Kamis, 17 Oktober 2024, Pemerintah Kota Malang menyelenggarakan Sarasehan Hari Santri dengan tema “Santri Tangguh Merengkuh Masa Depan”. Acara ini berlangsung di Ballroom Mahameru, Hotel Aria Gajayana, Malang, dan dihadiri oleh jajaran Pemkot Malang, Kementerian Agama Kota Malang, serta perwakilan dari berbagai pesantren se-Kota Malang, dan Darun Nun sendiri mendelegasikan dua santri untuk mengikuti kegiatan sarasehan ini. Kehadiran peserta yang beragam ini mencerminkan pentingnya sinergi dalam membangun peran santri sebagai pilar masa depan bangsa.
Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Hari Santri, yang diikuti dengan penuh semangat oleh seluruh hadirin. Nuansa kebangsaan ini mengawali rangkaian acara dengan khidmat, menekankan komitmen santri dalam menjaga nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.
Setelah itu, doa dipimpin oleh Dr. H. Subhan, M.Si., memohon keberkahan dan kelancaran acara. Kemudian Laporan dasar kegiatan sarasehan disampaikan oleh Drs. R. Achmad Mabrur, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat dan Kemasyarakatan Pemkot Malang. Dalam laporannya, ia menjelaskan bahwa tujuan sarasehan ini adalah untuk memperkuat peran santri dalam menghadapi tantangan masa depan, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) santri yang mampu bersaing secara global.
Sambutan disampaikan oleh Sekretaris Daerah Kota Malang, Erik Setyo Santoso, ST, MT. Ia menegaskan pentingnya momen ini sebagai kesempatan berdiskusi langsung dengan santri, mengingat Hari Santri lahir dari perjuangan melalui Resolusi Jihad yang kini menempatkan santri sebagai pilar pembangunan bangsa, khususnya dalam pendidikan dan karakter. Ia juga mendorong santri untuk menguasai teknologi secara bijak serta menjadi penggerak ekonomi sekaligus pertahanan melawan intoleransi dan ekstremisme. Sambutan juga di isi dengan quiz serta doorprize yang diberikan kepada santri yang berhasil menyelesaikan quiz dari sekretaris daerah.
Materi utama disampaikan oleh dua narasumber. Narasumber pertama, Achmad Shampton, S.H.I., Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Malang, menyoroti pentingnya menciptakan pesantren yang ramah anak dan bebas dari kasus bullying dengan judul “Menolak Perundungan, Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan”.
Ia menjelaskan salah satu makna kata santri adalah santri harus “menyinari dan melindungi,” seperti matahari (sun) dan pohon (three), di mana pesantren menjadi tempat yang penuh kasih sayang dan aman bagi anak-anak.
Ia juga menjelaskan 3 poin utama pendidikan di pesantren yaitu: Mengingatkan akan kebaikan, Memerintahkan untuk ketaatan, dan Menjauhi kemaksiatan.
Narasumber kedua, Rina Wahyuni, S.Psi., M.Si., santri dan juga seorang psikolog, menjelaskan bahwa kekerasan dan bullying bukanlah identitas pesantren. Ia menekankan pentingnya menjaga pesantren sebagai lingkungan yang aman, terutama bagi perempuan dan anak, serta memastikan pendidikan yang diterapkan selalu berlandaskan kasih sayang dan kembali pada pendidikan seperti yang tercantum pada kitab ta’lim muta’allim.
Sarasehan ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antara pemerintah, pesantren, dan masyarakat dalam memajukan peran santri sebagai agen perubahan yang tangguh. Dengan wawasan global dan komitmen kuat, santri siap merengkuh masa depan dan berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa. Serta mengembangkan pendidikan pesantren yang ramah anak dan terhindar dari kekerasan ataupun kriminalitas lainnya.
Reporter: Adib Dzulfahmi







