Lika Liku Kuliahku episode 2

Lika Liku Kuliahku

Eps. 2

Oleh: Fauzi_Fa

 

Keesokan harinya, di pagi yang cerah tanpa mendung atau tanda-tanda hujan, aku menikmati teh hangat di depan rumah. Sambil melihat orang-orang yang sudah beraktivitas atau berolahraga, suasana terasa begitu tenang.

“Le, tolong layani dulu pembeli di toko,” panggil ibuku dari dalam rumah.

“Baik, Bu,” jawabku cepat, meninggalkan tempat dudukku untuk melayani pembeli. Setelah melayani mereka satu per satu, aku kembali ke tempat dudukku, menyelesaikan teh yang masih tersisa. Tak lama kemudian, ibuku berjalan keluar dan berkata, “Gimana, Le? Sudah dapat pilihan kampusnya?”

“Sudah, Bu. Saya mau kuliah di UIN saja, biar nanti bisa tetap mondok sambil kuliah,” jawabku mantap.

“Oh, pilihan yang bagus, Le,” kata ibuku tersenyum. “Tapi soal ayahmu, gimana? Sudah setuju?” tanyanya lagi.

“Sudah, Bu. Ayah sudah mengizinkan saya kuliah, tapi dengan syarat saya tetap mondok,” jawabku, merasa lega.

“Alhamdulillah. Baiklah, nanti segera urus data-data untuk pendaftaran kuliah ya, Le,” kata ibuku penuh perhatian.

“Iya, Bu. Secepatnya saya urus semuanya,” jawabku sambil tersenyum, melihat ibuku kembali ke toko.

 

Kabar ini benar-benar membuat hatiku gembira. Akhirnya, impianku untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dapat terwujud. Meski sempat ditentang oleh ayah karena beberapa alasan, ibuku berhasil meyakinkan beliau hingga akhirnya aku diizinkan berkuliah.

 

Siang harinya, setelah makan siang, ayah menghampiriku.

“Gimana, Le? Jadi kuliah?” tanyanya pelan.

“Jadi, Yah. Kalau boleh, saya ingin kuliah di UIN Malang,” jawabku.

“UIN Malang? Bagus itu. Rencana mondoknya di mana?” tanyanya lagi.

“InsyaAllah mondoknya yang dekat UIN, Yah. Pondok yang diasuh oleh Kiai Mustammar,” jelasku.

“Oh, Kiai Mustammar, yang sering ada di video-video YouTube dan Facebook itu?” tanya ayah penasaran.

 

“Iya, Yah. Beliau memang Kiai besar dan juga mengajar di UIN,” kataku.

“Bagus kalau begitu. Ayah dukung keputusanmu untuk kuliah, tapi tetap harus mondok ya,” kata ayah tegas.

“Iya, Yah. InsyaAllah saya akan tetap istiqomah mondok,” jawabku sambil tersenyum.

 

Malam harinya, aku langsung mengecek website UIN untuk melihat persyaratan masuk. Sekalian, aku mulai menyiapkan kebutuhan administrasi yang harus dikumpulkan.

Sebulan berlalu, dan tibalah waktunya ujian masuk UIN dilaksanakan. Dengan harapan besar, aku menjalani ujian itu dengan lancar. Setelah selesai, aku pulang ke rumah dan menunggu hasil kelulusan yang akan diumumkan dua minggu lagi.

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Dengan penuh rasa syukur, aku melihat hasil ujian di website, dan alhamdulillah, aku dinyatakan lulus dan diterima di UIN Malang. Segala perjuangan dan lika-liku akhirnya terbayar, dan aku bisa melanjutkan kuliah dengan restu dari kedua orang tua.

 

Tamat

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp