Oleh: Siti Laila ‘Ainur Rohmah
Qadarnya manusia hidup di dunia selalu berdampingan dengan alam dan sesamanya. Komponen yang membentuknya menjadi sebuah kehidupan yang lengkap di alam semesta. Manusia yang diberi kelebihan akal fikiran, menduduki jabatan mulia sebagai khalifah fi al ‘ard. Semestinya dia menjadi makhluk yang bijak dengan jabatan yang Allah berikan sebagai pemimpin. Pemimpin yang mampu mensejahterkan rakyatnya sangatlah terpuji apalagi setiap manusia mampu memimpin dirinya sendiri menjadi pribadi yang lebih baik.
Allah SWT dzat yang adil terhadap ciptaan-Nya. Semua yang diciptakan mempunyai manfaat bahkan makna jika manusia mampu merenungkan dan memikirkannya. Yang sering mengganggu fikiran manusia terletak pada hatinya yang rusak. Bukan karena rusak secara lahiriyah, namun lebih ke makna rusak secara batiniyahnya. Dalam sebuah hadits riwayat imam bukhari dan muslim menjelaskan “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.” Meskipun sebenarnya yang dimaksud adalah jantung, tetapi di Indonesia banyak yang memaknai sebagai hati.
Sebagai seorang hamba, hanya bisa berdoa kpd dzat yang membolak-balikkan hati (Allah SWT) ketika dirundung kegelisahan. Doa Rasulullah saw yang masyhur dan sering diucapkan,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِك وَعَلَى طَاعَتِك
“Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.”
Gelisah, galau, wajar terjadi di kehidupan manusia. Yang lebih parah, jika hatinya yang rusak tadi diliputi rasa dengki, iri, hasud, dll. Semuanya akan menambah rasa sesak di dada. Mengingat hidup di dunia ini tak sendiri, namun selalu berdampingan dengan orang lain. Apalagi manusia di katakan sebagai makhluk sosial yang saling ketergantungan dengan lainnya. Manusia tidak ada yang sempurna kecuali baginda Rasulullah saw yang terjaga kema’sumannya. Sehingga sangat mudah sekali antara manusia satu dengan lainnya akan timbul rasa tidak nyaman dan gereget atas segala kelakuannya.
Waspadalah jika timbul prasangka buruk kepada orang lain mulai menjangkiti hatimu, segeralah istighfar dan berdo’a saja kepada Allah SWT. Curahkan keluh kesahmu kepada-Nya dengan sungguh-sungguh diiringi taubatan nashuha. InshaAllah hatimu menjadi lebih tenang, daripada harus memendamnya sendiri akan menjadi penyakit di hati. Curhat kepada teman boleh saja, jika itu membuatmu lebih tenang. Namun, sebaik-baik tempat curhat hanyalah dengan berdoa’a kepada Allah SWT yang maha kuasa atas segalanya. Wa allahu a’lam bibishowab.
Pondok Pesantren Darun-Nun Malang







