![]() |
| https://assajidin.com/16- |
Oleh:
Siti Laila ‘Ainur Rohmah
[lanjutan judul ke-1]
Meski Imam Syafi’i dalam posisi terancam
karena menjadi tawanan raja Harun
Ar-rasyid, beliau tetap tenang menghadapi sang raja dengan menyebutkan firman
Allah SWT sebagai landasan argumennya.
“Sekarang!, apa pembelaanmu?
setelah jelas-jelas Abdullah bin Hasan terbukti sebagai pembangkang dan
pemberontak, lalu diikuti orang-orang hina, dan kamu sudah satu dari pemimpin
mereka,” bentak raja Harun pada Imam Syafi’i.
“Wahai baginda, bila hamba
diperintah untuk bicara, hamba akan berkata jujur di hadapan baginda. Hamba
akan menceritakan tentang diri hamba pada baginda dan tetap berlutut
dihadapanmu. Namun, hamba mohon pada baginda untuk melepas belenggu yang
mengikat tangan dan kaki hamba.”
Kemudian sang raja pun
memerintahkan pengawalnya untuk melepas belenggu Imam Syafi’i. Setelah itu,
Imam Syafi’i berlutut di hadapan raja dan berkata,” wahai orang-orang yang
beriman, bila datang pada kalian orang fasik dengan membawa kabar, maka
selidikilah terlebih dahulu. Semoga hamba tidak termasuk orang fasik itu.
Sesungguhnya hamba memiliki dua
kewajiban pada baginda, yaitu menjaga kehormatan Islam dan tanggung jawab
kekeluargaan. Kedua hal ini yang menjadi bukti bahwa hamba tidak termasuk
pembangkang apalagi pemberontak kepada kepemimpinan baginda. Sebenarnya baginda
lebih berhak berpegang teguh pada hukum Allah, baginda adalah pembela dan
menjaga agama Nabi. di samping baginda putra paman nabi.” Pembelaan sang Imam
Syafi’i.
Setelah mendengar pernyataan
tersebut, wajah raja Harun berseri-seri dan raja berkata, ”Sungguh
kekuatanmu benar-benar sirna, karena aku akan menjaga hak kekeluargaan kita dan
keilmuwanmu, sekarang duduklah”, Imam Syafi’i pun duduk bersila.
Selanjutnya, raja Harun masih bertanya kepada beliau.:
“Hai Syafi’i, seberapa dalam
pengetahuanmu tentang kitab Allah?”
“Yang baginda kehendaki kitab yang
mana? karena kitab Allah yang diwahyukan sangat banyak.”
“Yang kukehendaki adalah kitab
yang diwahyukan pada putra pamanku, Muhammad.”
“Sungguh ilmu Al-qur’an sangat
banyak, kira-kira apa yang ingin baginda ketahui? Apa tentang ayat-ayat muhkam,
mutasyabih, takdim, ta’khir atau tentang nasikh mansukh, atau…”
Imam Syafi’i menyebutkan satu persatu
ilmu yang berkaitan dengan Al-qur’an, sehingga dari perincin beliau itulah sang
raja terkejut sekaligus menimbulkan kekaguman di hati raja dan yang hadir saat
itu. Kemudian raja Harun merubah pertanyaannya tentang ilmu falak, kedokteran,
dll. Namun, Imam Syafi’i bisa menjawab setiap pertanyaan yang diberikan raja
dengan baik sehingga membuat sang raja senang mendengar penjelasannya.
Setelah itu raja pun berkata, “hai
Syafi’i, kira-kira nasehat apa yang akan kau berikan kepada rajamu?” lalu Imam Syafi’i
pun menasehati raja Harun sampai membuat hatinya tersentuh, sehingga tanpa
disadari akhirnya sang raja pun menangis tersedu-sedu. Melihat raja menangis,
orang-orang yang hadir ikut berdiri. Namun, Imam Syafi’i menatap mereka dengan
tatapan marah, agar beliau menasehati raja sampai selesai.
Setelah mendengarkan nasehat Imam
Syafi’i, raja Harun Ar-rasyid membebaskan beliau dari semua tuduhan dan malah
memberi beliau hadiah lima puluh dinar. Kemudian Imam Syafi’i mohon diri kepada
raja Harun untuk meninggalkan istana.
Di luar istana raja, Imam Syafi’i
membagi-bagikan hadiah kepada para prajurit yang menjaga istana. Kemudian
beliau berangkat menuju kota Kuffah
untuk menemui gurunya , yaitu santri Imam Abu Hanifah, Imam Abu Yusuf dan
Muhammad bin Hasan. Di Kufah, Imam Syafi’i sering diskusi dengan kedua guru
beliau dan mulai mendokumentasikan pemikiran-pemikiran serta kajian-kajiannya
dalam beberapa kitab yang nantinya di kemudian hari pendapat Imam Syafi’i yang
disebutkan dalam kitab tersebut akan dikenal oleh para pengikut madzhab
(pemikiran) beliau dengan sebutan qaul qadim (pendapat terdahulu). waallahu
a’lam bisshowab.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







