Penulis: Ainu Habibi
Pada
abad keenam Masehi sejarah umat manusia dimulai. Pada masa itu manusia hampir
mencium bibir kehancuran, telah berlangsung berabad-abad lamanya, seluruh
pelosok dunia manapun tak akan kuat dan mampu untuk membendungnya.
Kiprah
yang masih rawan kemajuannya akan melupakan Tuhan serta dirinya sendiri, dimana
manusia telah kehilangan tambatan hatinya. Mereka bernasib sama. Ajaran yang dibawa
para Nabi telah dilupakan; lampu-lampu yang gemerlap terang kian mulai padam
bak ditelam badai kehancuran moral, atau cahaya yang mereka pancarkan telah
padam, sehingga tak sedikit orang yang dapat menerangi hatinya, sementara yang
lain tenggelam dalam ketidak jelasan dan kepasrahan.
Bangsa
Romawi dan bangsa Persia, masing-masing dari mereka menikmati akan hasil
monopoli kepemimpinan di Barat dan Timur, telah sirna atas keadaan moral yang
bobrok. Mereka kaya diatas rusaknya peradaban, akibat dari kejahatan dan
keserakahan mereka sendiri. Kekaisaran mereka telah menjadi gudang kekacauan
dan kejahatan. Kelompok pemimpin yang gila kekuasaan.
Pembagian-pembagian
ajaran telah merubah negara keristen menjadi kancah provokasi kelompok-kelompok
yang berperang. Rumah serta tempat sekolah bahkan gereja telah berubah menjadi
tempat-tempat peperangan. Negeri itu telah terlibat dalam perang saudara. Pusat
perselisihan menyangkut penyatuan sifat ketuhanan dan kemanusian dalam diri
Yesus. Oorang-orang Kristen Melkite dari Siria mengakui Yesus sebagai Tuhan
sekaligus manusia. Sedangkan orang Monofisit dari Mesir sangat menekankan pada
zat ketuhanannya, karena bagian dari sifat kemanusiannya sendiri telah hilang
di dalam zat ketuhanan, sebagaimana halnya setetes cuka di lautan, akan hilang
ciri-cirinya.
Menariknya
dunia sebelum Islam, memiliki bentuk pemerintahan pada umumnya adalah monarki
absolut, pada garis besarnya didasarkan pada kepercayaan masyarakat tentang
kesucian lahir dan kelebihan mutlak dinasti-dinasti tertentu, seperti Iran,
yang mana bangsa Sasani percaya bahwa mereka memiliki hak ketuhanan untuk
memerintah secara turun-temurun.
Kedaulatan
yang didasarkan atas kebesaran penguasa-penguasa pribadi. Sebut saja bangsa
Cina misalnya, menyebut raja mereka “Anak Langit” karena mereka percaya bahwa
segala yang ada adalah keturunan hasil dari perkawinan antara langit
“laki-laki” dan bumi “perempuan”, dan kaisar khata 1 adalah anak pertama dari
perkawinan itu. Menurut anggapan ini, kaisar mereka telah diakui sebagai
satu-satunya nenek moyang bangsanya, karena itu ia punya hak memerintah mereka
jika ia mau. “Hanya engkau dermawan kami”, kata mereka kepadanya sebagai
pengakuan resmi atas kesetiaan mereka.
Karena
sifat-sifatnya, keadaannya, dan keadaan politiknya, dunia Arab mempunyai
harapan yag tepat serta kemampuan yang tepat dan penting untuk memikul tanggung
jawab misi Islam. Dengan mudah ia dapat mengambil kepemimpinan bagi segenap
dunia Islam, memperkuat dirinya untuk menghadapi Eropa, dan dengan rahmat Allah
serta keyakinan agamanya, akan dapat mengungguli di atasnya, dan sekali lagi
akan dapat memimpin dunia dari kegelapan kepada cahaya terang, dari kehinaan
kepada kemuliaan, dari kehancuran dan keruntuhan kepada kedamaian dan
kemakmuran. Sebagaimana kata-kata dari utusan Islam ke istana Xerxes, sekali
lagi ia dapat “memimpin manusia dari penyembahan terhadap manusia kepada
penyembahan terhadap Allah, dari kepicikan hidup yang sempit kepada keluasan
keyakinan, dari ketidak adilan ajaran kepada keadilan dan persamaan Islam.
Seluruh
dunia memandang Islam sebagai penyelamatnya, dan dunia Islam mengharapkan
bimbingan dan kepemimpinannya kepada bangsa Arab. Dapatkah dunia Islam memenuhi
harapan dunia? Dapatkah menampilkan dirinya? Untuk waktu yang lama, kemanusiaan
yang rusak dan lumpuh, menjerit meminta pertolongan, ia masih percaya bahwa
tangan-tangan yang mendirikan Ka’bah dapat membangun kemanusiaan kembali.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







