BAHAGIA NGGAK BAYAR KOK

Oleh Muflikhah
Ulya


Pagi yang cerah dengan iringan kicauan burung yang merdu. Aku
melangkahkan kaki keluar dari masjid berniat pulang ke pesantren. Di setiap
langkah, hangatnya sinar mentari menemani. Di sepanjang perjalanan, sesekali
aku bertegur sapa dengan warga yang tengah memulai aktifitas mereka. Sesampainya
di pesantren, aku meihat beberapa teman yang sedang berselimut di atas kasur
dan asik dengan hanphone mereka. Melihat pemandangan seperti itu, dalam hati
aku bergumam “sinar mentari dan kicauan burung diluar sana lebih menarik daripada
selimut dan hanphone itu, aah sayang sekali jika pagi seindah ini hanya
dihabiskan diatas kasur”. Kemudian aku memiliki ide untuk mengajak mereka jalan
pagi sambil menikmati pemandangan, kubilang saja “ eh jalan yuk! Ke perumahan
sebelah tuh, kan cantik pemandangannya,  lumayan
loh buat bikin story di instagram”. Salah satu dari mereka menanggapi “yuk!
bosen juga nih tiap pagi tidur mulu, aku pingin cari inspirasi”. “aku juga
pingin jalan-jalan” sahut temanku yang lain, “yaudah, yuk jalan! Ajakin temen
temen yang lain juga biar makin rame” kataku.
Akhirnya kita memutuskan untuk menikmati pagi dengan mengendarai
motor mengeilingi perumahan elit di dekat pesantren. ketika mulai memasuki
perumahan, kami disambut  dengan bangunan-bagunan
rumah besar diatas perbukitan, dengan beberapa mobil mewah yang terparkirdi
depannya, benar benar pemandangan yang memanjakan setiap mata yang melihat. Kami
menyusuri setiap komplek perumahan itu, ditengah perjalanan kami menemukan
taman yang begitu indah dengan beberapa tempat bermain untuk anak. Salah satu
temanku berkata “waah bagus ya, seperti di korea korea gitu loh”. Namun anehnya
taman itu sangat sepi, hanya terdapat dua anak kecil yang tengah bermain dengan
ayah dan ibu mereka, tanpa berfikir panjang, kami memutuskan untuk berhenti dan
mampir ke taman itu. Dalam hati aku berkata “Taman ini sangat luas dan indah,
namun mengapa tidak ada orang yang mengunjungi?”. Sesampainya di taman, niat
awal kami yang hanya ingin duduk santai sambil berbincang berubah, ayunan serta
permainan lain serasa memanggil kami untuk memainkannya. Perlahan aku berjalan
mengelilingi taman lalu memutuskan untuk duduk di sebuah ayunan, kulihat
sebagian temanku sedang memainkan beberapa mainan anak-anak, dan sebagian teman
yang lain sedang mengabadikan moment indah itu dengan camera handphone mereka,
kuperhatikan satu persatu wajah mereka yang terlihat begitu bahagia, dari
pengamatan kejadian tersebut aku berfikir bahwa memang benar bahagia itu sederhana,
harta, pangkat, ataupun popularitas bukanlah standart kebahagiaan.
Setelah puas bermain, berswa foto dan juga berbincang-bincang, kami
memutuskan untuk kembali ke pesantren. Di sepanjang perjalanan pulang,
kuperhatikan lagi rumah-rumah mewah yang berjajar rapi, difikianku terlintas
beberapa pertanyaan “kenapa rumah-rumah ini terlihat sangat sepi? seperti tidak
ada penghuninya saja”, lalu aku bertanya pada salah satu temanku yang tengah
fokus engendarai motor “eh kamu pernah mikir nggak sih kenapa orang-orang
membuat rumah yang mewah tapi dinggurin? Kan sayang udah cantik gitu, cuma buat
numpang tidur sama nyimpen barang”. “ya logis aja, kebanyakan orang pingin
punya yang cantik dan nyaman, aku aja pingin” jawab temanku. Kemudian aku
memberikan pertanyaan lagi ”kalau misal kamu disuruh milih antara tinggal di
tempat yang elit tapi kesepian dan tepat tinggal sederhana namun nyaman, kamu
milih mana?”, sambil tertawa lepas dan tatapan mata penuh harap temanku
menjawab “Maunya mewah, nyaman dan tentunya ngga kesepian”. “yaelah itu mah
bukan jawaban, tapi harapan, aamiin aja dah, oh iya, besok-besok kesini lagi
yuk! Sambil d sholawatin biar keturutan hehe” kataku menanggapi.
Sesampainya di pondok kita langsung mengambil piring dan bersiap
untuk sarapan. Salah satu teman bergumam ”yaah tempe lagi”. Teman yang lain
serentak menyahuti “emang mau apa lagi”. “udah deh yuk makan, kalo laper tempe
bisa jadi rasa ayam kok hehe” sahutku. 
Begitulah, Sedikit cerita pagi yang cukup indah bagi kaum rebahan.
Pondok Pesantren Darunnun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp