginformasikan
bahwa novel ini adalah edisi asli novel ‘Maryamah Karpov’ yang dipadukan dengan
kisah-kisah dari novel ‘Padang Bulan’ serta ‘Cinta di Dalam Gelas’ yang semuanya
adalah karya Andrea Hirata dimana dalam semua novel tersebut berpusat pada dua
tokoh utama yaitu Ikal dan Nong Maryamah.
Novel ini bercerita tentang pengorbanan
dan perjuangan yang tidak mengenal kata berhenti dari Ikal dan Nong Maryamah. Perjuangan
Nong Maryamah dalam bertahan hidup untuk keluarganya dipadukan dengan
pertemuannya dengan sosok Ikal seorang lulusan universitas Eropa yang selalu
percaya bahwa dia bisa mendapatkan kerja yang ia impikan walaupun dia harus
berjuang terlebih dahulu bekerja di warung kopi pamannya karena adanya krisis
moneter 1998. Kemudian cerita berpusat pada Nong Maryamah yang terjun dalam
dunia pertandingan catur Kampung Ketumbi dan dari situ lahirlah buku besar
milik Ikal berbentuk catatan analisisnya terhadap jenis-jenis peminum kopi di
warung kopi pamannya. Analisis sederhananya itu mampu menganalisa watak
seseorang walaupun tidak mengenalnya secara dekat. Dan dari buku besar peminum
kopi catatan milik Ikallah yang mengantarkan pada sisi hitam putih kehidupan
masing-masing tokoh di novel ini.
Beralih kepada Sang Penulis yaitu Andrea
Hirata pasti tak terlepas dari prestasi besar novel legendarisnya yaitu ‘Laskar
Pelangi’ yang merupakan akar dari novel Buku Besar Peminum Kopi ini. Pria
pemilik rambut ikal ini lahir pada 24 Oktober 1967 di Belitung Timur dimana Belitung merupakan latar tempat
novel legendarisnya yang telah mengantarkannya menjadi pemenang beberapa
penghargaan sastra nasional dan internasional, salah satunya adalah New York
Book Festival 2013. Dalam novel ini ditemukan beberapa istilah ekonomi
telekomunikasi yang ternyata hal tersebut adalah cerminan ilmunya sebagai
sarjana ekonomi Universitas Indonesia dan S2 di Uni Eropa. Tidak hanya itu
saja, ia juga mendapatkan beasiswa pendidikan sastra di University of Lowa USA.
Maka tak heran dengan sepak terjang akademiknya bisa mengantarkan dirinya
melahirkan banyak karya sastra dan buku lainnya yang masyhur di negeri sendiri
maupun di negeri orang.
Berbicara tentang pengorbanan, jerat kemiskinan, dan
impian besar pada novel ini rasanya sama seperti membaca novel keluaran tahun
2009 yang berjudul ‘Ma Yan’ karya Sanie B. Kuncoro. Novel ‘Ma Yan’ ini
menceritakan seorang gadis dari keluarga yang serba kekurangan tetapi mempunyai
semangat juang tinggi dalam pendidikan. Kegigihan sang ayah dan ibu hingga rela
bekerja sangat jauh dari rumah demi membiayai sekolah Ma Yan dan adiknya dengan
impian agar nantinya mereka tak bernasib sama dengan ayah ibu mereka. Lantas
novel ini juga menceritakan tentang perjuangan Ma Yan menahan lapar selama dua
minggu agar bisa membeli pena impiannya karena dia sangat suka menulis. lantas kisah
ini diakhiri dengan keberhasilan Ma Yan meraih peringkat kedua di sekolahnya.
Dari ulasan singkat tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua novel ini sekilas
mirip karena membahas tema yang kurang lebih sama. Tetapi perbedaan mencolok
antara keduanya adalah latar tempat dimana novel ‘Ma Yan’ berlatarkan kawasan
minoritas muslim China yaitu kota kecil Yuwang dan novel Buku Besar Pemimun
Kopi berpusat di Kampung Ketumbi yaitu salah satu kampung Melayu di Indonesia
dan yang pasti masing-masing tempat memiliki kondisi sosialnya tersendiri.
Sinopsis
Hidangan pembuka pada novel ini adalah
menceritakan tentang kisah Zamzami dan Syalimah yang penuh perjuangan bersama
keempat anaknya dan salah satunya adalah Nong Maryamah. Dia dijuluki dengan
nama Nong yang bermakna panggilan sayang untuk anak gadis tertua di Melayu.
Tetapi naas, panggilan Nong tidak lantas membuat hidup Nong penuh kasih sayang
di kemudian harinya karena ia tumbuh menjadi seorang wanita tangguh sejak kelas
1 SMP setelah kepergian ayahnya yang mendadak dan cukup mengenaskan. Bagaikan
papan catur yang bercorak hitam putih
seperti itu jugalah pentas kehidupan seorang Nong Maryamah. Ia harus merelakan
pendidikan dan impian mulianya menjadi guru lalu menukar semuanya dengan
menjadi penambang timah karena ia harus mengabdikan hidupnya untuk mengambil
alih tanggung jawab sebagai tonggak utama keluarganya.
Beralih ke sosok Ikaludin yang akrab
disapa Ikal, seorang lulusan konsentrasi studi ekonomi telekomunikasi di salah
satu universitas ternama di Eropa yang terkejut akan tragedi krisis moneter
1998 saat kepulangannya ke Indonesia. Dengan segala gelar, prestasi dan impian
besarnya tidak menjadikan nasibnya mulus begitu saja saat melamar pekerjaan
yang ia inginkan di tengah huru-hara 1998. Pentas kehidupan telah membawanya
pada babak dimana ia harus pulang ke tanah kelahirannya yaitu Kampung Ketumbi setelah
ia sebelumnya harus berjuang mencari kerja di Jakarta dan akhirnya ia
memutuskan untuk menuruti perintah ibunya agar pulang kampung dan bekerja di
warung kopi termasyhur di kampung milik pamannya. Tersadar memiliki hubungan
kurang baik dengan pamannya membuat pekerjaan di warung kopi itu menjadi naas
seperti bayangannya.
Dari warung kopi tersebut
terciptalah sebuah persahabatan antara Nong Maryamah dan Ikal. Tetapi tak hanya
mereka berdua saja, ada Selambot, Midah, Nur, dan Bron yang ikut berpartisipasi
dalam lingkar persahabatan itu. Dari yang awalnya persahabatan biasa seketika
berubah menjadi klub catur ketika mereka mendengar akan diadakan pertandingan
catur rutin di kampung mereka dalam rangka memperingati HUT RI kala itu. Nong
Maryamah wanita tangguh berusia hampir kepala empat itu tiba-tiba saja berniat
mengikuti pertandingan catur Kampung
ketumbi. Para sahabatnya terkejut bukan main karena jika ia ikut maka ia akan
menjadi pecantur wanita di kampung tersebut seperti saat ia menjadi penambang
wanita pertama di Kampung Ketumbi.
Dibalik teguhnya keinginan Nong
terselip dendam hatinya untuk membalas perlakuan mantan suaminya yaitu Matarom
yang merupakan pecatur terhebat satu Kampung Ketumbi. Dalam angannya jika ia
berhasil mengalahkannya dalam pertandingan catur ini, perasaannya akan lebih
damai dan di lain sisi ia ingin membuktikan bahwa ia bukanlah seorang penambang
timah biasa yang hanya berijazah sekolah dasar. Karena semangat belajar yang
tinggi membuat Ikal dan sahabatnya lainnya mendukung sepenuh hati walaupun
awalnya ragu. Perjalanan Nong tidaklah mulus, ia sama sekali tak tahu bagaimana
bermain catur kemudian ia mendapat penolakan saat mendaftarkan dirinya pada
pertandingan catur tersebut. Tetapi yang namanya Nong Maryamah tidak akan
mundur walau keadaan secara nyata menolaknya.
Masuk dalam hidangan utama novel ini
yaitu petualangan Nong Maryamah bersama Ikal, Selambot, Midah, Nur dan Bron
dalam lika-liku pertandingan catur Kampung Ketumbi. Berbekal semangat juang
tinggi Nong akhirnya memulai pelajaran caturnya dengan guru Ikal dan suhu Ninochka
Stronovsky seorang grandmaster catur dari Georgia yang kebetulan
merupakan teman dekat Ikal selama berkuliah di Sheffield Hallam University.
Terbatas sinyal yang di kampung tersebut membuat Ikal harus rela menempuh jarak
untuk ke warung internet demi mendapatkan arahan diagram permainan catur dari grandmaster
dan semua ia lakukan untuk membantu Nong Maryamah.
Singkat cerita pertandingan catur
itu dimulai. Babak demi babak dilalui Nong dengan tidak mudah dan yang
membuatnya bertahan adalah ia berbekal ilmu dari grandmaster, perjuangan
dari Ikal, informasi rahasia tentang pecatur lain dari detektif palsu Nur dan
Bron serta semangat dari Selambot selaku manajer Nong dan ketua club catur
mereka. Semuanya itu membuat seorang Nong Maryamah mampu menaklukan belasan
pecatur pria dari segala level mulai dari level rendah hingga tinggi.
Hidangan penutup memang identik
dengan rasa manis, begitu juga dengan kisah Nong dan Ikal. Nong akhirnya sampai
pada babak final dan sesuai bayangannya ia melawan mantan suaminya dengan penuh
perjuangan dan taktik. Pertandingan berlangsung panas tetapi hati dingin Nong
mampu meredakannya dengan bermain catur seperti teknik pecatur legendaris Rusia
Anatoly Karpov dan dari situlah ia dijuluki Maryamah Karpov. Benar saja dengan
segala tekad ia akhirnya menjadi seorang pemenang catur se-Kampung Ketumbi
mengalahkan si mantan suaminya Matarom juara bertahan dua tahun berturut-turut.
Hidangan penutup itu bertambah nikmat saat akhirnya Ikal dipanggil bekerja ke
Jakarta sesuai impiannya dan itu adalah salah satu hadiah terbesar akan
kesabarannya selama ini.
Tambahannya adalah pelepas dahaga
yaitu kisah cinta Ikal dan A Ling perempuan Tionghoa yang merupakan cinta
pertamanya pada akhirnya menemui kejelasan. Setelah kemenangan Nong kemudian
disusul kabar gembira bahwa Ikal dipanggil ke Jakarta, Ikal akhirnya
memberanikan diri untuk menyatakan niat seriusnya kepada A ling nanti setelah
kepulangannya ke Kampung Ketumbi. Dan cerita berakhir dengan bahagia seperti
yang diinginkan mayoritas para pembaca.
Novel yang terdiri dari 26 bab ini
menyajikan sebuah cerita tentang pengorbanan dan perjuangan yang tidak mengenal
kata berhenti, jerat kemiskinan, persahabatan serta keyakinan akan impian besar
masing-masing tokoh di novel ini terutama Ikal dan Nong Maryamah. Perjuangan
Nong Maryamah dalam menyambung hidupnya serta keluarganya menjadikan ia
wanita tangguh sampai ia berusia paruh
baya. Kemudian ia bertemu dengan sosok Ikal yang merupakan seorang lulusan
universitas Eropa yang selalu percaya bahwa dia bisa mendapatkan kerja yang ia
impikan walaupun dia harus berjuang terlebih dahulu bekerja di warung kopi
pamannya karena ada hal yang tidak terduga.
Tidak hanya Ikal saja yang menjadi saksi
atas perjuangan seorang Nong Maryamah tetapi ada Selambot, Midah, Nur, dan Bron
yang juga ikut mewarnai pentas kehidupannya. Dari persahabatan mereka inilah
yang mengantarkan Nong Maryamah terjun dalam dunia pertandingan catur Kampung
Ketumbi. Selain dunia pertandingan catur ada buku besar milik Ikal yang
merupakan catatan analisisnya terhadap jenis-jenis peminum kopi di warung kopi
tempat ia bekerja. Analisis sederhananya itu mampu menampilkan karakter
seseorang tanpa perlu mengenalnya secara mendalam. Dan dari buku besar peminum
kopi catatan milik Ikallah yang mengantarkan pada sisi hitam putih kehidupan masing-masing
tokoh di novel ini dan tipe semua pemain catur itu diabadikan oleh Ikal dalam
catatannya di Buku Besar Peminum Kopi miliknya, karena dari cara seseorang
meminum dan memesan kopi hingga caranya bermain catur akan menampakkan watak
orang tersebut tanpa mengenalnya lebih dalam.
Buku Besar Peminum Kopi ini cukup
komplit karena memadukan cerita tentang kepribadian para tokoh terutama Ikal
dan Nong Maryamah di novel ini yang dirumuskan dalam tipe-tipe peminum kopi di
catatan Buku Besar Peminum Kopi milik Ikal, kemudian dijelaskan juga tentang
teknik-teknik bermain catur besarta tokoh pecatur dari beberapa negara. Tidak
terlupa penulis juga menggambarkan situasi sosial di masyarakat berlatar krisis
moneter 1998 seperti sulitnya mencari kerja di tengah krisis melanda. Novel ini
juga berisi tentang adat yang berlaku di masyarakat perkampungan saat itu
tentang seorang wanita yang dianggap tidak pantas mengerjakan yang berbau
tentang pria seperti menambang timah dan bermain catur, tetapi disini tokoh
Nong Maryamah berhasil mematahkan adat itu yang dianggap merugikan kaum wanita.
Setiap karya pasti ada kelebihannya dan
kelebihan dari novel yang bertajuk perjuangan, jerat kemiskinan, impian besar
serta persahabatan ini adalah meskipun berlatar kampung Melayu tetapi memiliki
bahasa yang mudah dimengerti oleh berbagai kalangan dan diiringi juga oleh
percikan humor sederhana khas Andrea Hirata jadi tidak monoton. Kemudian Andrea
Hirata berhasil mengemas cerita penuh kesedihan dan pengorbanan menjadi padu
dengan perjuangan para tokoh novel
tersebut sehingga menghasilkan akhir cerita yang manis dan sarat akan hikmah.
Selain itu dalam novel ini teknik catur yang tertera berhasil dikemas secara
singkat dan lugas sehingga para pembaca yang awam tentang catur ikut menikmati
dunia percaturan yang terlukis dalam novel tersebut.
Tiada gading yang tak retak itu adalah
hal lumrah dalam setiap karya termasuk novel ini. Dari pengamatan yang sudah
dilakukan, kekurangan dari novel ini adalah adanya kesalahan dalam pengetikkan
(typo) pada beberapa kata. Kemudian di bagian akhir novel terdapat
berlembar-lembar promosi novel lain dari Sang Penulis. Hal itu menjadi
kekurangan karena kurang efektif dalam hal penataan (lay out) setiap
lembarnya dan terkesan boros akan penggunaan halaman setiap lembar dalam novel
tersebut. Untuk kekurangan yang terakhir itu tergantung persepsi setiap
pembaca. Maka para pembaca harap bijak terhadap masing-masing pendapat yang
ada.
Dari semua
penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa apapun kesulitan yang menghadang di
depan sana tidak akan menjadi terlalu sulit jikalau disertai kesabaran dan
kesungguhan dalam berjuang. Novel Buku Besar Peminum Kopi ini mengajarkan saya
dan para pembaca lainnya dalam memahami setiap karakter lewat filosofi
sederhana seperti dengan meminum kopi dan bermain catur. Dan dari filosofi
sederhana namun sarat akan makna serta hikmah tersebut yang mengantarkan saya
untuk menarik kesimpulan bahwa novel ini sangat layak untuk dibaca dan dikaji
serta menjadi rekomendasi salah satu koleksi sastra berharga bagi para penikmat
sastra.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







