DERAP LANGKAH KAKI PAHLAWAN

Oleh Mutiara Rizqy Amalia

Secerah mentari menyapa pagi, sesejuk embun bening menetes,
sedingin udara berhembus.
Iya, Pak  Fuad
pamit ke bidadari surga dan infestasi akhiratnya, karena merekalah beliau sesemangat ini, bibir mereka mulai tersenyum lantas mengucapkan sampai jumpa.Mulailah beliau menaiki
sepeda tua berwarna hitam yang mulai kusam, starter dihidupkan, perseneling dimainkan, saatnya
menyusuri jalanan.Tapi, remnya
terus berbunyi jika terkena  air,
maklum tadi shubuh huj
an membasahai tanah kelahirannya. Roda sepeda mulai berputar menyusuri
jalan, beliau melewati jalan-jalan yang selalu merekam kesehariannya, mengukir
kisah, melukis kenangan yang beliau peruntukkan kepada calon pemimpin bangsa.

Tibalah Pak Fuad pada suatu tempat yang tidak begitu
besar dan megah, namun tempat ini memiliki halaman yang lumayan lebar dan luas
kalau sekedar untuk bermain. Tempat dimana beliau belajar memahami seseorang
untuk terus berusaha. Tempat  pendidik
belajar dengan hal baru, tempat surga dunia dimulai, tempat generasi muda
memulai dunianya, sebuah bangunan yang mulai rapuh, berwarna hijau dan kunin,
ada bangunan terpisah dengan bangunan utama, itulah sebuah bangunan sekolah
dimana beliau mendidik dan mengajar, tidak hanya  pengetahuan  tapi juga mengenai perilaku  adab dan sopan santun.

            Bangunan
ini terletak di pertengahan desa, hingga dapat dilihat dari perilaku para siswa
yang masih belum begitu mengenal teknologi.

Ruang kelas yang masih dibatasi dengan kayu berayap,
papan tulisan hitam dengan kapur putih, penghapus

kain sebagai pelengkapnya. Perilaku dan tutur kata para siswanya juga masih
kental lingkungan pedesaan, masih belum terlihat semangat untuk mencari ilmu. Seragam kusut dan tidak rapi menghiasi tubuh mereka, perilaku yang tidak
pantas terkadang keluar dengan sendirinya.

            Hari  itu ada wajah berbeda di sekolah ini, ada beberapa
mahasiswa datang untuk melakukan sebuah penelitian mengenai sekolah, datang untuk
wawancara kepada warga sekolah selama beberapa minggu ke depan. Penelitian
mengenai budaya sekolah, karakteristik siswa dan guru, sistem pengelolaan
kelas, pelayanan administrasi, manajemen dan kepemimpinan sekolah.

            Tentu terlihat aneh bagi
para mahasiswa melihat kondisi dan keadaan sekolah yang membutuhkan
 perhatian
lebih, dari segi luar maupun dalam. Namun, para mahasiswa merasa aura positif
yang terdapat dalam diri pengajar di sekolah ini. Tidak peduli dibayar berapa,
tidak peduli kondisi dan keadaan sekolah, tidak peduli perilaku para siswa,
yang ada di hati para pengajar adalah rasa tulus dan ikhlas memberikan ilmu dan
bimbingan untuk siswanya, memberikan arah dan jalan terbaik untuk meraih masa
depan yang cerah, untuk sampai ke garis finish yang khusnul khotimah meskipun
dengan tertatih-tatih.

            Awal
perjumpaan para mahasiswa dengan para guru sudah terlihat bentuk kasih sayang
yang terlihat di raut wajah mereka, aura cinta kasih dibentuk untuk menambah
keakraban satu sama lain, terutama para guru dengan para siswa. Meskipun karakter
 guru dan siswa bertentangan, namun keduanya
dapat menyatu dengan landasan menuntut ilmu.Tujuan para mahasiswa tidak cukup untuk
sekedar penelitian, tapi untuk  mencari pengalaman
dari sang guru berikan dan belajar ikhlas dalam setiap kondisi apapun.
            Hari
pertama para mahasiswa melakukan penelitian sangat mengesankan, para mahasiswa diberi
tempat untuk beristirahat  dan diberi suguhan
sejarah mengenai berdirinya madrasah ini.
Madrasah ini berdiri dengan berbagai upaya dikerahkan untuk menciptakan sebuah lingkungan pembelajaran pada saat itu. Sampai-sampai salah satu kepala madrasah pernah
menjabat di dua madrasah sekaligus, perjuangan
ini tentu perlu dihargai dan dikenang. Selain itu, madrasah ini mencipatakan suasana sama halnya dengan madrasah lainnya, diantaranya
dengan menerapkan budaya 3S; Senyum, Salam danSapa. Seluruh
warga madrasah sangat
menekankan budaya tersebut dalam berinteraksi maupun ketika proses pembelajaran
berlangsung. Baik guru maupun siswa lebih mengutamakan keramah-tamahan
dan etika dalam bersosialisasi sehari-hari.

Para gurunya menjelaskan, terkadang
tidak melulu mengikuti sistem kurikulum  yang
ditentukan
oleh pemerintah, tapi tujuan awal para guru disini
untuk menciptakan akhlak budi pekerti yang baik dan menduakan nilai pelajaran.
            Hari  kedua penelitian,  para mahasiswa masuk ke dalam kelas untuk melakukan
pengamatan bagaimana interaksi antara guru dan siswa, begitu juga mengenai pengelolaan
kelas.Sang guru mulai mengajar seperti biasa, menjelaskan materi yang sedang dibawakan
dan membahas tugas yang telah diberikan sebelumnya.Beberapa menit awalnya nampak
biasa saja, suasanakelas seperti padau mumnya. Kemudian

menit berikutnya mulai terjadi kegaduhan antara siswa, bercanda, bertengkar
antar asatu sama lain. Peringatan pertama dilakukan oleh guru untuk tetap
konsentrasi pada pembelajaran, sampai pada

saat siswa tidak dapat diatur dan susah untuk diberi nasehat. Derap langkah guru menuju bangku usang siswa
yang berada di pojok, tak disangka tangan guru itu menjewer siwa yang sedang ramai,
siswa hanya mampu mengeluh karna terlalu sakit yang dirasakan.
            Pembelajaran
kembali normal seperti
sedia kala, hingga salah satu siswa mulai ramai kembali karena ia tidak membawa buku pelajaraan. Derap langkah guru kembali menuju bangku siswa.
            “Isone,
wingi dikongkon nggowo buku saiki gak gowo, niat tak gak
            Tangan
guru mengambil buku lalu memukul siswanya dengan keras.
            Di akhir pembelajaran, guru
menyimpulkan seluruh materi yang telah disampaikan, dan beliau meminta maaf kepada
para siswa atas perilaku yang diperbuat.Tidak ketinggalan, guru memberi motivasi,
saran, dan pesan untuk seluruh siswanya agar tetap bersemangat untuk mencari ilmu,
untuk  meraih masa depan yang cerah,
tentunya yang paling penting adalah ridho dari Sang  Maha Rahman. Kemudian
guru menutup akhir pemblajaran dengan do’aseperti biasa dilakukan.
            Setelah melakukan penelitian, guru
tersebut memintamaafkepada para mahasiswaatasperilaku yang diperbuat di depan mereka
.
            “Maafkan bapak, disini lingkungan perdesaan
jadi harus menyesuaikan dengan anaknya
.
            “Tidak papa pak, kami paham betul.”
            Para mahasiswa mengerti apa dampak  yang telah dilakukan oleh Pak Fuad tadi tujuannnya
adalah memberikan pelajaran, memberi efek jera atau tidak kepada para siswa.
            Selanjutnya Pak Fuad bercerita mengenai
karakter para siswanya. Beliau menjelaskan bahwa para guru disini dituntut untuk
membentuk akhlak, karena akhlak tujuan utama dalam misi madrasah ini. Memang pada
tahun pertama atau pada tingkatan kelas tujuh, para siswa Nampak masih kurang dalam
sopan santun yang diperbuat dalam sehari-hari.Namun tahun demi tahun, saat para
siswa telah berada di tingkat kelas sembilan, mereka mulai paham perilaku yang
baik dan buruk. Memang para siswa di sini perlu disentuk dengan cara fisik agar
merasa jera  dengan apa yang telah mereka
perbuat.
            “Ada dua anak di kelas tadi yang
memakai narkoba.”
            “MaasyaAllah, narkoba?.”
            “Iya, karena memang  pergaulan yang mempengaruhi  perilaku  seseorang.”
           
            Dari  madrasah ini para mahasiswa tidak sekedar mencari
nilai, tapi juga benar-benar pengalaman dan fakta yang terjadi di lingkungan masyarakat.
Perilaku yang mulai tidak sesuai norma, para generasi muda yang perlu tuntunan dari
orang-orang terdekat terutama orangtua dan guru.  Mereka membutuhkan kasih sayang agar tidak  keluar batas merah di dunia yang kejam,
terlebih lagi bekal ilmu agama yang terpenting yang harus ditanamkan dalam setiap
pribadi. Bagaimana kondisi generasi muda di masa depan jika saat ini bisa dilihat
keburukan yang terus menghantui mereka, begitu ironinya jika generasi muda tidak
didukung untuk menyebar-luaskan kebaikan. Memang perlu berterimakasih kepada
orang tua di dunia pendidikan, jika tidak ada yang peduli seperi guru, siapa lagi
yang akan memperhatikan generasi muda.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp