![]() |
| https://pixabay.com/photos/ |
Oleh: M. Ikhsan Kamaluzaman
Seekor kupu kupu melewati berbagai fase metamorfosis sebelum
akhirnya menjadi kupu kupu yang begitu indah. Begitu juga dengan pekerjaan dan
cita cita apapun, tak ada satu pun darinya yang bisa didapatkan dengan cara
instant, sekalipun seseorang itu mempunyai banyak privelese. Anak seorang nabi
seperti kan’an saja bisa tidak beriman, apalagi hanya seorang anak kiai. Kiai
anwar mansur lirboyo pernah mengatakan “apa ketika kamu makan anakmu ikut
kenyang?” ini merupakan tamparan keras bahwa anak seorang kiai juga tidak
menjamin ke depannya menjadi seorang kiai jika ia tidak mau berusaha dengan
mengaji. Begitu pun menjadi penulis, ia bukan bakat yang diturunkan namun itu
adalah proses panjang yang dialami seseorang selama bertahun tahun.
Pada seri
sebelumnya kita membahas tentang betapa pentingnya mempertanyakan dan mengecek
ulang informasi yang sudah kita miliki agar tulisan kita benar benar bisa
mencerahkan banyak orang di luar sana. Karena seiring berjalannya waktu akan
ditemukan banyak fakta dari puzzle yang sudah terpasang selama ini yang bisa
menghasilkan kesimpulan yang berbeda tiap zamannya. Karena ya hidup ini dinamis
begitu pula dengan ilmu pengetahuan. Imam Syafii pun memiliki 2 pendapat
fiqhnya yaitu qoul qodim ketika berada di Baghdad dan qoul jadid ketika beliau
berada di Mesir. Dapat dikatakan bahwa qoul jadid adalah revisi dari pendapat
beliau sebelumnya. Selanjutnya mari kita bahas 2 rumus terakhir dari 5R untuk menjadi
penulis yang senantiasa memperbaiki kualitas tulisannya
4. Reflective
Perbedaan
merupakan sunnatullah (ketetapan Allah) maha kuasa Allah menciptakan manusia
berbeda beda untuk saling mengenal. Dengan keberagaman yang Allah sudah
tetapkan harusnya menjadikan kita sebagai manusia yang tidak menuhankan
keseragaman. Keberagaman menjadi salah satu identitas bangsa kita dengan
slogannya Bhinneka Tunggal Ika. Karena dengan keragaman kita semakin mensyukuri
kekayaan bangsa kita, bangsa kita tidak hanya kaya dengan ragam alamnya namun
juga kaya dengan ragam budayanya.
Menulis adalah
kegiatan menuangkan pikiran dalam bentuk huruf menjadi kalimat, kalimat menjadi
paragraf. Tentu ketika kita menulis berarti kita sedang menunjukkan sebuah
pemikiran yang selama ini kita yakini kebenarannya. Untuk menjadikan tulisan
kita tidak bernada provokatif, menjatuhkan, mengintimidasi pihak tertentu maka
diperlukan merefleksikan tulisan kita agar tidak terlalu condong terhadap suatu
ideologi. Sah sah saja sebenarnya menuliskan sesuatu yang kita jadikan prinsip,
namun untuk menggapai pembaca yang beragam kita juga harus bisa berdamai dengan
diri kita untuk mendengarkan perspektif lain untuk kekayaan khazanah tulisan
kita.
Pemikiran barat
sering kali dijadikan sebagai acuan dalam khazanah keilmuan di dunia pendidikan
kita. Hal itu bisa terjadi karena negara kita pernah dijajah lebih dari 3 abad
oleh Belanda. Ada banyak hal yang kemudian kita adopsi dari pemikiran barat.
Tentunya kita sebagai seorang muslim tidak boleh anti terhadap pemikiran barat.
Karena selama itu bernilai kebaikan dan hikmah maka kita harus mengambilnya
dimanapun ia berada. Pada suatu riwayat dikatakan bahwa hikmah adalah barang
hilangnya seorang yang beriman, dimanapun ia menemukannya ia berhak mengambilnya.
Merefleksikan
sebuah tulisan bukan berarti bersikap plin plan karena tidak memiliki prinsip.
Namun dengan merefleksikan berarti kita mengamalkan apa yang dikatakan Imam
Syafii bahwa pendapat saya benar namun mengandung salah dan pendapat anda bisa salah
namun mengandung kebenaran. Merefleksikan berarti bersifat objektif dalam
melihat sebuah perkara dan fenomena. Menjauhkan seorang penulis dari sikap
fanatik buta yang dapat membahayakan merupakan bagian dari manfaat
merefleksikan tulisan kita. Karena dengan membiasakan cara seperti ini kita
akan semakin bijak dalam menyikapi perbedaan dan tidak kagetan ketika adanya
hal hal baru di kehidupan kita. Sehingga kita bisa menjadi pribadi yang open
minded, tidak sekedar toleransi terhadap perbedaan namun juga toleransi
terhadap intoleransi itu sendiri.
5. [W]Rite
Ada 1001 cara dan
tips untuk mencapai sebuah tujuan apapun, namun jika tidak dimulai dari langkah
pertama itu semua hanyalah mimpi di siang bolong. Ratusan workshop tentang
kepenulisan yang anda ikuti tidak bisa menjamin anda akan menjadi seorang
penulis hebat seperti Ahmad Tohari, Mahbub Djunaidi, dan Pramoedya Ananta Toer.
Nama nama berikut merupakan para penulis ternama yang memulai tulisan pertama
mereka sampai nama mereka tetap abadi sampai hari ini. Mari kita mulai untuk
menulis, karena hanya dengan memulainya kita bisa menjadi seseorang yang
manfaatnya tak lekang oleh waktu.
Untuk menutup seri
tulisan panjang kali ini saya akan mengutip apa yang dikatakan oleh Imam Syamsi
Tabrizi guru spiritual dari Imam Jalaluddin Ar Rumi : “Aku tidak takut dengan
kematian, karena bagiku kematian bukanlah akhir, aku lebih takut jika aku mati,
aku tidak meninggalkan warisan apapun bagi generasiku kelak”. Mari menulis,
mari mengabadi.
Rujukan :
Ngainun Naim, The Power Of Reading, Aura Pustaka, Yogyakarta, 2015
Fahruddin Faiz,
Sebelum Filsafat, MJS Press, Yogyakarta, 2018
Husein Jafar Al
Haddar , Tuhan Ada Di Hatimu, Noura Books, 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







