RIMPU MPIDA cs CADAR

Oleh Fitriatul Wilianti

Bagaimana orang Bima memandang Cadar??
Aku awali dengan cerita, dulu waktu kecil cadar belum terlalu dikenal di kampung
halamanku, cadar mulai muncul sejak banyakNya pemuda-pemuda yang menempuh pendidikan
tinggi di luar Kota Bima.

Salah satu kota tujuan yang diminati adalah Ujung Pandang yang
merupakan salah satu kota besar yang letaknya di Indonesia bagianTimur. Sekarang Ujung
Pandang berganti nama menjadi Makassar. Salah satu perubahan yang di bawa oleh mahasiswi
kala itu adalah cadar. Hari ini Masyarakat melihat itu sebagai sesuatu yang sangat tabuh bahkan
tidak jarang menganggap cadar sebagai hasil dari ajaran sesat.

Sehingga banyak perempuan yang
menggunakan cadar merasa di asingkan di kalangan masyarakat sekitar. Mungkin ini hal biasa
terjadi di masyarakat umum harus kita pahami dikalangan masyarakat umum tidak semuanya
berpendidikan. Menjadi tidak biasa ketika cadar juga larang di  lembaga pendidikan yang di
dalamnya di isi dengan pribadi-pribadi yang yang dituntut untuk berpikir.

Tahun lalu, ini terjadi di lembaga pendidikan Tinggi Islam di Yogyakarta melalui
wawancara dengan pihak BBC Indonesia senin (05/03/2018), Rektor UIN Sunan Kalijaga,
Yudian Wahyudi, mengatakan “Bahwa peningkatan jumlah mahasiswi bercadar yang menjadi
puluhan menjadi gejala peningkatan radikalisme”. Karena hal tersebut rektor mengeluarkan surat
edaran larangan bercadar, dan bagi mahasiswi bercadar mendapat binaan khusus.  Keputusan ini
mendapat pertentangan dari kalangan masyarakat umum dan tokoh agama. Karena banyak
pertentangan akhirnya keputusan ini di jabut. Masalah ini sebenarnya cukup disayangkan karena
hadir di dunia pendidikan yang seharusnya menerima sesuatu dengan pikiran terbuka.

Yang
paling menggelitik larangan ini hadir di kampus yang berlabel Islam.
Di Mbojo sendiri bagaimana masyarakat melihat cadar? Cara pandang Dou Mbojo hari
ini terhadap cadar tetaplah sama. Cadar tetaplah sesuatu yang asing bagi yang mengenakannya
dikatakan terlalu berlebihan dalam beragama. Sebelum media heboh dengan penggunaan cadar
Dou Mbojo Mantoin sudah jauh lebih lama mengenal cadar. Karena pelafalan yang berbeda, dou
Mbojo mengenal cadar dengan sebutan Rimpu. Rimpu merupakan sebuah budaya dalam bentuk
busana pada Dou Mbojo.

Budaya “rimpu” telah hidup dan berkembang sejak Islam datang di
masyarakat Bima. Rimpu merupakan cara berbusana yang mengandung nilai-nilai khas yang
sejalan dengan kondisi daerah yang bernuansa Islam (wikipedia: 2008). Rimpu digunakan oleh
mereka yang sudah balig atau menikah, dalam agama atau trend sekarang disama artikan dengan
kerudung.

Namun pada beberapa refrensi, kerudung di Indonesia baru terkenal pada tahun 1980-
an.
Rimpu memiliki banyak fungsi dalam menyikapi jamannya pada saat itu. Pertama, rimpu
merupakan identitas keagamaan, sehingga pada bagian ini dengan adanya perkembangan dakwah
di Bima yang cukup pesat, maka kaum wanita mulai mempelajari dan memaknainya sebagai
suatu nilai-nilai luhur. Kedua, Rimpu dikombinasikan dengan budaya lokal masyarakat pada saat
itu yaitu kebiasaan menggunakan sarung tenun dalam aktifitas sosial. Perpaduan ini menjadikan
icon budaya Dou Mbojo yang mulai berkembang. Ketiga, Proteksi diri kaum hawa ketika
melakukan interaksi sosial.

Keempat, rimpu merupakan alat pelindung terhadap kondisi
lingkungan yang buruk, disisi lain juga Pembajakan Makna dan Budaya.
Rimpu, terdiri dari 2 model, yaitu pertama Rimpu mpida, khusus untuk gadis Mbojo atau
yg belum berkeluarga. Model ini juga sering disebut cadar ala Dou Mbojo, Dalam kebudayaan
masyarakat Mbojo, wanita yg belum menikah tidak boleh memperlihatkan wajahnya, tapi bukan
berarti gerak-geraknya dibatasi.

Hal ini menunjukan budaya yang diciptakan oleh para mubalig
sudah mengakar sampai pelosok desa. Namun dengan moderenisasi yang salah diartikan
membuat identititas tersebut rapuh termakan jaman, sungguh menyayangkan. Kedua Rimpu
colo, rimpu jenis ini diperuntukan buat ibu-ibu rumah tangga. Toleransi agar mukanya sudah
boleh dilihat oleh masyarakat luas.

Cadar dan rimpu mpida pada hakikatnya sama, sama-sama digunakan untuk menutup
aurat khususnya adalah wajah bagi perempuan. Yang berbeda adalah jika rimpu menggunakan
sarung khas Bima dan cadar menggunakan kain pada umumnya. Kain khas Bima sekarang sulit
ditemukan dan harganya terbilang mahal. Wajar saja jika perempuan Mbojo beralih ke cadar.
Jika hari ini ada orang khususnya Dou Mbojo memandang cadar sebagai sesuatu yang berlebihan
atau ada yang mengatakan cadar adalah budaya Arab sebenarnya ia lupa dengan sejarah.

Cadar
sangatlah bersahabat dengan Dou Mbojo salah bentuk perpaduan agama dan budaya yang sangat
anggun dan mahal di jaman sekarang.
Perempuan Bima yang mengenakan Cadar atau Rimpu adalah salah satu bentuk “Kabou
Mantoi” memperbarui sesuatu yang telah lama hilang dan salah satu bentuk pelestarian budaya
dan penerapan syariat agama Islam

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp