Oleh: Hariski Romadona
Setiap manusia pasti menginginkan kesuksesan. Namun,
sukses dalam hal apapun akan selalu memerlukan suatu gerakan dan usaha,
sebagaimana disinggung dalam Al-Quran surah Syarh yang berbunyi Inna ma’al‘usriyusro
“setelah ada kesusahan pasti ada kemudahan”. Contoh sederhananya begini:
seorang siswa bernama Ahmad punya keinginan belajar di negara-negara timur
tengah seperti Mesir, Madinah, dan Makkah. Namun, syarat untuk sampai ke sana
dia harus menghafal Al-Quran minimal 3 juz. Artinya untuk mencapai tujuannya,
dia harus bekerja keras dan bersusah-payah menghafal Al-Quran dan mempersiapkan
segala persyaratan untuk bisa pergi ke sana. Maka setelah berjuang menghafal
Al-Quran selama 3 tahun, akhirnya Ahmad bisa kesampaian kuliah di timur tengah.
Contoh Ahmad ini bisa menjadi gambaran bahwa orang yang ingin sukses harus
bersungguh-sungguh dan kerja keras. Kisah Ahmad ini juga menggambarkan bahwa
setelah ada kesusahan pasti ada kemudahan.
Terkadang dalam situasi mencapai sukses perlu yang
namanya kemampuan berpikir kuat atau kecerdasan. Namun, di sini kecerdasan
bukan satu-satunya modal untuk mencapai sebuah kesuksesan. Di indonesia
misalnya, banyak sekali koruptor yang mempunyai kecerdasan. Yang dengan
kecerdasannya itu ia berhasil mencapai tujuannya. Namun, sesungguhnya di balik
pencapaian itu tersimpan teror oleh perbuatan dan kesalahannya sendiri yang
terus mengusik. Banyak koruptor adalah orang yang hebat, pintar, dan bergelar
tinggi. Banyak koruptor adalah orang yang cerdas dan berpangkat. Namun,
seringkali ilmu dan jabatan yang ia miliki disalahgunakan untuk kepentingan
sendiri titik itulah sebab koruptor yang pintar tidak menjadi sukses karena
kepintarannya.
Kepintaran hanya dicerna sebagai kemampuan untuk
bersiasat dan membangun strategi menghindar dari curiga kejahatan. Kepintaran
hanya diasumsikan sebagai kemampuan pandai berbohong dan bisa memakan harta
haram sebanyak-banyaknya. Padahal pintar di sini tidak hanya sebatas kemampuan
isi kepala dan bermetafora. Tetapi lebih jauh dari itu adalah sebuah nilai
perilaku dan kemampuan bertingkah laku yang mulia. Banyak orang pintar banyak
ilmunya, saat sekolah selalu peringkat satu tetapi kemudian ilmu yang tidak
bermanfaat dan barokah hanya karena akhlaknya yang tercela.
Kepintaran harus selalu didasari dengan akhlak yang
mulia. Kita bisa meniru kyai-kyai dahulu seperti Hadrotussyekh KH. Hasyim Asy’ari,
beliau adalah Mahaguru dan pendiri Nahdlatululama. Beliau adalah sosok yang
sangat tawadhu, sopan, dan baik terhadap orang lain. Hadratussyekh di dalam
kitabnya menuliskan dirinya sebagai qodimul ilmi atau pelayan ilmu.
Penyebutan semacam ini sebagai gambaran bahwa suksesnya kyai-kyai dahulu bukan
hanya bermodal kepintaran saja akan tetapi juga karena sifat tawadhu kepada
gurunya, orang tua dan orang lain. Salah satu lagi yang juga memiliki
ketawadhuan tinggi adalah KH.Ma’sum Ali dari Maskumambang, pengarang kitab
AmtsilatuTashrifiyah. Beliau adalah kiai yang sangat tawadhu bahkan diceritakan
sebelum wafatnya beliau membakar fotonya sendiri untuk menghindari diri dari
sifat ujub atau bangga diri dan takabur. Kyai Ma’sum adalah santri
hadratussyekh Hasyim Asy’ari yang sukses karena sikap tawadhu’nya kepada sang guru.
Santri yang pintar belum tentu menjadi orang sukses dan
santri yang tidak pintar belum tentu gagal, artinya sukses tidak diukur oleh
kepintaran titik terkadang ada santri yang mondok 10 tahun hanya melayani kyai
atau mengabdi setelah pulang ia menjadi orang alim dan tokoh masyarakat. Malah
seringkali dijumpai santri yang sukses di masyarakat adalah memang santri yang
mengabdi di pondoknya semisal nyapu masjid, membersihkan jeding, menata sandal
kyai, dan membuang sampah di tong sampah titik. Kemudian juga ada santri yang
tidak begitu dianggap oleh masyarakat padahal semasa di pondok ia adalah santri
yang pintar.
Untuk mencapai kesuksesan kita juga bisa meniru ketekunan
ilmuwan Thomas Alva Edison, seorang penemu lampu pijar. Dalam usahanya, Thomas
bahkan mengalami 1000 kali kegagalan untuk bisa menemukan lampu pijar tapi
akhirnya usaha Thomas membuahkan hasil yang memuaskan titik bola lampu pijar
yang dibayangkan berhasil diciptakan. Selain Thomas, ada kisah Ibnu Hajar yang mondok
selama sekitar 20 tahun tetapi selama itu ia tidak dapat menerima pelajaran
sama sekali. Akhirnya Ibnu Hajar menemukan takdir pintarnya ketika ia secara
kebetulan memperhatikan sebuah batu yang ditetesi air secara terus-menerus
sehingga menjadikan batu keras itu berlubang. Ibnu Hajar berpikir “kalau batu
yang keras saja bisa lapuk dan berlubang apalagi otak yang lebih lunak dari
batu ini.” Akhirnya Ibnu Hajar kembali ke pondoknya dan belajar dengan
sungguh-sungguh sampai kemudian ia menjadi ulama yang masyhur.
Mungkin
dari kisah-kisah di atas bisa menjadi motivasi kita untuk mencapai kesuksesan.
Orang sukses adalah orang yang mau bersungguh-sungguh dan mau bekerja keras,
bukan orang yang hanya mengandalkan kepintarannya. Sesungguhnya kepintaran itu
datangnya dari Allah SWT. tetapi bersungguh-sungguh dan bekerja keras itu dari
kita sendiri.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







