Kulihat Laki-laki Baik Kita

Oleh : Dinantari Susilo
Pernah
kulihat sesekali matanya muram dengan pandangan kosong, namun sering-sering ia
terlihat bahagia meski tak ada gairah. Gelak dan tawanya diumbar menunjukkan
identitas sebagai laki-laki penuh rasa suka dan ambisi. Siapa tak menyukai itu?
Laki-laki dengan segala kebisaan dan perangai ceria. Namun satu hal yang ia
mungkin lama lupakan. Ia belum pernah jujur setelah lama bercengkrama dengan
akalnya. Apa kabar hatinya? Aku juga penasaran. Lama kami tak bersua. Membuatku
rindu sekaligus merasa kasihan. Apa dia benar-benar bersuka cita? Bayangkan
begitu banyak kebaikan yang laki-laki itu lewatkan selama ini. Ia lupa ada
kabar gembira untuk laki-laki baik sepertinya tidak payah berpura-pura jika ia
sadar dan sabar.-Hai manusia,
sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka
pasti kamu akan menemui-Nya. (Q.S. Insyiqaq: 6)-
Mungkin ia hanya lupa.
Sebentar. Bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya.“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa
apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala
perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah : 186)
Ia
memikirkan nasib banyak orang dalam satu waktu dan wajar sesekali ia berwajah
muram. “Sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia berada dalam susah payah.”  (QS. Al-Balad: 4).
Sesekali ia gelimpungan
menambah beban dan sorot muramnya dengan cairan bearoma kuat. Ah tuak lagi. Tak
pernah sekalipun kulihat ia bahagia setelah meminum air haram itu meski katanya
tuak mengurangi beban pikiran.
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi.
Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi
manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (QS. Al-Baqarah:
219)-
Setelah gelimpungan,
yang kulihat matanya kian muram dan esok pagi-pagi sebuah senyum harus terukir
kembali. Malang betul laki-laki baik ini. Bekerja keras namun lupa apa yang
sebenarnya ia perjuangkan.
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya
(meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan
panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu
agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90)
Untuk
sekarang, jujur, aku lebih suka wajah muramnya daripada tawa lepasnya. Karena
setiap ia muram paling tidak ia akan menatapku lama. Tak apa ia belum berani
menyentuhku. Lagi. Ku layangkan cintaku pada masa lalunya saja. Ia yang pernah
begitu gembira mengkhatamkan 30 juz sekali lalu menjadi berkali-kali, belajar
memahami ayat-ayat, terkesima akan maknanya, bersyukur memiliki hafalan dan
melantunkan tartil dengan indahnya. Bahkan ia bertemu sang cinta pertama sebab
salah satu hafalan. Surah Al-Insyirah menjadi saksi bisu, jawaban rasa gundah
laki-laki baik ini saat datang pertanyaan tentang jodoh.-“Karena, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya,
sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS al-Insyirah: 5-6)-
Ketika hatinya
gundah akan pendamping dan kami sering bercengkrama. Suatu hari diwaktu dhuha,
cinta pertama itu datang menanyakan apakah ia sedang bercakap dengan sang
muadzin masjid atau ketua takmir masjid ? Saat itu gadis dengan warna jilbab
kelabu itu hendak minta izin mengadakan suatu acara di masjid itu namun ia
justru terkesima karena si laki-laki masih berstatus remaja masjid yang diberi
tugas meramaikan masjid dengan hafalan juz 30 disela-sela sibuk warga di
lingkungannya. Ah jangan ditanya bagaimana wajah laki-laki baik kita saat itu.
Warna kepiting rebus pun kalah kurasa. Ia pernah mendekapku berlama-lama agar
tak goyah imannya oleh gadis secantik si cinta pertama. Waktu berselang, mereka
ta’aruf dan terjalinlah silaturahim antar dua keluarga besar.-“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah
Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu
cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih
dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Ar. Ruum : 21).
Bahagia?
Tentu saja. Kupandanginya dua insan dipersatukan Allah dengan cara yang indah.
Terkenang masa itu, terkenang pula wanita cantik yang selalu menyodorkanku dari
sisi kanan untuk laki-laki baik kita selepas solat. Ia mengajarkan suaminya
istikomah. Namun.. Kenangan tetap kenangan. Nyatanya, paras itu tak pernah
kulihat lagi setelah ia lama masuk rumah sakit dan aku kini hanya berakhir di
sudut rak paling atas. Memang tak pernah sekalipun aku mimpi terjatuh dari
ketinggian ini, namun debu-debu tetap menjalankan tugasnya. Menutupi apa-apa
yang telah lama ditinggalkan. Iya,.. aku dan debu-debu bersahabat sekarang.
Kurasa
laki-laki itu mestinya bersabar, seperti sabarnya aku yang tak pernah sekalipun
disentuh sejak akal mulai banyak bicara pada laki-laki baik kita. Andai ia mau
mengajak hatinya nimbrung, bisa jadi berbeda jalan ceritanya. Sepeninggalan cinta
pertama, ia berubah sikap. Pernah kudengar tekadnya untuk terus bekerja keras
demi melupakan si cinta pertama. Namun nyatanya ia bukan hanya melupakan pelita
hatinya itu, namun juga segala kebaikan Allah atas takdir-Nya. Sempat sesekali merutuk
dan menyalahkan Allah, si laki-laki memilih abai pada titah-Nya. Sakit…
hatinya. Padahal yang kulihat hati justru merindukan pemilik sahnya. Hatinya merindu
Tuhannya hanya saja laki-laki baik kita lebih mendengarkan akal dan begitulah.
Kini. Aku masih bersahabat dengan debu.-“Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Suatu
hari, dimalam aku ke-tujuh belas bulan suci. Aku benar-benar mendamba sebuah
keajaiban. Ini hari penuh berkah dan banyak faidah. Tidakkah ia ingin berubah? Kulihat
laki-laki itu membuka kamar dan kembali dengan tatapannya muram. Kali ini
matanya sudah basah. Aku yakin. Wajah merah, sisa-sisa air berlinang
disudut-sudut mata dan suara dari hidung itu menyakinkanku laki-laki baik kita
menangis. Apakah ini salah satu puncak emosi lagi? Setelah ia merutuk Tuhan
akan meninggalnya si cinta pertama, apakah ini rutukan untuk hal lain? Aku
menunggu. Laki-laki berwajah muram itu duduk di sisi ranjangnya dan terdiam,
sambil sesekali menyeka matanya. “Astagfirullahaladzim..” Kudengar
dari mulutnya. Ah, mengapa kali ini? Baiklah sepertinya aku salah. Maafkan aku sudah
su’udzon. Sepertinya ia telah menyadari sesuatu. Kali ini kuharap ia
benar-benar melakukan muhasabah.
Samar-samar
kudengar suara lantunan ayat.-“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)-.
Lirih. Aku tak salah dengarkan? Setelah
sekian lama… Suara ini. Ah iya, aku ingat laki-laki ini memiliki anak yang
disekolahkan di pesantren tiga tahun lalu. Tepat sebulan meninggalnya cinta
pertama laki-laki baik kita. Aku ingat dulu aku pernah diminta menemaninya,
namun laki-laki baik kita melarang. Ujarnya aku adalah kenang-kenangan atas
ibunya. Saat itu aku masih yakin, ia paham betul takdir Tuhan dan belajar
mengikhlaskan meski masih mewujud pada benda. Lalu anak laki-laki itu mengalah.
Eh..
Suara alunan ayat itu terhenti. Hening. Sekarang kulihat laki-laki asing masuk
mendekati laki-laki baik kita. Aku yakin itu pasti anaknya. Ia tumbuh sebagai
lelaki tampan dengan senyum mirip sang ayah, namun ini berbeda. Aku melihat
sinar darinya. Setelah bicara panjang, ayah dan anak itu berpelukan. Lantas…
Aku terkejut. anak laki-laki itu ternyata bertambah tinggi dan mampu meraihku.
Aku kembali disentuh. Apakah aku bermimpi?
Perlahan
anak yang tinggi itu membersihakanku dari debu. Meski tak meninggalkan kesan
lama, aku cukup bersih sekarang. Anak laki-laki itu menyodorkanku pada ayahnya.
“Ayah
terharu mendengar bacaanmu, nak. Sepertinya Allah sedang mengajak Ayah
bicara.”
“Kapan
ayah terakhir membaca Al-qur’an?” Sang ayah terdiam lama. Pandangan muram
itu tertuju padaku. Lama. Sang anak sabar menanti jawaban lalu terbukalah mulut
laki-laki itu.
“Ibumu
benar, istiqomah itu berat. Padahal hanya sebarang membaca tiga ayat selepas
shalat.” -Maka tetaplah kamu (pada
jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang
telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas.
Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan (Q.S. Hud:112)
“Ini
soal terbiasa atau tidak yah. Ayah masih bisa memulai kebiasaan baru itu.”
“Tapi
rasanya apapun itu masih belum terbiasa tanpa ibumu.”
Melihat
ini kuharap yang sesekali matanya muram dengan pandangan kosong itu, lebih
sering-sering terlihat bahagia. Senyum dan tawanya bisa diumbar untuk
menunjukkan identitasnya sebagai laki-laki yang memiliki ketenangan dan
keikhlasan. Siapa yang tak menyukai itu? Laki-laki dengan segala kebisaan dan
perilaku yang lebih baik.-“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan
Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”(Q.S. Al-Baqarah:218)

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp