Oleh: Ahmad Nasrul Maulana
Masih sangat dini, untuk
sebuah aroma racikan rempah menyeruak tajam seperti ini. Dengan ditemani
takzimnya tarhim dari toa peribadatan, tak butuh waktu lama untuk wanita itu
mematangkan kuah kuningnya. “Bruakk !!” Bunyi tanpa derapan
langkah memecahnya. Tak lama usainya, suara sesenggukan menyusuli.
“Kau bisa mengatakannya dengan lembut, pak” Terdengar degus kemarahan
memitam, seperti sebuah jawaban.
Aku membuka kecil daun
pintu. Dahinya
terangkat, menciptakan aura kejam di setiap semburat wajahnya. Laki-laki itu
memang kerap tidak tidur di rumah, baru di ujung malam ia pulang dengan membawa
setumpuk masalah. Berbeda sosok di mukanya, aku bisa merasakan ketabahan di
wajahnya. “Anakmu menyukainya, pak”
Tidak
ada sahutan, namun wajah wanita itu terlihat sedikit terangkat.
“Bruakk”
Ia
kembali memukul meja makan-lebih keras. “Yang bekerja itu aku, bukan
anak-anakmu”
“Ini baru pertama kalinya aku menuruti dia, sekali ini saja kau
mengalah”
Senyap sesaat, sebelum wanita
itu lari terbirit, mengambil sepeda lantas mengayuh kayuhnya kencang. Sedang
aku bergegas menutup pintu untuk kembali menenggelamkan wajah di dalam selimut,
ketakutan. Tak bisa ku bayangkan, laki-laki kesetanan itu menghampiriku sembari
melayangkan pisau di genggamannya. Pikiranku kemana-kemana, bayangan
menyantap soto hangat di pagi buta, harus raib seketika.
Belum ada sepuluh menit,
kebisingan bertandang lagi. Namun kali ini suranya lebih besar diiringi
hembusan nafas yang sedikit tersenggal. “Wan, keluarlahh !!” Kembali
aku membuka kecil daun pintu untuk mengintipnya.
“Ada apa Sis ??”
“Istrimu mengalami kecelakaan, dia meninggal”
Jleb,.







