Oleh: Achsanul Fikri Arrizki
Hawa dingin mulai menusuk dikulit, hawa dingin yang khas dimana
hawa ini menunjukkan waktu fajar sudah datang menghampiri. Mata yang masih
sayut manyut mencoba untuk terbangun dari nikmatnya bermimpi dibawah selimut
yang menghangatkan, telinga yang seakan menolak untuk memenuhi panggilan adzan
yang berkumandang, menggodaku untuk terus melanjutkan mimpi indahku. Dengan
sedikit memaksa diri aku mencoba untuk terbangun dari tidur lelapku. Pusing
rasanya, dimana semalam aku hanya tidur dengan waktu yang cukup sebentar,
kuhitung hanya sekitar dua setengah jam saja aku terlelap.
hawa ini menunjukkan waktu fajar sudah datang menghampiri. Mata yang masih
sayut manyut mencoba untuk terbangun dari nikmatnya bermimpi dibawah selimut
yang menghangatkan, telinga yang seakan menolak untuk memenuhi panggilan adzan
yang berkumandang, menggodaku untuk terus melanjutkan mimpi indahku. Dengan
sedikit memaksa diri aku mencoba untuk terbangun dari tidur lelapku. Pusing
rasanya, dimana semalam aku hanya tidur dengan waktu yang cukup sebentar,
kuhitung hanya sekitar dua setengah jam saja aku terlelap.
Aku adalah mahasiswa di sebuah
universitas di Malang. Sekarang, aku memasuki semester 5 di universitasku.
Dalam lubuk hati terdalamku, aku sebenarnya tidak ingin melanjutkan bangku
perkuliahanku, aku lebih senang jika diharuskan fokus menuntut ilmu disebuah
pesantren. Dimana, jika aku berada disebuah pesantren, aku bisa fokus
memperdalam ilmu agamaku, aku bisa fokus menghafal kitabku, aku bisa fokus
belajar kaidah-kaidah dalam bahasa Arab.
universitas di Malang. Sekarang, aku memasuki semester 5 di universitasku.
Dalam lubuk hati terdalamku, aku sebenarnya tidak ingin melanjutkan bangku
perkuliahanku, aku lebih senang jika diharuskan fokus menuntut ilmu disebuah
pesantren. Dimana, jika aku berada disebuah pesantren, aku bisa fokus
memperdalam ilmu agamaku, aku bisa fokus menghafal kitabku, aku bisa fokus
belajar kaidah-kaidah dalam bahasa Arab.
Sebagai seorang anak yang diwajibkan
untuk berbakti kepada orang tuanya, aku tidak mungkin dan tidak akan pernah
bisa menolak permintaan orang tuaku yang lebih menginginkan aku untuk
melanjutkan studiku di sebuah universitas. Aku dengan berat hati menuruti
keinginan orang tuaku untuk sekolah di bangku perkuliahan. Aku sendiri
sebenarnya tidak menikmati metode perkuliahan, yang mana mahasiswa diwajibkan
mencari dan memahami materi yang diberikan dosen, tidak jauh berbeda dengan
autodidak (itu yang kurasa). Aku lebih senang duduk dan mendengarkan kalam dari
seorang ustadz atau kyai. Kalam yang akan dan selalu menyejukkan hati yang
keras ini.
untuk berbakti kepada orang tuanya, aku tidak mungkin dan tidak akan pernah
bisa menolak permintaan orang tuaku yang lebih menginginkan aku untuk
melanjutkan studiku di sebuah universitas. Aku dengan berat hati menuruti
keinginan orang tuaku untuk sekolah di bangku perkuliahan. Aku sendiri
sebenarnya tidak menikmati metode perkuliahan, yang mana mahasiswa diwajibkan
mencari dan memahami materi yang diberikan dosen, tidak jauh berbeda dengan
autodidak (itu yang kurasa). Aku lebih senang duduk dan mendengarkan kalam dari
seorang ustadz atau kyai. Kalam yang akan dan selalu menyejukkan hati yang
keras ini.
Sudah cukup lama aku duduk, berharap
dengan dudukku ini aku bisa melawan kantukku. Aku bergegas kekamar mandi dan mengambil
wudhu. Dengan mata yang masih sembab ini aku berjalan, bagaikan orang yang
buta, aku berjalan menyusuri ruang dengan menutup mata, dan mengangkat tanganku
sebagai petunjuk arah. Kutunaikan sholatku dengan mata tertutup, selepas salam
aku ucapkan dan tak kuasa aku menahan kantukku, aku tertidur lagi.
dengan dudukku ini aku bisa melawan kantukku. Aku bergegas kekamar mandi dan mengambil
wudhu. Dengan mata yang masih sembab ini aku berjalan, bagaikan orang yang
buta, aku berjalan menyusuri ruang dengan menutup mata, dan mengangkat tanganku
sebagai petunjuk arah. Kutunaikan sholatku dengan mata tertutup, selepas salam
aku ucapkan dan tak kuasa aku menahan kantukku, aku tertidur lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.30,
waktunya pergi ke kampus. Seperti biasa, aku berangkat dengan semangat yang
biasa saja. Aku termasuk orang yang tidak terlalu menonjol diperkuliahan, tidak
dikenal sebagai mahasiswa yang pintar, tidak dikenal sebagai mahasiswa yang
aktif dalam berorganisasi, dan aku cenderung dikenal sebagai seorang mahasiswa
kupu-kupu yang hanya masuk bangku perkuliahan dan pulang lagi ke kosan. Yeah,
hari-hariku selalu diisi dengan kegiatan yang terasa membosankan. Karena
memang, melanjutkan pendidikan dibangku perkuliahan bukanlah keinginanku.
waktunya pergi ke kampus. Seperti biasa, aku berangkat dengan semangat yang
biasa saja. Aku termasuk orang yang tidak terlalu menonjol diperkuliahan, tidak
dikenal sebagai mahasiswa yang pintar, tidak dikenal sebagai mahasiswa yang
aktif dalam berorganisasi, dan aku cenderung dikenal sebagai seorang mahasiswa
kupu-kupu yang hanya masuk bangku perkuliahan dan pulang lagi ke kosan. Yeah,
hari-hariku selalu diisi dengan kegiatan yang terasa membosankan. Karena
memang, melanjutkan pendidikan dibangku perkuliahan bukanlah keinginanku.
Aku memang tidak memiliki niat yang
besar dalam melanjutkan pendidikan dibangku perkuliahan, tapi bukan berarti aku
akan memiliki nilai yang dibawah standar. Aku merasa selama nilaiku cukup dan
itu membuatku tidak mengulang lagi semester depan, itu sudah cukup bagiku untuk
duduk di kampus.
besar dalam melanjutkan pendidikan dibangku perkuliahan, tapi bukan berarti aku
akan memiliki nilai yang dibawah standar. Aku merasa selama nilaiku cukup dan
itu membuatku tidak mengulang lagi semester depan, itu sudah cukup bagiku untuk
duduk di kampus.
Sampai suatu hari, dimana
kesadaranku mulai dipaksa bangun oleh seseorang. Dimana selama ini, aku adalah
orang yang beruntung, aku adalah orang yang patut banyak bersyukur. Aku bertemu
dengan seorang anak yang bekerja menjadi petugas kebersihan dikampus.
Perjumpaan yang tidak disengaja, dimana ketika itu aku duduk diteras masjid dan
dia menyapaku karena ingin membersihkan teras masjid. Kami mengobrol satu sama
lain, sampai pada satu titik pembicaraan kami, dia bilang “Saya juga ingin
kuliah mas, tapi mau bagaimana lagi, ekonomi tidak merestuiku untuk melanjutkan
pendidikan” dengan senyum palsu dibibirnya, aku merasa bahwa aku adalah orang
yang paling tidak bersyukur didunia. Bagaimana tidak, aku sudah diberikan
pendidikan yang diinginkan banyak sekali pemuda, tapi dengan sombongnya aku
merasa bahwa pendidikan ini tidak terlalu berguna bagiku.
kesadaranku mulai dipaksa bangun oleh seseorang. Dimana selama ini, aku adalah
orang yang beruntung, aku adalah orang yang patut banyak bersyukur. Aku bertemu
dengan seorang anak yang bekerja menjadi petugas kebersihan dikampus.
Perjumpaan yang tidak disengaja, dimana ketika itu aku duduk diteras masjid dan
dia menyapaku karena ingin membersihkan teras masjid. Kami mengobrol satu sama
lain, sampai pada satu titik pembicaraan kami, dia bilang “Saya juga ingin
kuliah mas, tapi mau bagaimana lagi, ekonomi tidak merestuiku untuk melanjutkan
pendidikan” dengan senyum palsu dibibirnya, aku merasa bahwa aku adalah orang
yang paling tidak bersyukur didunia. Bagaimana tidak, aku sudah diberikan
pendidikan yang diinginkan banyak sekali pemuda, tapi dengan sombongnya aku
merasa bahwa pendidikan ini tidak terlalu berguna bagiku.








