By : Uzmatul Ulya
Judul Buku : Janji
Penulis : Tere Liye
Buku : Novel
Tahun terbit : 2022
Tebal Buku : 488 Halaman
Penerbit : PT Sabak Grip Nusantara
ISBN : 978-623-97262-0-1
Novel Janji karya Tere Liye yang ke-48 ini bercerita tentang sebuah misi perjalanan tiga santri
nakal yang mendapat hukuman dari Buya (pengasuh pondoknya). Misi tersebut adalah hukuman
bagi mereka bertiga yang sering melakukan kenakalan di pondok. Kahar, Baso, dan Hasan, itulah
namanya, seringkali dikenal dengan sebutan tiga sekawan. Bisa dibilang mereka berasal dari
latar belakang keluarga yang bermasalah, hingga sering melakukan kenakalan di pondok.
Bermula dari kejahilan mereka yang memberi garam pada kopi tamu kehormatan yang datang ke
pondok, hingga tiga bocah tersebut dipanggil oleh Buya ke ruangannya. Awalnya mereka
mengira bahwa mereka akan di keluarkan dari pondok (itulah yang mereka inginkan), alih-alih
mereka malah mendapatkan misi perjalanan untuk mencari orang bernama Bahar Safar.
Bahar Safar? Siapakah dia? Dalam novel ini tokoh Bahar Safar seolah-olah menjadi initi
pertanyaan setiap bembaca, dan yang membuat pembaca semakin seru untuk memecahkan
pertanyaan siapakan Bahar Safar dan apa yang telah dia perbuat.
Sebelum misi dimulai, Buya bercerita bahwa 40 tahun yang lalu ada seorang santri yang di
keluarkan dari pondok. Ketika itu, Buya masih berusia 10 tahun. Pondok masih dibawah asuhan
ayahnya Buya. Santri itu bernama Bahar. Dia adalah satu-satunya santri yang dikeluarkan dari
pondok. Dalam sejarahnya, pondok tersebut tidak akan mengeluarkan santri kecuali santri telah
menyelesaikan masa belajarnya. Bahar adalah santri yang sering mabuk-mabukan, berjudi, dan
adu binatang. Ia dibawa ke pondok tersebut karena orang tuanya sudah tidak ada dan neneknya
sudah putus asa dengan kenakalannya. Suatu ketika di bulan ramadhan, ia mendapat tugas
membangunkan santri untuk sahur. Namun, ia malah membangunkan santri menggunakan
meriam bambu, sehingga pondok yang berbahan kayu itu terbakar dan merenggut salah satu
nyawa santri.
Sebelumnya, ayah Buya tidak pernah mengeluarkan santrinya, senakal apapun itu. Namun kali
ini ayah Buya melanggar janjinya dan merasa gagal menjadi seorang guru. Setelah kejadian itu
terjadi, ayah Buya mendapat mimpi yang sama sebanyak tiga kali. Dalam mimpi tersebut ayah
buya bertemu bahar di suatu padang pasir. Bahar menunggangi kendaraan emas dan memanggil
ayah Buya untuk ikut bersamanya menaiki kendaraan tersebut. Padahal, di padang pasir tersebut
banyak orang yang kepanasan, merintih kesakitan, dan memikul beban-beban yang berat, namun
tidak dengan bahar. Sebelum meninggal, ayah Buya meminta Buya untuk mencari Bahar, namun
hingga sekarang Buya belum menemukannya, sehingga ia mengutus tiga santrinya tersebut untuk
meneruskan misinya mencari Bahar. Jika tiga sekawan tersebut dapat menemukan Bahar, mereka
boleh keluar dari pondok, seperti yang selama ini telah mereka impikan.
Mereka dibekali kotak berisi surat yang bisa dijadikan petunjuk dan beberapa uang untuk ongkos
perjalanan. Selama di perjalanan, banyak lika-liku yang mereka alami. Misi pencarian Bahar
selama diperjalanan inilah yang menjadikan seru ketika membaca novel ini. Setiap perjalanan
memberikan mereka wawasan tentang kehidupan. Sosok Bahar Safar yang dikenal sebagai
pemabuk, tukang judi, dan suka adu hewan tersebut memiliki cerita yang berbeda di kalangan
masyarakat yang mereka temui. Hari demi hari, dari satu tempat ke tempat yang lain, dari suatu
pulau ke pulau yang lain, dari tempat yang buruk hingga ke tempat yang mewah, sedikit demi
sedikit kisah Bahar Safar terungkap. Dari perjalanan tersebut, Kahar, Baso, dan Hasan menemui
banyak pembelajaran tentang sebuah kehidupan yang dikuak dari cerita perjalanan Bahar selama
di dunia ini.
Ternyata sebelum Bahar meninggalkan pondok, ayah Buya memberikan 5 pusaka kepadanya,
dan dia harus berjanji untuk melaksanakannya, diantaranya:
1. Selalu hormati dan bantu tetanggamu.
2. Selalu lindungi yang lemah dan teraniaya.
3. Senantiasa jujur dan tidak pernah mencuri.
4. Bersabarlah atas apa pun ujianmu.
5. Bersedekah, bersedekah, bersedekah.
Bahar Safar. Seperti namanya “Safar” merujuk pada istilah “musafir” yang berarti seorang yang
melakukan perjalan. Bahar adalah perantau yang mengunjungi kehidupan dunia ini. Dan dia
telah pulang ke rumah yang hakiki. Menyelesaikan perjalanan dengan gemilang. (hal. 480)
Novel ini sangat recommended untuk dibaca. Sang penulis mampu membuka wawasan pembaca
melalui setiap alur perjalanan yang dilakukan oleh tiga sekawan dalam memencari Bahar, dengan
bahasa yang mudah dipahami dan permainan kata yang selalu membuat teka-teki, menimbulkan
rasa penasaran dikalangan pembaca. Ceritanya tidak monoton, diselingi dengan humor dapat
membuat pembaca tidak bosan ketika membaca novel ini. Perasaan sedih, haru, bahagia,
menakutkan, dan lucu, ada dalam cerita. Hampir tidak menemukan kelemahan di novel karya
Tere Liye ini. Mungkin bagi beberapa orang yang tidak mengerti tentang bahasa Batak akan
sedikit kurang mengerti ketika terdapat bahasa batak yang muncul. Namun, ini dapat dijadikan
sebagai wawasan pembaca tentang bahasa daerah. Secara keseluruhan, novel ini sangat layak
untuk di baca, terutama bagi para pemuda untuk melihat dunia dan tujan hidupnya.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang








