SAMPAH, BENCANA DALAM DIAM

https://cdn1.katadata.co.id/media/images/thumb/2019/06/20/2019_06_20-12_15_39_80e5bc366e328d6d2d5cad8070fc8511_960x640_thumb.jpg

Oleh : Ahmad Jaelani Yusri

Kita semua tau bahwa negara Indonesia adalah negara maritim
terbesar di dunia. Dengan luas lautan mencapai 2,55 juta km2,
menjadikan Indonesia sebuah episentrum dengan beragam fauna lautan yang khas.
Tentunya, kita patut berbangga dan bersyukur dengan anugrah yang tak ternilai
dari Tuhan Yang Maha Esa.

            Laut indonesia
adalah ladang mata pencaharian bagi para nelayan, bahkan menjadi bisnis yang
menjanjikan bagi korporat tanah air di bidang migas. Sayangnya, tingginya
aktivitas di perairan bukan menjadikan laut lebih baik, tapi justru menambah
kerusakan ekosistem di dalamnya. Hal ini dibuktikan dengan bertambahnya limbah
perairan yang dihasilkan dari limbah plastik sebesar 63 persen berdasarkan data
dari Komunitas Divers Clean Action. Melihat
fakta bahwa ada penyu yang berdarah akibat tertusuk oleh sampah sedotan hingga
memerlukan tenaga ahli dalam penyelamatannya belum lagi terumbu karang yang
tertutup plastik selama empat hari ternyata dapat mematikan terumbu karang
karena minimnya asupan cahaya matahari. Itu semua membuktikan jika plastik
sangat membahayakan ekosistem laut
.

            Aktivitas
kelautan di tanah air menyebabkan meningkatnya limbah perairan. Kementerian Kelautan
dan Perikanan pada tahun 2020 telah mendata bahwa ada 175.000 ton sampah per
hari yang dihasilkan dari aktivitas pelabuhan dan laut. Jika itu terus
berkelanjutan sampai ke laut lepas tentu akan berbahaya bagi ekosistem laut. Dilansir juga dari Kementerian Laut
dan Perikanan bahwa 80 persen kebocoran sampah ke laut berasal dari darat dan
20 persen merupakan kegiatan di laut. Beberapa kegiatan yang berpotensi mencemari
itu di antaranya perikanan tangkap, budidaya laut, dan pencemaran dari
aktivitas transportasi laut. Hal ini membuktikan bahwa banyaknya
pelabuhan perikanan di Indonesia yang masih kurang perhatian dengan masalah
limbah yang mencemari laut.

            Peningkatan limbah
perairan tak bisa hanya disandarkan pada aktivitas nelayan dan pelabuhan.
Limbah yang berasal dari darat juga menjadi penyumbang terbesar terutama
plastik. Berdasarkan Badan Statistik Nasional, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan pemukiman sebanyak
10 miilar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik .
Sampah
plastik tersebut kemudian terbawa atau terbuang ke sungai lalu berkumpul di
muara dan menjadi masalah yang sangat besar. Sampai-sampai di mata dunia,
Indonesia menjadi peringkat kedua sebagai negara penyumbang sampah laut
terbesar. Satu peringkat dibawah Negara China. Tentu ini bukanlah prestasi yang
membanggakan seperti kemenangan  Graycia
Polli dan Apriyani Rahayu, atlet badminton peraih medali emas dalam Olimpiade
Tokyo.

Dampak Pada Rantai Makanan

            Akumulasi sampah
plastik di lautan kian hari kian memprihatikan, menjijikan pandangan dan tak
ada keindahan. Lebih dari itu, sampah plastik yang terdistribusi di permukaan
laut ataupun di dasar laut telah banyak merugikan.  Plastik membutuhkan waktu yang sangat lama
untuk bisa terurai, butuh waktu ratusan tahun agar terurai dengan sempurna.
Mikroplastik adalah salah satunya. Sampah plastik yang berukuran kurang dari 5
mm. Di mata ikan, sampah-sampah yang berukuran kecil itu tampak menarik.
Warna-warni dan teksturnya yang kenyal sering mengecoh biota laut. Contohnya
saja penyu yang sering memakan kantong plastik karena terlihat seperti
ubur-ubur.

            Plastik mengandung
senyawa kimia yang berbahaya bagi manusia. Kandungan bisphenol A atau
BPA berpotensi meningkatkan resiko penyakit jantung, memengaruhi tingkat hormon
dalam tubuh, menyebabkan gangguan perilaku serta gangguan otak. Selain itu
senyawa phtalate yang berfungsi untuk membuat plastik lentur,
transparan, sulit sobek ternyata dapat mengakibatkan kerusakan organ hati,
ginjal, paru-paru bahkan sistem reproduksi. Jika mikroplastik ini sampai
termakan oleh ikan yang dikonsumsi manusia, tentu akan menjadi sebuah boomerang
bagi manusia itu sendiri. Apalagi jika dikonsumsi secara kontinyu dan jumlah
besar.

Tindakan Pencegahan

            Permasalahan
sampah di laut bukanlah tanggung jawab satu pihak saja. Semua unsur sosial
diperlukan untuk menangani masalah yang pelik ini. Kerjasama antar birokrasi,
pengusaha dan masyarakat adalah hal yang pasti untuk penanganan masalah
plastik. Disamping itu, kebijakan dari pihak pemerintah harus jadi penyokong
untuk solusi-solusi penanganan sampah plastik di Laut.

            Tindakan
preventatif dapat dilakukan sejak dini oleh kita bersama. Kesadaran membuang
sampah bagi masyarakat itu wajib. Edukasi dengan penyuluhan dan pendidikan itu
perlu adanya. Pemerintah juga perlu mengawasi jalannya kebijakan larangan
membuang sampah. Dengan tindakan yang tegas niscaya oknum-oknum yang melanggar
akan jera. Disamping itu pemerintah juga dapat memasang jaring raksasa di
kanal-kanal muara untuk menjaring sampah seperti yang diberlakukan di
Australia. Jika semuanya terkoordinir niscaya semua akan berjalan.

            Sampah laut yang
dihasilkan oleh aktivitas nelayan harus dikelola dengan bijak. Tanpa disadari
banyak nelayan yang membuang peralatan atau limbah kapal ke laut lepas. Jaring-
jaring rusak, kemasan plastik mungkin saja menjadi jerat bagi biota laut tanpa
sengaja. Oleh karena itu, pemerintah selayaknya membuat kebijakan tentang sistem
pembuangan limbah kapal dengan menyediakan tempat pembuangan limbah di
pelabuhan yang aman dan dapat bernilai ekonomis. Selain itu tarif yang murah
bagi jasa pembuangan limbah juga mesti diterapkan untuk memudahkan nelayan
kecil. Lantas tak hanya itu, pemerintah harus melakukan pengawasan hukum
misalnya dengan adanya pesawat patroli yang khusus. Dengan begitu nelayan akan
merasa diawasi dan tidak akan semena-mena dalam membuang sampah di laut.

Pengolahan Limbah Plastik

            Berdasarkan United
State Environment Protection Agency
, hanya 12 % dari sampah plastik yang
berhasil didaur ulang. Maka pengelolaan limbah plastik yang tidak didaur ulang juga
perlu dilakukan. Tak hanya dikumpulkan lalu dibakar, limbah plastik seperti
kresek dan kemasan justru dapat dimanfaatkan menjadi barang bernilai guna dan
ekonomis. Contohnya saja Ecobrick yang dicetuskan pria asal Kanada,
Russell Maier. Ecobrick adalah terobosan bata ramah lingkungan. Dengan
bermodalkan botol plastik yang dipadatkan dengan kemasan plastik, Ecobrick dapat
diolah menjadi kerajinan baik meja, bangku serta juga dapat menjadi pengganti
batu bata rumahan.

            Limbah plastik
juga dapat diolah menjadi paving block dengan meleburkan plastik  dicampur oli bekas lalu dicetak sedemikian
rupa. Paving block plastik ini tak kalah kuat dan lebih ringan dengan paving
block
semen yaitu dengan berat hanya 3 kg. Hal ini bisa menjadi opsi yang
berguna tentunya untuk pembangunan disamping penggunaan kerikil dan semen untuk
bahan dasar paving block.

            Penanganan masalah
sampah laut adalah tanggung jawab kita bersama. Mengangkat sampah di lautan
bukanlah sesuatu yang tidak mungkin namun hasilnya tak akan sebanding dengan
usaha yang dilakukan, lebih baik memfokuskan energi dalam membersihkan sampah
di daratan dan disungai serta pengelolaan limbah daripada mengangkat plastik
yang sudah mengembang di lautan.

Sumber :

Mukhtasor. 2007. Pencemaran Pesisir dan Laut. Jakarta :
Pradnya Paramita.

Purnomo, Chandra Wahyu. 2020. Solusi Pengelolaan Sampah Kota.
Yogyakarta : UGM Press.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp