PERMEN KARET

Oleh: Rafi’ Alra

Namaku Lati. Itu nama panggilan. Nama
panjangnya Melati Mercury. Mercury bukan nama orang tuaku, tapi itu nama sebuah
hotel di kotaku. Aneh? Haha aku juga berfikir seperti itu. Kata ibu aku lahir
di hotel tersebut secara mendadak tanpa aba-aba untuk keluar. Tapi itu gak
penting. Ini aku, siapa aku? Ya Lati. Aku sekarang berusia 22 tahun. Aku anak
ibu dan bapakku. Lahir pada tanggal 23 September 1998. Ini ceritaku kala itu
saat akan memulai kehidupan masa SMA.

Sekarang tanggal 12 Juli 2014 dan besok
tanggal 13 Juli 2014. Berarti besok adalah hari pertamaku masuk SMA. Aku gak
tau SMAnya yang mana dan di mana. Karena semuanya kuserahkan pada bapak. Karena
aku selalu percaya kalau orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya.

Tepat pukul 06.00 aku diantar oleh bapak ke sekolah.
Itu semua karena aku belum tau sekolah di mana. Jalur masuk sekolahpun adalah
jalur orang dalam. Seperti kata orang-orang, “jika ada orang dalam, semua
permasalahan cepat terselesaikan”.
Itu selalu terlintas dalam benakku.
Sesampainya di sekolah aku sih merasa biasa aja, gak ada yang wow. Tidak
menarik, hmm mungkin aku salah, karena sekolah ini adalah SMA terbaik se-kabupaten.
Aku mengetahuinya ketika Kepala Sekolah membangga-banggakan sekolah ini. Sudah
biasa memang, tidak mungkin dia mengatakan kekurangan sekolah ini. Misi
pertamaku di sekolah baru adalah ingin mendapat teman baru. Nah tentu saja aku
menemukan beberapa teman baru yang terlihat begitu jaim namun seperti menutup
diri. Tentu saja mereka menjaga image, haha.

Namun sekarang ada yang aneh. Ketika
berakhirnya hari pertamaku di sekolah, sambil menunggu bapak aku duduk-duduk
dulu di taman sekolah. Ada seorang anak laki-laki menghampiriku, sepertinya dia
sama-sama siswa baru sepertiku. Dia memperkenalkan diri. Namanya Abdul, Abdul
Alam. Kami ngobrol-ngobrol membahas cerita ketika di dalam ruangan tadi.
Seperti perempuan biasa aku tentunya agak was-was ketika dihampirin anak cowok.
Apalagi dari dulu sangat jarang aku punya teman cowok. Aku menilainya sebagai
seorang laki-laki yang ceria dan asik diajak bicara. Mungkin perempuan lain
juga berpendapat sepertiku. Setelah kami mengobrol Abdul pamit duluan karena
mau pulang bersama teman-temannya. Tidak lama kemudian bapakku datang
menjemputku. Dan akupun segera menuju mobil.

Selama di mobil aku memikirkan tentang Abdul,
laki-laki sesama siswa baru yang baru kukenal. Tapi ya biarlah untuk apa
dipikirkan. Sesampainya di rumah aku segara mengganti pakaianku. Namun aku
berhenti ketika selesai membuka rok sekolah ku. Aku melihat ada permen karet
yang menempel di bagian rok belakang. Dan seketika itu pula aku mengingat
Abdul. Seketika prasangka buruk pun muncul mengarah pada Abdul. Aku langsung
berprasangka bahwa Abdul lah pelaku atas kejadian ini. Aku berfikir dan yakin
kalau dia meletakkan permen karet itu ketika aku sempat berdiri melihat ke
jalan untuk memastikan kalau ada tanda-tanda kedatangan bapakku. Aku begitu
yakin kalau dia pelakunya, karena karakternya yang asik namun terlihat sedikit
jahil. Aku begitu marah dan ingin menemuinya besok di sekolah.

Paginya seperti kemaren aku kembali diantarkan
bapak. Setibanya di sekolah aku langsung menuju papan pengumuman karena hari
ini adalah penentuan kelas. Setelah melihat papan daftar nama, ternyata aku ditempatkan
di kelas 1 B.  Dan sesegera mungkin aku
langsung menuju kelas dan langsung memilih tempat duduk. Setelah memilih tempat
duduk aku melihat seluruh isi kelas. Mulai dari teman-teman sekelas dan seluruh
sudut kelas. Ketika aku menoleh ke belakang, aku sempat kaget karena di belakangku
adalah orang yang menjahiliku kemaren. Ya dia Abdul. Untuk sementara aku
menahan emosi ku kepadanya, karena sebentar lagi wali kelas akan segera sampai.

Ketika jam istirahat telah tiba, tanpa
berfikir panjang aku segera menemui Abdul dan membahas tentang kejadian
kemaren. Ketika aku membahasnya dia malah tertawa girang tanpa merasa bersalah.
Aku langsung kesal dan memilih untuk kembali ke tempat duduk dan diam sambil
menahan tangis karena perlakuannya. Sampai saat berakhirnya kelas aku tetap
menahan emosi kepadanya. Dan ketika waktu yang sama seperti kemaren Abdul
kembali mendatangiku. Namun kali ini berbeda dia mau minta maaf kepadaku atas
kejadian kemaren. Tentu saja aku tidak mau memaafkannya. Pertama karena
kejahilannya dan kedua karena perlakuannya padaku ketika dikelas tadi. Aku
mengusirnya namun dia tidak mau pergi sampai ketika bapak datang menjemputku.
Ketika aku berjalan ke mobil bapak, tiba-tiba Abdul berlari dan menghampiri
bapak yang sedang di dalam mobil. Ternyata dia mau meminta maaf kepada bapak
karena telah menjahiliku kemaren. Bapak yang tidak tahu apa-apa malah terlihat
bingung dan mengiyakan saja atas setiap perkataan si Abdul. Dan akhirnya si
Abdul pun pergi lalu kami pun berangkat pulang ke rumah. Selama di mobil tadi
bapak menanyakan kepadaku tentang si Abdul. Dan akupun menceritakan semua yang
tejadi. Awal nya bapak emosi dengan perilaku si Abdul yang telah menjahili
anaknya, namun bapak juga salut dengan keberanian si Abdul meminta maaf
langsung dan terlihat menyesali perbuatannya.

Besoknya di sekolah aku kembali melaksanakan
aktivitasku sebagai seorang murid SMA. Namun hal yang berbeda terjadi karena
ada seorang anak yang selalu meminta maaf kepadaku. Ya tentu saja, dia adalah
Abdul. Hal ini dilakukannya selama lebih dari satu minggu. Sebenarnya aku sudah
memafkannya setelah dia meminta maaf langsung ke bapak, namun aku hanya
mengujinya. Dan pada akhirnya aku pun mengatakan bahwasannya aku telah
memaafkannya. Dia terlihat senang dan berjanji kepadaku untuk tidak akan
mengulanginya lagi dan dia juga ingin melindungiku dari kejahilan anak-anak
lain.

Tak kusangka insiden-insiden yang aku alami
bersama Abdul membuat dia menjadi teman baik ku sampai aku menyelesaikan
pendidikan SMA. Dia begitu baik dan benar dia selalu menjadi teman terbaik
setiap saat. Persahabatan yang kami lalui dan berjalan lama ternyata tak selalu
berujung manis. Lulus dari SMA akupun berkuliah disebuah universitas di luar
provinsi dan Abdul memilih untuk ikut selekasi Angkatan Udara. Karena untuk
lulus angkatan harus melewati beberapa tahapan, akupun tidak tau perkembangan
dari seleksinya si Abdul. Dia yang tidak memiliki handphone semasa SMA membuatnya
begitu sulit untuk dicari tau. Sampai pada akhirnya aku berangkat ke kampusku
dan meninggal kan kenangan persabatan kami.

Aku mengingat Abdul sebagai sosok pria yang
asik dan menyenangkan serta tidak main-main dengan kata-katanya. Dia yang di
awal pertemuan begitu tidak kusukai namun menjadi orang yang selalu ada
menemani masa SMA ku. Dia bukan pacarku atau apalah itu. Selama di SMA kami
hanya bersahabat dan seolah-olah tidak memiliki perasahan satu sama lain.
Sejujurnya aku bingung dengan perasaanku padanya. Namun aku hanya tetap pada
pendirian, bahwa dia adalah sahabat terbaikku. Namun sayang setalah tamat SMA
aku kehilangan kabar tentang dia. Dan aku berharap semoga dia masih mengingatku
dan sukses dijalan yang ia tempuh.

Itulah dia Abdul seorang sahabat yang sekarang
tidak tau di mana keberadaannya. Setelah menyelesaikan pendidikan, aku berharap
bisa bertemu dengan dia lagi. Atau setidaknya mendapat kabar dari seorang
sahabat yang telah begitu lama kehilangan kabar.

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp