Dunia tak sesempit yang aku
bayangkan. Berlarian mengitari hutan kampung saja, cukup membuat nafasku
tersenggal-senggal. Dulu aku pernah tumbuh di kampung ini, dirawat dan
dibesarkan hutan dengan berbagai macam penghuni. Kini masaku untuk kembali, menuangkan
segala kerinduan bersama bocah-bocah kecil ini.
“Ayo kak arahkan kameranya kemari” mereka bertingkah kegirangan
dengan berpose bebas menggerakkan tangannya. Beberapa jepretan telah
tertangkap, beberapa dari mereka bergantian merenggek memintaku menunjukkan
hasil jepretan.
Matahari di dalam hutan tak sepenuhnya
terang, membuat jalanan hutan yang basah sebab hujan semalam semakin berlumpur
dan penuh genangan. “Byur” mereka menertawakanku bersamaan melihat sepatu
hitamku tercebur ke dalam genangan air lumpur. Aku masih bersyukur tidak jatuh gelimpangan,
tanah hutan sungguh licin tak karuan.
“Cepetan kak, ada banyak tempat yang harus kakak abadikan dengan
kamera” Tukas bocah berkulit sawo matang yang paling tinggi di antara
kawan lainnya. Namanya Agus, aku paling mengenalnya dari kelimanya karena ia
adalah teman berburu masa kecilku, saat aku berumur sepuluh tahun lalu ia menginjak
delapan. Sepeninggalnya aku di kota, sepertinya Agus mendidik anak-anak kampung
untuk berburu ke dalam rimba. Dan kini aku kembali bersama Agus dan keempat
anak buahnya.
“Iya tunggu, kakak sudah tak selincah dulu Gus”
Kami terus berjalan menyusuri
rimbunnya hutan Kalimantan. Beberapa satwa masih ada di sini, namun jumlahnya
tak banyak lagi. Suara Ngengat dan Nyamuk senantiasa menemani perjalanan kami. Membuatku
tak nyaman ditambah kakiku yang jengah oleh air kubangan tadi.
“Ayo kak arahkan kameranya ke sini”
“Bentar, kakak atur kameranya dulu ya” ujarku sambil mengintip
kamera.
“Kakak sudah siap, tunjukkan gaya terkeren kalian” Aku hanya
melihat mereka melalui kamera, mereka tersenyum seraya berpose yang itu itu
saja. Beberapa kali jepretan tertangkap, hampir seluruh jepretan hasilnya sama.
Sebab saat aku meminta untuk berganti gaya, mereka hanya menggerakkan tangannya
saja. Dan semuanya sama.
“Sekali lagi yaa, satu…dua…tiga, cekrekkk!!” aku
terkejut melihat hasil gambarnya. Sebuah babi hutan besar datang tepat di
belakang mereka. Tubuhnya sebesar bedug musholla, suaranya mendengus kasar bak
orang marah. Jantungku berdegup kuat, dipenuhi
rasa takut terhadap babi hutan yang bisa saja mengamuk lalu menghabisi tubuhku.
Tapi,
“Ayo kak arahkan kameranya lagi”
Mereka bahkan menaiki punggung kerasnya,
ada yang berpose sambil menekuk kakinya di bawah kepalanya. Babi hutan besar
itu menjadi kucing lucu di tangan mereka. Sedangkan aku masih gemetar tatkala
menekan tombol kamera.
“Satu…dua…cekrek” babi
hutan besar itu sontak mengamuk, sepertinya ia merasa terganggu dengan cahaya flash
kamera. Tanpa berpikir panjang aku berlari meninggalkan kelima bocah
kampung itu.
Aku bersembunyi di balik pohon
gaharu besar, berharap babi hutan besar itu tidak mengejarku. Hatiku sedikit
lebih tenang, namun di sudut lain masih bimbang terhadap nasib kelima bocah
itu. Rasa penyesalanku perlahan tumbuh, mengingat aku yang mengajak mereka
pergi ke hutan kemarin malam. Tapi aku tidak bisa menjaganya, padahal aku
paling besar di antara mereka. Sepertinya sepuluh tahun hidup di kota
benar-benar melunturkan keberanianku bertualang di tengah rimba. Aku tidak
seberani dulu lagi.
Naluriku mengajak tubuhku untuk
kembali ke tempat tadi, namun kakiku seakan memaku untuk tetap di sini. Bocah-bocah
itu telah habis tubuhnya, atau dilemparkan babi hutan ke dalam jurang. Mereka
telah tiada di tangan babi hutan.
“Kak… dimana kau?” itu suara Agus disambut teman-temannya.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







