![]() |
| https://1.bp.blogspot.com/-ok_5iSSgKkc/X7XF5b08p6I/AAAAAAAAIUs/7imb9ceUiaEp7i6uUm2Db-BktiwRxHcEwCLcBGAsYHQ/s1280/SEPIRING%2BHADIAH%2BUNTUK%2BAHLI%2BKUBUR.jpeg |
Oleh : Hany Zahrah
Memberi hadiah kepada orang yang masih
hidup itu sudah biasa, lalu bagaimana jika kita memberikan hadiah kepada orang yang sudah mati?
Gini sobat, dalam Hadits Riwayat Imam Muslim
disebutkan beberapa perkara yang tidak terputus setelah ia meninggal, berikut
bunyi haditsnya :
إِذَا مَاتَ
الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ
وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang
meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu)
sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh”
(HR. Muslim)
Dalam hadits diatas disebutkan terdapat
tiga perkara yang tidak terputus amalannya setelah meninggal dunia, yaitu sedekah
jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh. Pertama, Sedekah
jariyah itu seperti mewakafkan tanah untuk membangun masjid, atau membangun
pondok pesantren, yang mana pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah
wafat. Kedua, ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang kita ajarkan atau kita tulis dan orang itu terus
mengamalkan. Ketiga, doa anak yang sholeh, mempunyai anak yang sholeh
adalah impian semua orangtua, untuk itu Islam amat mendorong seseorang untuk
memperhatikan pendidikan anak-anak mereka dalam hal agama, sehingga nantinya
akan tumbuh menjadi anak yang sholeh.
Bagaimana kalau
anak kita tidak sholeh/ah? Apakah doanya tidak akan diterima?
Kata “doa anak
yang sholeh” tidaklah bermakna bahwa yang diterima hanya terbatas pada anak yang
sholeh/ah saja. Namun pengertiannya adalah bahwa umumnya yang mau mendoakan
adalah anak, ketimbang orang lain. Sebab antara anak dan orangtua ada hubungan
batin yang kuat. Seorang anak yang baik pasti mau dengan ikhlas dan rela
memanjatkan doa untuk kebahagian orangtuanya di alam kubur.
Dikisahkan dalam
kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddim bin Salamah Al Qalyubi bahwa pada
malam jumat Shalih al Mursi pergi ke masjid jami’ untuk melaksanakan sholat
subuh. Di tengah perjalanan ia melewati maqbarah (kuburan) dan berdiri sejenak
sampai fajar datang, Ia pun melaksanakan sholat seperti biasanya. Namun, usai
melaksanakan sholat Ia merasakan kantuk yang luar biasa hingga akhirnya
tertidur.
Saat tertidur,
Shalih melihat para penghuni kubur dalam maqbarah yang Ia lewati tadi
berhamburan keluar dengan berpakaian putih, mereka duduk bergerombol saling
bercerita. Namun, dalam mimpinya itu Shalih menyaksikan ada satu pemuda yang
berpakaian lusuh yang duduk sendirian dan terlihat sedih. Tidak lama kemudian
Shalih Al Mursi menyaksikan sekelompok orang yang bergerombol itu mendapatkan
piring yang ditutupi sapu tangan, setiap orang mendapatkan jatah satu piring.
Pada saat yang sama, pemuda yang terlihat bersedih itu tidak mendapatkan
apa-apa lalu ia pergi dan masuk kedalam kuburannya.
Shalih Al Mursi
bergegas memburu pemuda tadi,
“ Wahai Hamba
Allah, aku melihatmu sangat bersedih, sebenarnya apa yang terjadi padamu?”
tanya Shalih kepada pemuda itu.
“Wahai Shalih,
apakah kamu tidak melihat piring-piring yang dibagikan” jawab pemuda itu.
Pemuda itu
menceritakan bahwa piring-piring tersebut merupakan piring kiriman (hadiah)
dari orang yang hidup kepada orang yang sudah mati. Dikatakannya, setiap orang
hidup yang bersedekah dan berdoa ditujukan untuk orang yang sudah wafat, maka
doa dan sedekah itu akan disampaikan kepada ahli kubur setiap hari jumat dalam
bentuk piring.
“Aku adalah orang
asing yang berasal dari negara Hindi dan berniat akan melaksanakan ibadah haji
bersama ibuku. Namun sayangnya, ketika baru sampai Bashrah aku muninggal dan
dikuburkan disini” imbuhnya.
Pemuda itupun
menceritakan bahwa beberapa waktu setelah Ia wafat, ibunya menikah lagi dan
sibuk dengan suami barunya hingga melupakannya.
“Ibuku tidak
pernah berdoa dan bersedekah untukku seakan dia tidak punya anak, sungguh dunia
telah membuatnya lalai” keluhnya.
“Dimana alamat
rumah ibumu?” tanya Shalih dan langsung dijawab pemuda itu dengan alamat yang
lengkap.
Shalih terbangun
dari tidurnya dan bergegas menuju alamat yang disampaikan pemuda dalam mimpinya
itu. Saat sampai dirumah Ibunya, Shalih menanyakan beberapa hal perihal pemuda
yang ada dalam mimpinya itu. Kemudian Shalih menceritakan apa yang dialami oleh
anaknya di alam kubur. Ibunya pun menangis dengan penuh sesal, tak lama
kemudian ibu itu memberikan 1000 dirham dan meminta Shalih untuk menyedekahkan
uang itu untuk anaknya. Shalih kemudian pamit dan melaksanakan amanat ibu dari
pemuda tersebut.
Pada hari jumat
berikutnya, seperti biasanya Shalih berangkat menuju masjid jami’ untuk melaksanakan
sholat subuh. Kejadian sebelumnya terulang kembali, Shalih tertidur usai
melaksanakan sholat. Saat tertidur Shalih kembali melihat para ahli kubur
berhamburan keluar dan bertemu lagi dengan pemuda yang sebelumnya lusuh dan
bersedih itu, namun kali ini pemuda itu berpakaian putih bersih dan terlihat
sangat bahagia.
“Wahai Shalih,
semoga Allah membalas kebaikanmu, sesungguhnya hadiah sedekah 1000 dirham telah
sampai kepadaku” ujarnya.
Dari kisah diatas
dapat dipahami bahwa orang yang telah meninggal dunia itu sebenarnya
mengharapkan kiriman atau hadiah doa dari orang yang masih hidup. Dengan kata
lain, kiriman atau hadiah doa itu sangat berarti baginya, bahkan pahalanya pun
akan sampai.
Untuk itu teruslah
mendoakan orang-orang yang telah mendahului kita, baik orangtua, nenek, kakek,
teman, ataupun guru-guru kita. Karena itu sangatlah bermanfaat bagi mereka.
Sumber : Ig @ngajitasawuf







