TADARRUS

 

https://images.app.goo.gl/QyaW7cEydMn52kg38

Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

Sumbar,
begitulah masyarakat sini menamai langgar tua di sudut kampungku. Bangunan yang
hampir seluruhnya terbuat dari kayu mayu itu, telah berpuluh tahun mengengkrami
sepetak tanah sempit bekas kuburan Belanda jaman dulu. Meski demikian, tak
sedikit orang memilih untuk beribadat di langgar itu, dibanding harus menempuh
perjalanan jauh untuk sampai ke masjid besar di sebrang kampungku.

“Yuk, nanti kamu baca lima
lembar dulu yaa !! Soalnya aku harus ke rumah Uwak Hasyim dulu”. Tadarrus
adalah salah satu tradisi wajib setiap malam Jum’at di langgar Sumbar.
Biasanya, tadarrus digelar hingga pukul sebelas malam dan didominasi oleh kaum
perempuan.

Aku
dan Zahra memutuskan untuk menutup acara Tadarrus di Sumbar malam ini. Hal itu
tentu saja menuntutku untuk berada di dalam Sumbar lebih lama yang semakin
malam kian menyepi. Sebab kebanyakan dari mereka yang usai melantunkan ayat Al-
Qur’an di toa, memilih meninggalkan Sumbar sebelum acara Tadarrus diusaikan.
Kini di Sumbar tinggal tersisa empat kepala, karena Zahra telah bertandang ke
rumah uwaknya. Aku masih khidmat menyimak lantunan ngaji Mbak Jum yang sangat
merdu dibanding suaraku. Sedang Salma dan Salwa masih asyik memainkan ponsel di
genggamanya. Entah apa yang dioprasikannya, aku tak tahu.

Tepat
pukul sebelas malam, Mbak Jum mengakhiri bacaannya bersamaan dengan Zahra yang
datang dari rumah uwaknya.

“Ini Yuk, sekarang giliranmu,
Mbak pulang dulu yaa !! Zahra sudah datang tuh !!”. Ujarnya seraya
merapikan mukenah dan sajadahnya. Sepertinya Mbak Jum sengaja mengakhiri
ngajinya saat Zahra kembali dari rumah uwaknya, tak lain agar aku ada temannya.
Salma dan Salwa bergegas mengekori langkah Mbak Jum keluar langgar, sedang
Zahra masih membasahi tubuhnya dengan air wudlu. Microphone telah berada di
tanganku, namun aku sedikit ragu untuk melanjutkan ngajiku. Biasanya tadarrus
tidak sampai semalam ini, tapi sekarang bahkan sudah pukul sebelas lebih.

“Kenapa bengong Yuk, ayo
lanjutkan !!”. Zahra memilih duduk di belakangku. Kerudungnya lebar ke
belakang, menutupi hampir sebagian punggungnya. Aku mulai menyecapi
ayat-ayat-Nya dengan suara lirih, sebab aku takut akan mengganggu warga
kampungku.

Tiba
di ujung surah, aku menyudahi ngajiku agar disambung oleh Zahra. Hendak saja aku
membalikkan badan, dua suara memanggilku hampir bersamaan,

“Yayukkkk!!” Ternyata itu suara Mbak
Jum dan Astaga…

“Zahra masih di sini Yuk, belum
masuk langgar”

….



Pondok Pesantren Darun-Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp