MENGHADAPI ERA DIGITALISASI DENGAN MELEK LITERASI

Oleh: Siti Khoirun Niswah


Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) menjadi
tuntutan zaman yang tidak dapat dihindari. Hal tersebut merupakan bentuk
perubahan zaman yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat. Terlebih kondisi
pandemi sekarang ini yang membuat masyarakat dituntut untuk melek dengan
teknologi. Pesatnya perkembangan teknologi informasi merupakan tantangan yang
harus dihadapi dunia. Mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial dan sebagainya,
bahkan saat ini teknologi informasi sudah menjadi budaya masyarakat. Di masa
sekarang ini, kemampuan berinteraksi, berkomunikasi, dan beraktualisasi dapat
dinyatakan secara tertulis. Bagaimana tidak, mulai dari pendidikan yang saat
ini belum bisa bertatap muka di kelas, dituntut harus dapat memahami teks dalam
bentuk materi ataupun soal-soal yang harus dijawab dari para guru atau dosen.
Begitu juga dengan bidang ekonomi, yang sekarang ini cukup dengan mengetik apa
yang diinginkan melalui gawai sebagai pemesanan kebutuhan-kebutuhan rumah
tangga. Hal lain seperti pemasaran-pemasaran produk juga cukup dengan menulis
deskripsi disertai gambarnya, lalu pengiriman dapat melalui via online.
Hal tersebut menuntut masyarakat untuk melek dalam literasi.

Melihat fenomena hal tersebut, saat ini keterampilan literasi
memiliki pengaruh yang signifikan bagi masyarakat luas, terlebih dalam bidang
dunia akademik. Literasi akan membantu generasi muda dalam memahami informasi
baik secara lisan maupun tulisan. Dalam hal ini khususnya kaum akademisi lebih
dituntut untuk dapat menjadi literat yang mampu meningkatkan kualitas diri. Artikel
the Education and Language International Conference Proceeding Center for
International Language Development of Unnisula
menyebutkan bahwa literasi
merupakan sebuah karya yang berkenaan dengan huruf. Dalam hal itu, dapat
dikatakan bahwa seseorang yang yang memiliki kemampuan literasi mereka yang mampu
membaca dan menulis.  Para literat juga
diharapkan memahami transformasi makna literasi yang tidak hanya membaca dan
menulis, tetapi juga dalam berbagai aspek seperti sosial dan budaya. Di mana
hal tersebut bertujuan untuk mendatangkan kemanfaatan bagi masyarakat.

Lalu bagaimana cara membangkitkan literasi dan menghilangkan stigma
bahwa literasi itu sulit dilakukan? Dalam hal ini bukan bagaimana cara
membangkitkan literasi, namun kesadaranlah yang lebih diunggulkan. Ketika
seseorang sadar bahwa literasi itu sangatlah penting bagi kehidupan baik dalam
dunia akademik ataupun masyarakat luas, tentunya sedikit demi sedikit akan
menghilangkan stigma bahwa literasi itu tidaklah sulit untuk dilakukan.  Islam juga menyebutkan dasar tentang literasi sebagaimana
ayat yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad saw. QS. Al-Alaq ayat 1-5
yang artinya : 1) bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2)
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, 3) bacalah, dan Tuhanmulah yang
Maha Mulia, 4) yang mengajar manusia dengan perantara pena, 5) Dia mengajar
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Membaca merupakan perintah
Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. Melalui perantara malaikat jibril. Membaca
juga merupakan perintah Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad dan merupakan
pembuka jalan turunnya wahyu-wahyu selanjutnya sebagai pedoman kehidupan
manusia di dunia. Untuk mentrasformasi makna-makna serta perintah-perintah
Allah dalam Al-Quran sehingga mampu memperdalam keluasan Islam secara lebih
mendalam. Dasar dari kalamullah tersebut terlihat jelas perintah untuk menjadi
literat. Intelek muda saat ini yang dibutuhkan ialah para literat yang mampu
meningkatkan kualitas dirinya dengan mampu memahami transformasi makna dari
membaca lalu menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Tumbuh suburnya pengetahuan sekarang ini merupakan bukti pentingnya
kemampuan dan semangat berliterasi untuk memberikan kontribusi keilmuan. Selanjutnya
akan disosialisasikan kepada masyarakat luas dan akan diwariskan pada
generasi-generasi muda selanjutnya. Kenapa kaum akademisi menjadi peran penting
dalam literasi? Sebab dalam lingkungan masyarakat mereka dianggap sebagai pemimpin
yang memiliki ilmu cukup untuk dapat memperluas keilmuan tersebut. Maka dari
itu kita sebagai kaum akademisi haruslah melek akan pentingnya pengetahuan dan
literasi. Segala kesempatan yang dapat kita lakukan mari kita lakukan untuk
kehidupan yang lebih baik, dan yang terpenting sampai pada tingkat untuk
menambah keimanan kita pada Sang Pencipta. Sebagaimana juga disebutkan dalam Al-Qur’an, bahwa manusia merupakan kholifah di muka bumi, apa yang akan kita
wariskan kalau bukan pengetahuan. Pengetahuan itulah yang harus kita torehkan
ke dalam bentuk tulisan yang dapat dijadikan sebagai referensi pengetahuan
generasi selanjutnya.

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Perum. Bukit Tidar F3, No. 4

Darunnun.com

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp