THE SANTRI

Oleh: Ira Safira
 
 

Tulisan
ini bukan membahas tentang film the santri yang lagi viral. Ini hanya tulisan
dari santri oleh santri dan untuk santri dalam memperingati hari santri 22
Oktober 2019.
Seorang
santri  selalu dipandang masyarakat
sebagai seorang yang lebih unggul dalam hal agama dan jarang berkecimpung
dengan hal yang bersifat duniawi apalagi hal yang  bersifat absurd. Padangan ini tidak sepenuhnya
salah, karena memang benar santri itu lebih banyak belajar agama dan beberapa
santri ada yang memang menutup diri dari kehidupan dunia bahkan anti sosmed.
Tidak menutup kemungkinan jika seorang santri akan selalu dituntut oleh
masyarakat untuk bisa dalam segala hal yang berbau agama seperti mengisi
kultum, khutbah, membaca doa, bahkan membaca Alqu’an dengan suara merdu atau qiro’ah
untuk acara – acara, padahal tidak semua santri bersuara merdu seperti guz Azmi
apalagi Wirda Mansur.
Kehidupan
seorang santri dianggap masyarakat selalu tirakat. Seolah – olah setiap diamnya
adalah dzikir, setiap dalil yang keluar dari mulutnya shohih bahkan setiap
hembusan napasnya dihabiskan untuk memahfudzkan kitab Alfiyah, Jurumiyah,
Quratul uyun, Tashrifan, Arba’in nawawi
dan kitab – kitab yang ada dalam
lingkungan pondok pesantren lainnya. Subhanallah.
Realitasnya
santri juga manusia biasa yang hidup normal yang kadang khilaf, kadang lelah,
dan kadang melakukan hal absurd seperti, memasak menggunakan strika, jemuran
hilang diambil orang, diem – dieman karena marahan, tidak saling sapa lantaran
antrian mandi bahkan sarung atau kain mlorot karena ditarik teman
L. Semua itu tidak dapat dirasakan
di tempat mana pun kecuali pondok pesantren dan akan menjadi memorable
tersendiri bagi yang merasakan.
            Dalam
kehidupan dunia pesantren tidak ada namanya “mantan santri” karena santri itu gelar
abadi yang akan melekat dengan seorang ketika lulus dari pondok pesantren.  Untuk itu santri tetap harus melakukan hal –
hal positif yang ada di pondok ssaat sudah alumni. Bahkan gus Dur pernah
berkata
           
kebaikan seorang santri tidak dilihat saat dia berada di pondok, melainkan
ketika dia menjadi alumni. Kamu tinggal buktikan hari ini bahwa kamu adalah
santri yang baik.”
            Dari
perkataan gur Dur diatas saya ingin berpesan pada setiap santri, jika sekarang
kamu adalah seorang alumni pondok pesantren maka kamu harus bisa buktikan bahwa
kamu adalah santri yang baik.  Dan jika
kamu saat ini masih di lingkungan pondok pesantren maka kamu tetaplah berbuat
baik agar suatu hari nanti kamu bisa berpengaruh baik untuk lingkunganmu. Tapi,
tolong rek agar tidak lagi melakukan hal absurd yang dibawa dari pondok
ke lingkungan masyarakat, ghosob sandal orang lain saat sholat misalnya
kasian masyarakatnya nanti
L. Info
tambahan,
Ghosob adalah istilah endemik dalam dunia pondok pesantren. Namun, sekarang ini
sudah banyak orang yang mengerti dari mulut ke mulut
. Untuk kamu yang
belum mengertti apa itu ghosob, hakikatnya istilah ini adalah tindakan
simpan-pinjam barang-barang (selain uang) seperti koperasi tanpa meminta izin
si pemilik barang dalam arti kasarnya mencuri.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp