Gorengan dan Do’a
Oleh : Inayatul Maghfiroh

   Waktu telah berlalu penuh dengan kesempatan-kesempatan yang mungkin tidak terulang kembali, perbincangan menjadi salah satu hal yang tak pernah lepas dalam dekapan waktu barangkali satu menit saja. seseorang telah mengajarkan sesuatu lebih dari perkiraan. dan kalimat ini mungkin membuat pembaca cukup penasaran. Entah pada seseorangnya ataukah sesuatu yang telah diajarkan?.

Sebagaimana nasihat-nasihat mengatakan setiap peristiwa barangkali lima menit saja durasinya, ia tidak tercipta sia sia, Sebagaimana pula perbincangan kala itu. Kepercayaan dahsyatanya kekuatan do’a telah mengantarkan seseorang membuat analogi yang belum pernah kuketahui. Tiba-tiba dan membuat pikiran menerima begitu saja.

Suatu hari, tepat malam jum’at yang artinya setelah maghrib akan ada kegiatan tahlilan menjadi salah satu kesempatan bagi setiap orang untuk saling mendoakan, biasanya ia akan memberikan sebuah pesan dengan awalan kata “ eh, aku nitip” udah pasti nitip do’a maksudnya, spontan saja membalas “ oke” . seperti biasanya aku mengira perbincangan itu akan selasai disitu saja, ternyata pesan baru masuk, “ tau ta? Aku mau nitip apa?” , “ do’a kan? Jawabku penuh percaya diri. “bukan, aku mau nitip gorengan”. Sejenak berpikir, apa motivasinya nitip gorengan? Bukannya beli sendiri mampu? Kalaupun emang benar nitip gorengannya apa benar benar akan diambilnya? Apa pula motivasinya berkata demikian? Dari pada banyak menghabiskan waktu memikirkan jawaban yang ada pada orang lain, langsung saja kuketik “ ha? Gorengan? Serius?” . “ iya serius sekali, kenapa? . aku tidak membalasa dan kembali berfikir. Dan pesan baru masuk kembali “ lagi mikir ya? Wkwkwk. Jadi begini loh nay, kenapa aku mengatakan gorengan? Karena gorengan adalah sesuatu yang sangat sederhana, namun banyak yang menyukainya, seperti halnya do’a” . cukup kubaca tanpa balasan, dan ia memberikan pesan lagi, “ terimakasih dan mohon maaf nay wkwkwkw, tapi beneran nitip ya?”. Oke, terimakasih juga, diluar dugaan. “ balasku kemudian sengaja ku off  hpku, karena adzan maghrib telah berkumandang.

Sambil berjalan menuju masjid, setiap langkah menjadi tidak terasa sebab pikiran yang tengah mengagumi suatu analogi. Pemikiran pemikiran demikian selalu mengagumkan bagi saya, karena ia telah berusaha membuktikan dirinya sebagai manusia, memanfaatkan akal yang telah diberi sebagai pembeda, diantara makhluk Allah yang lainnya. Terimkasih.

PP DARUN NUN, Sukun-Malang.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp