Oleh: Siti Laila ‘Ainur Rohmah
Suatu kewajiban bagi seorang murid untuk memenuhi perintah sang
guru. Di mana murid sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai wakil orang tua baik
dari segi mengajarkan ilmu pengetahuan
dan mendidik akhlak yang baik. Guru juga tak pernah bosan memberikan
nasehat-nasehat yang baik kepada muridnya. Namun, hal ini terkadang hanya
sebatas angin berlalu yang tak membekas dalam perilaku, entah hanya dianggap
hal sepele atau karena hatinya yang meragukan gurunya. Tetapi, ada juga yang mampu mengamalkan nasehat tersebut sehingga membentuk
karakter baik dalam diri seorang murid. Hal ini mengingatkan pada salah satu
kisah seorang sufi Ja’far Al-Khuldi yang menasehati muridnya yakni Hamzah
al-Alawi.
Suatu ketika Hamzah al-Alawi sengaja ingin bertemu sang guru, kemudian
beliau sowan (berkunjung) ke rumah Ja’far al-Khuldi. Selepas itu ketika
di rumah beliau, ternyata Hamzah al-Alawi diminta untuk menginap di rumah sang
guru dan tidak melanjutkan perjalanannya di malam hari. Padahal di sisi lain,
Hamzah kepikiran dengan keluarga yang menanti kedatangannya di rumah di mana
sudah disiapkan menu burung panggang untuk makan malam.
Dalam batinnya menggumam, “Jika malam ini aku menginap di rumah
Syekh Ja’far al-Khuldi, mau tidak mau nanti shubuh aku harus menemaninya
berjamaah. Biasanya Syekh tidak akan turun sebelum melaksanakan salat dhuha, pasti
istri dan anak-anakku di rumah akan sangat tersiksa menunggu kedatanganku untuk
makan malam bersama.”
Dihadapi dengan situasi seperti itu, Hamzah pun mengalami konflik
batin tersendiri dan harus berat hati menolak permintaan sang guru. Dengan
perasaan serba salah dan canggung di hadapan sang guru, Hamzah al-Alawi memilih
untuk pulang dan berharap makan bersama dengan istri dan anaknya di rumah.
Ketika sampai di rumah, ternyata keberuntungan belum berpihak
kepada Hamzah dan keluarganya. Hidangan burung panggang yang awalnya sudah siap
disantap, kini raib digondol oleh anjing yang tiba-tiba masuk kemudian kabur
melarikan diri.
Keesokan harinya Hamzah al-Alawi kembali menemui sang guru, Syekh
Ja’far al-Khuldi. Belum sempat menjelaskan apa-apa, sang guru pun berkata
kepada Hamzah al-Alawi.
مَن
لَم يَحفَظ قُلُوبَ المَشَايِخِ يُسَلِّطُ عَلَيهِ كَلبٌ يُؤذِيهِ
“Barangsiapa
tidak menjaga qalbun (perasaan) guru maka dia akan diusik oleh kalbun
(anjing) yang akan menyakitinya.”
Dari cerita di atas dapat kita ambil hikmah bahwa betapa pentingnya
menjaga perasaan terhadap guru, terlebih ketika kita mendapat perintah darinya.
Sepatutnya kita utamakan selagi tidak melanggar aturan. Dalam proses thalab
al-‘ilmi tidak hanya kita mendapat pengetahuan baru, tetapi keberkahan ilmu
dari seorang gurulah yang mampu mengantarkan kita ke gerbang kesuksesan.
waallahu a’lam
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







