Aku ingin pulang. Biasanya aku turut mengangkat gabah dari pematang ke badan mobil bak. Bersenda gurau dengan paman-paman di sawah, seakan menjadi obat penawar rasa lelah usai bekerja keras di bawah terik surya. Menyantap kepulan nasi hangat berlaukkan sambal terasi tak lupa tempe tahunya, menjadi moment makan yang langka untuk ku dapatkan kembali.
“Bagaimana kuliahmu Bar ??”
“Alhamdulillah, tahun depan Insyaallah Barta wisudah mak”
“Alhamdulillah”
Usai bersapa kabar dan pendidikan, Emak berniat untuk menutup panggilannya.
“Sekejap mak, bagaimana hasil sawahnya mak ??”
Mataku tidak berhenti terbelalak sepanjang bercerita tentang kondisi kampungku sekarang. Suara parau Emak yang terdengat berbata-bata, mengiaskan perasaan emak yang tercabik-cabik disana. Hasil panen yang biasanya mencapai puluhan ton, kini hanya mendapat sepuluh karung gabah saja. Bukan hanya Emak, masyarakat kampungku juga sedang dilanda dilema yang mendalam. Sawah sudah menjadi tempat paling nyaman setelah surau dan rumah. Semua kepala yang tinggal disana hidup bergantung dari hasil sawah.
“Bagaimana bisa terjadi mak ?”
Mendengarnya, aku dapat menyimpulkan bahwa sumber masalah datang dari proyek itu. Tikus-tikus hutan yang rakus makanan, akan kehilangan tempat tinggal dan tempat mereka mencari makan. Akar pohon yang biasanya menjadi sarang setiap hari sudah tiada lagi, jadi mereka akan mencari tempat yang baru lagi, yaitu sawah. Mengingat bahwa sawah di kampungku bersebelahan dengan hutan. Makanannya diambil oleh manusia, maka mereka juga akan kembali mengambil makanan manusia. Alhasil banyak sawah yang gagal panen, akibat gigi-gigi panjang mereka.
Mungkin disana kini bibi-bibi menggantungkan capingnya dan paman-paman menyimpan mata sabitnya yang biasanya kotor oleh lumpur sawah. Tak ada lagi mobil bak dan tawa anak-anak berlalang memenuhi badan jalan. Aku benar-benar terpukul atas kegagalan panen tahun ini. Semoga kepelikan ini akan segera bisa diatasi.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







