Pergantian sore menuju malam, dihiasi dengan mega kemerah merahan, juga lantunan suara adzan yang berkumandang membangkitkan semangat para penikmat kerinduan. Seperti biasanya, mbak Minah sudah menanti di depan rumah sembari duduk santai di teras menanti Maghfi keluar untuk pergi sholat berjamaah bersama di mushola pak Imam. Sepanjang perjalanan, dengan waktu sekitar 10 menit mbak Minah banyak bercerita tentang guru-guru yang ia kagumi, ada pak Rohman yang humoris dan pastinya menyenangkan, ada bu Halimah yang lemah lembut, sabar, dan telaten, bu Sri yang tegas namun penyayang, dan guru-guru yang lainnya.
Mbak Minah adalah sosok tetangga dan saudara yang sangat patuh kepada orang tuanya, rajin belajarnya, dan yang paling menonjol darinya adalah akhlaqnya yang sangat sopan dan santun kepada siapapun. Mbak Minah juga sangat sabar ketika adik-adiknya memintanya untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah ( PR), maka tidak heran jika adik-adiknya sangat sayang dan patuh kepadanya. Selain itu, Mbak minah adalah sosok yang mampu mencontohkan ahlak yang baik dengan caranya yang sederhana, meskipun kadang ia melakukannya dengan sengaja ataupun tidak sengaja.
Ditengah nikmatnya bercerita, tiba-tiba suara iqomah berkumandang, kami bergegas lari agar tidak tertinggal satu rokaat sekalipun, sesampai di masjid, dalam keadaan terburu-buru Maghfi yang lupa membawa sajadah membuat mbak Minah spontan membagi sajadahnya, setelah menelantangkan sajadahnya tiba tiba mbak Minah mengambil lagi sajadahnya dan menelantangkan ulang dengan posisi yang berbeda, karena imam sudah sampai pembacaan surat pendek, Maghfi dan mbak Minah segera berniat sholat dan takbiratul ihram, meskipun dalam benak Maghfi masih terbayang pertanyaan atas sikap mbak Minah yang menelantangkan ulang sajadahnya.
Setelah berdzikir dan sholat ba’diyah maghrib, sebelum mbak Minah mengaji, Maghfi mendekatinya untuk sekedar bertanya tentang sikap mbak Minah saat menelantangkan sajadahnya tadi. Dan terjadilah perbincangan demikian:
Maghfi : “ mbak minah”.
Mbak Minah : “ iya, apa fi?”.
Maghfi : “boleh tanya mbak? Tidak kenapa-kenapa kan mengganggu waktunya sebentar?
Mbak Minah: “ iya, kenapa fi ?”.
Maghfi : “ tadi kenapa mbak menelantangkan ulang sajadah dengan posisi yang berbeda, kan satu kali saja cukup, hehe”.
Mbak Minah :” (tersenyum), Maghfi, tadi kan waktu pertama menelantangkan sajadah, bagian yang kaki ( bawah ) pas di kamu, dan bagian kepala ( atas) di mbak, makanya mbak menelantangkan ulang dengan posisi yang berbeda, apa pantas mbak memberikan bagian kaki mbak kepada orang lain ? tidak sopan kan? . “
Maghfi : “ hm iya mbak, kenapa mbak baik sekali,( tatap Maghfi penuh haru)”.
Mbak Minah : “ sudah ya, ayo mengaji, nanti keburu Isya’”. Jawab mbak Minah mengakhiri permbincangan singkat itu.
Mbak Minah khusyu’ mengaji sedangkan Maghfi sibuk mengagumi kesederhanaan akhlaq mbak Minah, sederhana dalam aplikasinya, namun sangat luar biasa nilainya. Tidak semua orang mampu menyadari hal itu, hal-hal kecil yang dapat membahagiakan sesama saudaranya, yang dapat mengikat erat persaudaraannya, juga yang dapat mengakat derajat seorang hambaNya.







