SI PERANTAU
Oleh : Hilwah Tsaniyah
Minggu siang
yang sendu, daun-daun di ranting pepohonan yang mendayu-dayu, dan angin sejuk
setelah hujan turun bersama gemuruhnya. Aku mengajak Rani untuk pergi
mengantarku membeli meja belajar di toko swalayan yang jaraknya lumayan jauh
dari pondok. Rani, orang yang hampir selalu mengiyakan ajakanku untuk keluar.
Senyum yang manis dan gigi putihnya yang tertata rapih, yang selalu ia
tunjukkan saat aku memintanya untuk menemaniku.
Rani, yang juga
teman satu ORDA (organisasi daerah) tapi kami secara formal berkenalan di
kampus. Lebih tepatnya saat di kelas pada saat kami semester dua. Setelah
selesai program asrama dari kampus selama 2 semester, aku dan Rani bersama-sama
mencari tempat tinggal dan memilih untuk tinggal di pondok. Karena kami berasal
dari kota yang berdekatan, dan untuk pertama kalinya kami merantau ada sedikit
banyak keluh dan kesah, suka dan duka, juga perasaan-perasaan yang mungkin
hanya dipahami oleh sesama anak perantau. Ranilah salah satunya, dari beberapa
teman pondok yang juga mayoritas anak rantau.
Sesampainya di
tempat tujuan aku langsung memarkirkan sepeda motor di dekat pintu masuk toko.
Toko swalayan itu memiliki tiga lantai, masing-masing lantainya menyediakan
kebutuhan yang berbeda-beda. Rani mengikuti langkahku yang langsung menuju ke
lantai tiga. Tanpa berpikir lama, aku menuju ke tempat di mana meja-meja belajar
itu ditumpuk dan langsung memilih meja mana yang paling bagus dan kuat.
Awalnya, Rani
ikut membantuku untuk memilihkan gambar yang lucu dan kualitas meja yang bagus
tentunya. Tapi itulah Rani, ia suka latah
dengan apa yang aku beli. Setelah ia memilihkan meja mana yang bagus untukku,
aku bergantian mencarikan meja mana yang bagus untuknya. Namun sebenarnya,
kadang aku juga suka latah.
“Bentar ya li,
gua mau liat-liat dulu.” Tukas Rani yang sudah melangkahkan kakinya.
Aku pun
mengikutinya dari belakang, rupanya Rani melihat-lihat keset dan ia teringat
keset di kamarnya yang sudah mulai bolong-bolong. Kemudian Rani mengambil keset
dan memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan yang ia bawa dari lantai satu.
“Udah ni li,
ada yang mau dibeli lagi ngga? biar sekalian.“ Tanya Rani memastikanku.
“Ngga ada, ini aja
deh. Udah ayo langsung ke kasir, bahaya kalo liat barang-barang yang lucu gini
nanti jadi gua beli, padahal ngga dibutuhin.”
Sesampainya di
parkiran Rani memanggilku pelan.
“Lia…”
“Kenapa Ran?”
Jawabku singkat tanpa menengok kearahnya, sambil mengeluarkan motor dari
deretan motor yang terparkir.
“Gamau mampir
kemana dulu gitu?” Tanyanya sambil senyum-senyum.
“Hayu aja, mau
kemana emang? Eh tapi motornya gimana? Takut yang punya mau makai.” Aku teringat
Yaya, yang motornya aku pinjam.
“Emang tadi Yaya
bilang apa?”
“Tadi si
katanya mau naro laundry.”
“Inikan masih
siang, mungkin nanti agak sore-an dia naro laundryannya.”
“Yaudah deh
ayo, mau kemana nih jadinya?” Tanyaku sekali lagi untuk memastikan Rani.
“Ke warung kopi
yang lagi buy 1 get 1 aja yuk. Deket dari sini ko, sekalian minum di
sana aja giamana?” Ajaknya begitu bersemangat.
Akupun langsung
menancapkan gas ke tempat tujuan yang di maksud Rani.
Sesampainya di
warung kopi, kami langsung antri untuk memesan kopi dan kue pancong untuk
menemani kopinya. Aku memesan kopi yang best seller di tempat itu. Tak
perlu ditanya Rani memesan kopi apa, sudah pasti ia memesan seperti apa yang
aku pesan.
“Minum di
tempat atau bawa pulang mba?”
“Minum di sini
aja mas.”
“Ada tambahan
lagi?”
“Kue pancong
kejunya satu, sama yang rasa kacangnya satu.”
Bersambung …
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







