Oleh: Suci A. Rizki
Krriiinngggg…. Krrriiiinnnnnggggg….. jam menunjukkan pukul 14.00
pm. Pak dosen mengakhiri perkulihan,
pada siang itu, terlihat mahasiswa dan mahasiswi tergopoh-gopoh
membereskan buku serta alat tulisnya. dan mahasiswa berkerumunan mengejar
pak dosen yang sudah berjalan menuju pintu ruangan, mereka berebutan untuk
bersalaman dengan pak dosen layaknya suasana
pesantren.
pm. Pak dosen mengakhiri perkulihan,
pada siang itu, terlihat mahasiswa dan mahasiswi tergopoh-gopoh
membereskan buku serta alat tulisnya. dan mahasiswa berkerumunan mengejar
pak dosen yang sudah berjalan menuju pintu ruangan, mereka berebutan untuk
bersalaman dengan pak dosen layaknya suasana
pesantren.
Setelah kerumunan mahasiswa di depan pintu ruangan bubar,
tiba-tiba ketika aku beranjak untuk keluar dalam ruangan tersebut, suara yang tidak
asing lagi terdengar memanggil namaku.
“Aisyah! kamu mau kemana? Aku pun menoleh. “ehh… Ervin,
aku mau pulang, kenapa emang nya?” Ervin pun mendekatiku dan mengajakku
pulang bersama. “hehehehe gapapa kok aku
cuman mau ngajakin kamu pulang bareng, kebetulan aku bawa sepeda motor loh.” tiba-tiba sumringah diwajahku terlihat “ wahhh, Alhamdulillah rezeki orang yang menuntut ilmu itu selalu
ada yahh vin? makasih lohh vin,, hehe”
tiba-tiba ketika aku beranjak untuk keluar dalam ruangan tersebut, suara yang tidak
asing lagi terdengar memanggil namaku.
“Aisyah! kamu mau kemana? Aku pun menoleh. “ehh… Ervin,
aku mau pulang, kenapa emang nya?” Ervin pun mendekatiku dan mengajakku
pulang bersama. “hehehehe gapapa kok aku
cuman mau ngajakin kamu pulang bareng, kebetulan aku bawa sepeda motor loh.” tiba-tiba sumringah diwajahku terlihat “ wahhh, Alhamdulillah rezeki orang yang menuntut ilmu itu selalu
ada yahh vin? makasih lohh vin,, hehe”
Ervin pun langsung
mengambil motornya di area parkiran dan mengantarkanku ke pesantren.
Ervin adalah salah satu teman perempuanku yang sangat baik, cerdas, dan suka
bershalawat, dia sangat peduli, dia suka menolong orang.
mengambil motornya di area parkiran dan mengantarkanku ke pesantren.
Ervin adalah salah satu teman perempuanku yang sangat baik, cerdas, dan suka
bershalawat, dia sangat peduli, dia suka menolong orang.
Sesampainya di pondok, aku
langsung bergegas membereskan apa yang harus di bereskan, Sambil menunggu waktu ashar, aku bereskan
juga kamar dan halaman depan. Ketika aku membersihkan halaman depan, tiba-tiba
terdengar suara bocah laki-laki dan perempuan berumur 8 tahun, ”Assalamualaikum…. Ka mau beli ngga
ka?” mereka sambil menyodorkan kotak
kardus yang berisi rempeyek atau.
langsung bergegas membereskan apa yang harus di bereskan, Sambil menunggu waktu ashar, aku bereskan
juga kamar dan halaman depan. Ketika aku membersihkan halaman depan, tiba-tiba
terdengar suara bocah laki-laki dan perempuan berumur 8 tahun, ”Assalamualaikum…. Ka mau beli ngga
ka?” mereka sambil menyodorkan kotak
kardus yang berisi rempeyek atau.
Peyek adalah jenis
makanan yang termasuk pada kelompok gorengan, yang terbuat dari tepung beras
yang dicampur dengan air hingga
mengental dan ditambah kacang-kacangan
atau bisa juga udang dan lainnya. Dengan ukuran rempeyeknya yang lumayan besar.
makanan yang termasuk pada kelompok gorengan, yang terbuat dari tepung beras
yang dicampur dengan air hingga
mengental dan ditambah kacang-kacangan
atau bisa juga udang dan lainnya. Dengan ukuran rempeyeknya yang lumayan besar.
Mereka menggunakan baju yang kumuh, compang camping seperti
tidak terurus. Dengan wajah yang
dibasahi oleh keringat karna cuaca panas siang itu, sungguh hatiku pedih,
lara, sangat iba melihat kedua bocah yang berjalan panas-panasan. Berkeliling
komplek perumahan.
tidak terurus. Dengan wajah yang
dibasahi oleh keringat karna cuaca panas siang itu, sungguh hatiku pedih,
lara, sangat iba melihat kedua bocah yang berjalan panas-panasan. Berkeliling
komplek perumahan.
Aku mendekati keduanya “ini berapaan dek?” bocah
laki-laki langsung menjawab “lima belas
ribu kak” kuambil tas kecil tempat biasa
ku taruh uangku. selepas kucari-cari
uang yang akan ku kasih pada
bocah itu ternyata tidak cukup. “ini dek kakak cuma punya uang segini, mohon
maaf yah? adek ambil saja gapapa. Maaf kakak tidak bisa beli dagangannya adek sekarang”
Mereka mengambil uang yang kuberi
dan mengucapkan “terima kasih”.
laki-laki langsung menjawab “lima belas
ribu kak” kuambil tas kecil tempat biasa
ku taruh uangku. selepas kucari-cari
uang yang akan ku kasih pada
bocah itu ternyata tidak cukup. “ini dek kakak cuma punya uang segini, mohon
maaf yah? adek ambil saja gapapa. Maaf kakak tidak bisa beli dagangannya adek sekarang”
Mereka mengambil uang yang kuberi
dan mengucapkan “terima kasih”.
Selepas mereka pergi,
aku bergegas membereskan
halaman depan dan
meminjam sepeda motor, berencana akan
membantu mereka berjualan berkeliling kompleks. Tak terasa sore pun tiba, dan Alhamdulillah dagangan mereka habis. Senja sore itu terasa sangat hangat, aku
pun membawa mereka kepondok ku untuk beristirahat.
aku bergegas membereskan
halaman depan dan
meminjam sepeda motor, berencana akan
membantu mereka berjualan berkeliling kompleks. Tak terasa sore pun tiba, dan Alhamdulillah dagangan mereka habis. Senja sore itu terasa sangat hangat, aku
pun membawa mereka kepondok ku untuk beristirahat.
“ Dek
kalian pulang pake apa?”
Mereka menjawab “kami jalan kaki kak.” hatiku
terenyuh kembali. “ eeemmm…. kakak antarkan yah dek sekarang
juga? udah mulai masuk waktu magrib,
nanti kalian kemalaman.” Bocah laki-laki itu langsung menjawab “
jangan kak, kami jalan saja. kami takut
dimarahi ayah kalau ada yang antarkan
kak!” hati ku bergumam ya Allah masih ada yang seperti ini di zaman
sekarang, Sungguh aku tidak bisa membayangkan.
Aku sangat bersyukur pada Allah yang kuasa, masih menguji ku hanya
sebatas ini. Itu pun kenapa aku masih
bisa mengeluh sementara adek-adek ini yang masih sangat kecil
diberi beban hidup yang lebih
sulit dari ku,, tapi mereka masih
bisa tersenyum dan tetap
ceria.
kalian pulang pake apa?”
Mereka menjawab “kami jalan kaki kak.” hatiku
terenyuh kembali. “ eeemmm…. kakak antarkan yah dek sekarang
juga? udah mulai masuk waktu magrib,
nanti kalian kemalaman.” Bocah laki-laki itu langsung menjawab “
jangan kak, kami jalan saja. kami takut
dimarahi ayah kalau ada yang antarkan
kak!” hati ku bergumam ya Allah masih ada yang seperti ini di zaman
sekarang, Sungguh aku tidak bisa membayangkan.
Aku sangat bersyukur pada Allah yang kuasa, masih menguji ku hanya
sebatas ini. Itu pun kenapa aku masih
bisa mengeluh sementara adek-adek ini yang masih sangat kecil
diberi beban hidup yang lebih
sulit dari ku,, tapi mereka masih
bisa tersenyum dan tetap
ceria.
Pondok Pesantren Darun Nun








