Charirotut Tohiroh
“Bzzzrrrrrrrrrrr”
Gemuruh
hujan melanda sebuah desa kecil yang masyhur kekayaan biji
kopinya. Suara rintihan seorang wanita
yang sedang berjuang untuk melahirkan hampir kalah dengan jeritan hujan deras
yang terus mengguyur sejak pagi tadi, ialah ibuku yang sedang melahirkanku. Hingga
akhirnya aku lahir di buana pertiwi ini tanpa sebuah tangisan. Orang-orang
panik dengan keadaanku ini, sebagian dari mereka telah berusaha membalikkan tubuhku
ke bawah agar aku menangis, namun apa ada inilah aku yang tidak bisa melontarkan
kata satupun.
hujan melanda sebuah desa kecil yang masyhur kekayaan biji
kopinya. Suara rintihan seorang wanita
yang sedang berjuang untuk melahirkan hampir kalah dengan jeritan hujan deras
yang terus mengguyur sejak pagi tadi, ialah ibuku yang sedang melahirkanku. Hingga
akhirnya aku lahir di buana pertiwi ini tanpa sebuah tangisan. Orang-orang
panik dengan keadaanku ini, sebagian dari mereka telah berusaha membalikkan tubuhku
ke bawah agar aku menangis, namun apa ada inilah aku yang tidak bisa melontarkan
kata satupun.
Aku yang diberi nama Kayisa Azzahra oleh kedua orang tuaku, Kays adalah sapaanku. Aku senang dengan
panggilanku ini meski aku diciptakan berbeda dengan yang lain. Ya inilah aku,
tak mampu bercakap dengan lisan namun aku sangat bersyukur karena masih
dianugerahi telinga untuk mendengar mata yang indah untuk melihat.
panggilanku ini meski aku diciptakan berbeda dengan yang lain. Ya inilah aku,
tak mampu bercakap dengan lisan namun aku sangat bersyukur karena masih
dianugerahi telinga untuk mendengar mata yang indah untuk melihat.
Tahun
demi tahun telah berlalu, kini aku berusia 6 tahun. Aku dibesarkan dengan kasih
sayang yang sempurna dengan penuh cinta yang tertanam. Orang tuaku tidak marah
dengan keadaanku, mereka justru memberikuperhatian, hingga ku tak sanggup
mengungkapkan seberapa besar cinta yang mereka padaku. Waktu
bergulir dengan cepat, seperti biasa pagi ini ibu mengajarkanku bahasa isyarat sedikit
demi sedikit. Namun tiba-tiba jeritan keras terdengar dari ruang makan.
demi tahun telah berlalu, kini aku berusia 6 tahun. Aku dibesarkan dengan kasih
sayang yang sempurna dengan penuh cinta yang tertanam. Orang tuaku tidak marah
dengan keadaanku, mereka justru memberikuperhatian, hingga ku tak sanggup
mengungkapkan seberapa besar cinta yang mereka padaku. Waktu
bergulir dengan cepat, seperti biasa pagi ini ibu mengajarkanku bahasa isyarat sedikit
demi sedikit. Namun tiba-tiba jeritan keras terdengar dari ruang makan.
“Tidak
Mungkinnn” lantang bibiku sambil menangis tersendu-sendu. Ibuku
lari menghampiri aku pun mengikuti, semua insan syok dan menumpahkan luapan air
mata.
Mungkinnn” lantang bibiku sambil menangis tersendu-sendu. Ibuku
lari menghampiri aku pun mengikuti, semua insan syok dan menumpahkan luapan air
mata.
“Innalillahiwainnailaihirooji’un”
Ayahku
meninggal dunia di usianya yang masih muda. Tidak ada yang tahu apa
penyebabnya. Kita juga tidak bisa memungkiri Kuasa Allah. Tak seorang pun dapat
mencegah kematian. Aku menenangkan ibuku agar sabar nan ikhlas meski hatiku menangis
meronta-ronta, aku berusaha agar terlihat lebih tegar. Lalu ibu memelukku
dengan sangat erat.
meninggal dunia di usianya yang masih muda. Tidak ada yang tahu apa
penyebabnya. Kita juga tidak bisa memungkiri Kuasa Allah. Tak seorang pun dapat
mencegah kematian. Aku menenangkan ibuku agar sabar nan ikhlas meski hatiku menangis
meronta-ronta, aku berusaha agar terlihat lebih tegar. Lalu ibu memelukku
dengan sangat erat.
“Nak,
kita doakan agar ayahmu diterima di Sisi-Nya, ibu berjanji akan menjadi orang
tua yang tangguh untuk menjaga dan membesarkanmu”
kita doakan agar ayahmu diterima di Sisi-Nya, ibu berjanji akan menjadi orang
tua yang tangguh untuk menjaga dan membesarkanmu”
BERSAMBUNG…..







