![]() |
| sumber foto: pribadi |
Oleh: Erwin
Sebagai makhluk sosial berinteraksi dengan manusia lainnya merupakan sebuah keniscayaan. Tak jarang dalam interaksi tersebut menimbulkan konflik yang menyebabkan retaknya hubungan antar sesama. Sejatinya, konflik berkepanjangan terjadi karena para pihak masing-masing merasa yang paling benar, dimana biasanya rasa tersebut ditaburi dengn bumbu-bumbu dengki. Sebagaiman yang kita tahu sifat tesebut merupakan salahsatu dari dua sifat yang dibenci Allah karena merusak kebaikan bagikan api yang memakan kayu bakar. Disamping itu, salah satu sifat yang seringkali memperburuk konflik adalah playing victim, tabiat sipaling merasa tersakiti.
Playing victimmerupakan salah satu ragam sifat dan sikap manusia yang sering viral belakangan ini. Playing Victim atau biasa juga disebut dengan victim mentality merupakan perilaku seseorang yang menghindari tanggung jawab atas kesalahan yang telah ia perbuat. Mereka yang melakukan playing victim paling bisa memposisikan bahwa dalam komflik tersebut dirinyalah orang yang paling tersakiti, paling korban, paling menderita, dan harusnya paling dilindung dan didukung, padahal dibalik itu merekalah pelaku sebenarnya. Singkatnya playimh victim terjadi ketika seeorang melemparkan kesalahannya kepada orang lain padahal kesalahan tersebut adalah perbuatannya sendiri.
Secara khusus tindakan playing victim dalam islam merupakan perilakua yang tercela. Sifat tersebut merupakan bagian sifat bohong karena tidak mau mengakui kesalahan serta berusaha melempar kesalahan kepada orang lain, sehingga orang tersebut meras tidak nyaman. Dalam kaitanya dengan kasus hukum, playing victim sering muncul dicelah-celah proses penyelasaian pekara dipengadilan. Hal ini dilakukan demi mendapat simpati hakim serta publik demi keringanan tuntutan. Sebagai contoh, beberapa bulan yang lalu, PC salah satu terduga pelaku kasus pembunuhan besar memberi komentar atas penangkapannya, dimana dia mengtakan “tidak apa-apa saya diperlkukan seperti ini, saya ikhlas”, yang secara tidak langsung, dia menganggap bahwa dia telah diperlakukan sangat buruk, dan harusnya dikasihani, dan tak seharsnyaa berada disituasi seperti itu, sementara bukti-bukti yang telah terkumpul megarah kepadanya. Namun, pada dasarnya playing victim paling sering terjadi ditengah-tengah hubungan manusia pada umumnya seperti dalam pertemanan, keluarga, hingga pernikahan. Berbagai konflik apapun berpotensi menimbulkan sifat berbahaya ini.
Sebagian dari kita mungkin pernah menjadi pelaku playing victim, sehingga perlu intopeksi terhadap apa yang telah kita perbuat itu. Adapun cara terhindar dari perilaku playing victim adalah sebagai berikut:
1. Tanamkan dalam diri bahwa kita adalah pejuang, bukan korban.
Merasa menjdi korban akan membuat orang lain merasa bersalah dan tidak nyaman. Jadilah pejuang demi hidup yang lebih bermakna.
2. Miliki rasa tanggung jawab atas diri pribadi
Semua orang pada umumnya pasti senang akan pujian, akan tetapi jangan merasa diri palin spesial, sehingga tak mungkin melakukan kesalahan. Milikilah rasa tanggungjawab sehingga apapun kesalahan apapun yang dibuat bisa diakui dan dipertanggungjawbkan.
3. Meditasi dan merenungi diri.
Setiap kesalahan-kesalahan adalah sebuah pembelajarang berharga, merenungi kesalahan itu akan membuat seseorng lebih mengevaluasi diri untuk perilaku yang lebih baik kedepnnya.
4. Hindari memperlakukan diri terlalu keras
Sering menjadikan diri sendiri sebagai korban, berarti juga telah siap untuk selalu menjadi korban. Jangan sampai perilaku pura-pura menjadi korban ini malah justru menjadikanmu korban betulan. Padahal, dalam hal apapun menjadi korban tidaklah menyenangkan. Meski akan mendapat simpati dan perhatian dari orang lain, namun itu tak akan lebih menyenangkan dibanding Anda bisa bangkit dan melawan.
Pondok Pesantren Darun Nun








