PETA(KA)TA


Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

Genap seminggu ini warung
Mbok Mun sepi dihinggapi pembeli. Cabai segar yang biasanya raib paling cepat,
kini hanya bertumpuk layu tertutup lembaran koran lama. Tak hanya itu,
kerumunan lalat rumah yang ramai mengiring-temani mayur lainnya, juga tampak
euforia merasai bau busuknya. Mbok Mun hanya bisa mengelus keningnya pasrah,
meratapi kejadian yang tidak pernah terduga sebelumnya. Memang, Warung Mbok Mun
terkenal acap ramai didatangi pembeli, terlebih saat pagi dan sore hari.
Lokasinya yang berada di pusat desa, membuatnya mudah terjangaku oleh kawanan
ibu rumah tangga.

“Sudah
toh Mbok, gausah dipikir !! Mungkin belum rezeki dari Allah.” Air mata
perlahan menyimpuh di ujung mata Mbok Mun. “Ini bukan masalah itu Nur.”

“Lantas
??”
 

Mbok
Mun menoleh. “Ini sebuah petaka”

Seorang
wanita seumuran Mbok Mun menggeliat lusuh menghampiri warungnya. Bajunya kumal,
sebaris dengan kulitnya yang keriput menghitam. “Ini untukmu”
 

“Terima
kasih. Tapi aku lebih suka uang koin dibanding ini” Tanpa berpikir
panjang, Mbok Mun menukar sekantong beras dengan sekantong koin. Wanita itu
tersenyum. Aku mendengar ia mendengus tersenyum.

“Selamat
tinggal”
 

Tidak
ada tanggapan darinya. Namun, genap empat langkah, dia membalikkan badannya,
untuk kemudian menghampiri Mbok Mun. Lagi. “Ada apa ??”

“Mungkin
kau bisa menambahnya dengan sedikit kertas kartal.” Kusahuti: “Kau
ini meminta saja banyak permintaan.”
 

Mbok
Mun menatapku lekat-lakat, matanya mengisyaratkan untuk meminta maaf kepadanya.

“Tidak.”
Aku berdiam agak lama. “Nurr !!”
 

Wanita
itu ber-“yah” pelan menyambut uluran tanganku, lalu pergi.

Aku
menunduk. Menarik napas panjang yang sedikit tersenggal. Suaraku menegas.
“Sebenarnya ada apa ini Mbok ? Bukankah kau sendiri yang meratapi nasib
daganganmu kini ?”
 

Tak
ada tanggapan.

“Untuk
kemudian kau menuruti semua permintaan peminta degil itu.” Mbok Mun
membuang pandangan, menggosok kedua matanya yang terlihat seperti berurai
kembali.
 

“Kau
bahkan tak tahu Nur, apa yang telah kubuat kemarin.” Tenggorokanku kering,
hidungku bumpat, tidaklah aku tahu maksud ujaran Mbok Mun dan tak sepatutnya
aku mencercainya. Kembali telingaku bersiap mendengar penjelasan dari Mbok Mun.
“Apa yang terjadi ?”

“Kemarin
datang seorang wanita lemah ke warungku, wanita yang sama tujuannya dan
semburat wajanya dengannya tadi. Luapan emosiku tak terkendali, sebab banyaknya
pembeli yang minta itu ini. Sudah kuberi di genggamannya, namun permintaanya
bak rel kereta dan semakin menjadi-jadi. Darahku mendidih. Hingga aku mencacinya
tanpa hati.” Mbok Mun berhenti, semacam tak sanggup melanjutkan potongan
ceritanya. Konotasinya mungkin terlihat sadis, hingga dia tak berani
mengulanginya lagi.
 

“Warung
menyepi, riak pembeli menyunyi serta dagangan tak terbeli, apa ini Nur ??”

Air
matanya merinai deras. Mungkin ketakutan Mbok Mun terjadi atas pesan dari
mendiang suaminya yang terlupakan.”Seramai apapun warungmu, jangan pernah
meninggalkan perintah-Nya dan merendahkan orang tak punya, Dosa” Ungkapnya
dulu dalam ceritanya kepadaku.

 

Malang, 26 September 2020

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp