POINT OF VIEW NAHWU; ULAMA BASHRAH DAN KUFFAH


Hasil gambar untuk BUKU    
Penulis : Ainu Habibi
Sejak pertengahan abad kedua hijriyah, perjalanan ilmu nahwu memiliki kecendrungan-kecendrungan yang berbeda-beda. Imam
Sibawaih
dan muridnya mempunyai kecendrungan tersendiri. Sedangkan Imam Kisa’i dan muridnya memiliki kecendrungan sendiri pula. Kecendrungan pertama yakni mengarah pada ulama’-ulama’ Basrah dan kecendrungan kedua mengarah pada ulama’-ulama’ Kuffah. Sangat pantas disebutkan bahwasanya antara Kuffah dan Basrah sejak didirikannya sekolah nahwu terdapat persaingan yang didasari atas teritorial dan penyebab pada umumnya seperti politik. Perselisihan antara keduanya sangat kuat hingga melahirkan berbagai percabangan pendapat dalam kaidah nahwu Arab dan kesewenang-wenang dalam menganalisisnya. Kemudian muncul sekolah lain yang berusaha menyatukan pendapat-pendapat yang saling berlawanan dengan nama Madrasah Baghdad.
            Berpegang teguh pada pendapat Syauqi Dhaif bahwasanya awal mula munculnya ulama’-ulama’ nahwu Baghdad itu pada abad ke-empat hijriyah dan mengikuti metode baru dalam pembelejaran dan buku-buku nahwu mereka yang dibangun atas dasar pemilihan dari pendapat-pendapat dua sekolah yakni Basrah dan Kuffah dan kemudian digabungkan keduanya. Termasuk ulama’-ulama’ nahwu dari Madrasah Baghdad adalah Ibnu Kaysan, yaitu Abu Hasan Muhammad bin Ahmad bin Kaysan dan Hasan bin Ahmad bin Abdul Ghaffar al- Farisi.
Kemudian
setelah Madrasah Baghdad, muncul Madrasah Andalusia pada awal abad ke-lima hijriyah dan Madrasah Mesir yang mana ulama’-ulama’ kedua sekolah tidak lain kecuali mengikuti ulama’-ulama’ Basrah, Kuffah dan Baghdad dan mereka tidak sampai melewati ijtihad mereka dalam furu’- furu’nya.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp