Oleh : Ilman
Mahbubillah
Kegiatan
pelaksanaan haul sudah mesti sangat lazim diadakan diberbagai daerah
Nusantara. Peringatan haul sendiri berasal dari bahasa Arab yang
bermakna setahun adalah kegiatan yang dilaksanakan dalam satu tahun untuk mendoakan
seorang yang sudah kembali ke haribaan Ilahi. Sementara tujuan utama
dari kegiatan ini adalah guna mendoakan Ahli Kubur agar seluruh
kebaikannya ketika masih hidup di dunia dapat diterima. Terkadang kita menemui
peringatan haul yang diselenggarakan baik itu di desa maupun di kota,
pada umumnya adalah seorang tokoh agama atau masyarakat yang sudah pasti
mempunyai andil besar ketika masa hidupnya ataupun anggota keluarga kita juga dengan
harapan digelarnya peringatan haul untuk mereka guna mengenang serta
meneladani jasa dan amal baik mereka selama masih hidup.
Kemudian
puncak daripada pelaksanaan haul adalah merefleksikan semua teladan untuk
diri kita guna mempersiapkan bekal ketika kelak kita mengalami kematian juga. Namun
peringatan haul sendiri tidak harus sakral tepat pada tanggal dimana
seorang meninggal dunia seperti perayaan Ulang Tahun, karena biasanya haul sendiri
pelaksanaannya ditentukan oleh keluarga Ahli Kubur berdasarkan
pertimbangan tertentu yakni berhubungan dengan acara lain yang diselenggarakan bersamaan
dengan peringatan haul itu.
Dilihat
dari sasaran daripada pelaksanaan sebuah haul adalah seorang yang memiliki
peran penting atau jasa serta keteladanan, sempat terlintas sejenak dihati kita
“Loh tapi kenapa Nabi Muhammad tidak ada haul nya?”. Kembali ke dasar
atau dalil adanya peringatan ini adalah ketika Rasulullah SAW mengunjungi syuhada’
perang Uhud dan makam keluarga di Baqi’ kemudian mengucapkan salam
dan dilanjutkan dengan mendoakan mereka atas amal yg telah dikerjakan. Lantas,
mengapa untuk tidak ada perayaan haul yang diperuntukkan untuk
Rasulullah? Padahal Rasulullah menyandang sebagai manusia paling sempurna. Jasa
serta pengorbanan sudah pasti tidak perlu ditanyakan lagi, bahkan seluruh masa
hidupnya di-bhakti kan hanya untuk syiar agama Islam. Lalu apakah umat
Islam sudah bisa dianggap melupakan jasa Rasulullah dengan tidak melakukan
peringatan haul untuk Rasulullah?
Jawabannya
tentu tidak. Umat Islam selalu bahkan senantiasa mengenang jasa Rasulullah
semasa hidup dengan berbagai cara seperti melantunkan Sholawat, menghadiri
majelis maulid yang umumnya dilaksanakan seminggu satu kali, bahkan dalam
penulisan kitab-kitab maulid serta sholawat tidak terlepas dari tujuan
mengenang Beliau SAW. Sekarang yang jadi pertanyaan nya adalah, mengapa tidak
diadakan juga perayaan haul untuk Rasulullah yang sudah jelas jasa serta
teladannya. Disini penulis berpendapat bahwa salah satu alasan tidak
diadakannya perayaan haul yang diperuntukkan bagi Baginda SAW adalah
karena berkaca pada sasaran dari haul itu sendiri.
Ketika
seorang yang punya andil besar serta keteladan dalam hidupnya maka pada umumnya
ketika dia meninggal, akan dilaksanakan peringatan haul. Namun, jika
seandainya diadakan juga perayaan haul untuk Nabi SAW, siapa yang akan
kuat mengenang kematian kekasih Allah? Siapa yang kuat memperingati hari dimana
dunia ditinggalkan oleh sosok pembawa rahmat Allah? Siapa yang kuat kehilangan
teladan sejati yang tak pernah terjerat dalam dosa?. Mari kita renungkan
sejenak, ketika Maulid dibacakan, dilantunkan, terkadang kita terbawa dengan
suasana tentram nan damai yang dirasakan seorang muallif ketika menuliskan
kenangannya tentang bagaimana seluruh alam ketika Rasulullah dilahirkan, betapa
gembira seluruh makhluk tak terkecuali hewan dan tumbuhan ketika Ibunda Siti
Aminah melahirkan sosok makhluk paling dicintai. Inilah alasan kenapa tidak ada
perayaan haul bagi Nabi SAW, akan tetapi diganti dengan peristiwa hadirnya
ke alam semesta melalui kelahirannya yang disebut Maulid Nabi SAW yang terdapat
pada bulan Rabi’ul Awal yang sebentar lagi kita temui. Selain itu, sebagian
ulama perpendapat bahwasannya Rasulullah SAW telah mulia bahkan sebelum
dilahirkan ke dunia.
Oleh
karena itu, dibalik peristiwa kelahiran Baginda SAW terdapat kenikmatan yang
harusnya kita syukuri. Karena sumber kebahagiaan terbesar kita sebagai seorang
muslim adalah iman dan islam yang tidak lain dibawa bersamaan dengan hadirnya
Nabi Muhammad SAW. Seorang yang mengenalkan bagaimana arti kedamaian berupa
agama Islam, juga sosok teladan sempurna yang menjadi sebab utama teguhnya
keyakinan berupa Iman. Membawa kalam sang khaliq yang menjadi petunjuk serta
pedoman menjalani kehidupan melalui mukjizatnya. Inilah beberapa sebab dari
sekian banyak sebab mengapa tidak ada perayaan haul untuk Rasulullah.
Semoga dari tulisan ini, dapat menumbuhkan, menambah, bahkan memantapkan
kecintaan kita terhadap Baginda SAW, juga mempersiapkan sebuah persembahan
berupa hadiah sebagai wujud syukur kita yang sebentar lagi dipertemukan dengan
bulan dimana Rasulullah SAW dilahirkan ke alam semesta.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







