Oleh : Hilwah Tsaniyah
Awal Februari ini seperti biasa aku kembali lagi melaksanakan rutinitas yang ngga gitu-gitu aja setelah hampir sepuluh bulan lamanya. Semenjak virus Corona muncul, ada banyak kegiatan dan keinginan yang akhirnya tertunda. Semua orang di dunia pun mulai belajar menerima dan berusaha hidup berdampingan dengan virus ini yang semakin hari semakin banyak berita yang membahas seputar virus ini mulai dari bertambahnya kasus positif Corona, bagaimana virus ini menyerang bahkan korban jiwa yang terus meningkat.
Ternyata ada rencana dibalik rencana. Memang manusia boleh merencanakan tapi Allah lah yang memiliki kekuasaan untuk menentukan segalanya. Setelah hampir sepuluh bulan berada di rumah, keinginan hati untuk kembali ke pondok akan semakin menipis. Ada banyak faktor yang harus disiapkan, yaaa selain uang pastinya. Ada niat yang harus dikuatkan dan juga hati yang harus ditata ulang.
Ketakutan yang selama ini ada walau kadang sempat yaudah la ya, pada akhirnya harus dirasakan sendiri terlebih dahulu. Terhitung sejak dua hari setelah sampai di pondok, ada kabar bahwa salah satu santri positif terpapar virus corona. Begitu pun aku dan kelima temanku yang hasilnya reaktif sesaat setelah tes rapid yang dilakukan di pondok. Mau tidak mau, kami pun harus isolasi mandiri di pondok bersama salah satu teman yang positif terpapar virus corona. Sisanya teman-teman yang Alhamdulillahnya negatif, segera mengemas beberapa pakaian dan keperluan lainnya untuk sementara pindah ke rumah abi dan ummah.
Hari-hari yang tak pernah ku bayangkan ada dalam hidupku akhirnya pun terjadi. Di mana aku harus melewati masa ini selama 14 hari lamanya, dan yaaa ini semua harus disyukuri. Kuharap masa ini hanya akan datang sekali dalam hidupku. Namun, ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil atas kejadian ini.
Salah satu hikmahnya yang bisa di petik adalah kami dapat mengenal satu sama lain dengan baik dan lebih dalam lagi. Eh tunggu, bukan kami, tapi aku. Ya hanya aku.
Tidak semenakutkan yang ku kira, seperti dikucilkan, dijauhi, atau bahkan dimusuhi oleh tetangga. Jauh daripada perasaan menakutkan itu, nyatanya ada banyak orang yang mensupport dengan doa, ucapan semangat, sampai kebutuhan pangan tiap harinya. Tak terkecuali orang tua yang sangat kami sayangi dan juga kami segani yang menjaga kita di pondok, yakni abi dan juga ummah.
Rasa syukur yang tak henti-hentinya diucapkan karena memiliki orang tua dan juga teman-teman yang saling menguatkan dan membantu dengan senang hati antara satu sama lain. Tidak ada yang bisa aku berikan kecuali ucapan terima kasih dan juga doa-doa yang paling tulus dan terbaik yang selalu ku panjatkan.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







