Oleh :Chusbi Aura
“Eh, nanti sore main, kan?”
“Mainlah. Masa nggak?”
“Kalau yang lain ikut, aku ikut.”
Begitulah kira-kira percakapan sederhana yang dulu sering terdengar di antara kami. Tidak ada rencana yang rumit. Tidak perlu menentukan tempat yang jauh. Asalkan kami berlima berkumpul, rasanya sudah cukup untuk membuat hari menjadi menyenangkan.
Aku punya empat orang teman yang sudah bersamaku sejak kecil. Kami berlima mulai dekat sejak TK dan terus bersama sampai MTs. Dua orang di antara kami lebih tua, sedangkan tiga orang lainnya, termasuk aku, seumuran. Walaupun usia kami berbeda, hal itu tidak pernah menjadi masalah. Kami tetap bermain bersama, pergi bersama, bahkan melakukan banyak hal bersama.
Dulu, hampir setiap hari selalu ada saja alasan untuk berkumpul.
“Besok ngaji kan?.”
“iya ngaji.”
“ayo abis ngaji main?”
“ayokkk.”
Sesederhana itu.
Kami tumbuh di desa, sehingga dunia kami saat itu tidak terlalu luas. Rumah, sekolah, tempat mengaji, dan jalan-jalan sekitar desa sudah cukup menjadi tempat petualangan kami. Kami sering bermain bersama, pergi jalan-jalan, bahkan sesekali mencari tempat untuk sekadar melepas penat. Kalau sekarang orang menyebutnya healing, mungkin dulu kami hanya menyebutnya “ayo jalan-jalan”.
Semakin besar, kegiatan kami semakin banyak. Sejak MI sampai MTs, kami sering mengikuti kegiatan pramuka, perkemahan, perlombaan diberbagai bidang akademik dan nonakademik, latihan banjari, ngaji setiap sore, dan lain-lain. Semuanya pernah kami jalani bersama. Kami juga pernah mengikuti paskibra di sekolah untuk mengibarkan bendera ketika HUT RI di desa kami. Selain itu kami juga sering ikut kegiatan bareng ibu-ibu seperti, yasinan, pengajian, berjanjin, dan lain-lain.
Kalau dipikir-pikir sekarang, ternyata sebagian besar masa kecilku memang dihabiskan bersama mereka.
Tidak semuanya berjalan mulus. Kami juga pernah mengalami hal-hal yang sampai sekarang kalau diingat justru membuat kami tertawa.
Salah satunya ketika kami pernah jatuh dari motor bersama.
Saat itu kami tentu saja panik. Tetapi setelah semuanya baik-baik saja, kejadian itu berubah menjadi salah satu cerita yang selalu kami ingat.
“Untung nggak kenapa-kenapa.”
“Iya, tapi malu banget!”
Kami tertawa, seolah kejadian yang tadinya membuat takut itu sekarang hanya menjadi bagian kecil dari cerita masa kecil kami.
Kami juga pernah membuat tetangga merasa terganggu karena terlalu sering bermain dan berkumpul. Hampir setiap ada waktu luang, kami selalu bersama. Mungkin bagi orang lain kami terlihat terlalu ramai, tetapi bagi kami, kebersamaan itu adalah hal yang biasa.
Bahkan saat Lebaran pun kami tetap mencari kesempatan untuk berkumpul. Begitu juga ketika Ramadan tiba. Buka bersama menjadi salah satu kegiatan yang selalu kami nantikan.
“Buka di mana?”
“Di tempat biasa aja.”
“Yang penting kumpul semua.”
Kalimat terakhir itulah yang paling penting bagi kami.
Yang penting kumpul semua.
Namun, tanpa kami sadari, waktu terus berjalan. Kami yang dulu hanya memikirkan kapan bisa bermain bersama, perlahan mulai memikirkan sekolah dan masa depan.
Saat itu kami bertiga sudah kelas dua MTs, sedangkan dua teman kami sudah kelas tiga. Kami mulai sadar bahwa sebentar lagi mereka akan lulus.
“Kalau nanti kalian lulus, masih sering main bareng, kan?”
“Ya pasti.”
“Jangan sampai lupa sama kita.”
Mungkin saat itu kami mengucapkannya sambil bercanda. Kami belum benar-benar memahami bahwa setelah kelulusan itu, semuanya akan mulai berubah.
Hari perpisahan pun akhirnya tiba.
Dua teman kami yang lebih tua akhirnya lulus dari MTs. Salah satunya melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren, sedangkan satu lainnya melanjutkan sekolah di SMK. Sementara itu, kami bertiga masih melanjutkan sekolah di MTs yang sama.
Untuk pertama kalinya, kami tidak lagi berlima setiap hari.
Rasanya aneh.
Dulu kalau ingin bermain tinggal memanggil. Kalau ingin pergi tinggal janjian. Kalau ada kegiatan sekolah, kemungkinan besar kami akan bertemu. Sekarang semuanya mulai berbeda.
Namun, kami masih berusaha menjaga kebersamaan. Meskipun tidak sesering dulu, kami tetap berkomunikasi dan bertemu ketika ada kesempatan.
Kami mungkin tidak menyadarinya saat itu, tetapi ternyata perpisahan pertama tersebut hanyalah awal.
Satu tahun kemudian, giliran kami bertiga yang harus menentukan jalan masing-masing.
Aku dan salah satu temanku memilih melanjutkan Pendidikan di Pondok Presantren yang berada di Jawa. Sementara satu teman lainnya melanjutkan Pendidikan di MAN, di kota tempat kami tinggal dulu.
Kali ini rasanya berbeda.
Kalau sebelumnya hanya dua orang yang pergi, sekarang kami bertiga juga harus meninggalkan tempat yang selama ini menjadi bagian dari masa kecil kami.
“Berarti nanti kita makin jarang ketemu, ya?”
“Iya huhu.”
“Jangan sampai lupa, lho.”
“Mana mungkin lupa.”
Kami tertawa, tetapi mungkin di dalam hati masing-masing ada rasa sedih yang tidak bisa dijelaskan.
Dulu kami takut hanya karena dua orang harus pergi. Sekarang, kami bertiga pun akhirnya harus merasakan hal yang sama.
Aku pergi melanjutkan sekolah di Jawa Bersama salah satu temanku. Sementara teman kami yang lain tetap berada di kota tempat kami menghabiskan masa kecil.
Jarak kami semakin jauh.
Bahkan, kami berada di pulau yang berbeda.
Kalau dulu ingin bertemu cukup berjalan atau naik kendaraan sebentar, sekarang untuk bertemu harus menunggu waktu yang tepat. Kami juga mulai memiliki teman baru di tempat masing-masing. Lingkungan kami berubah. Kesibukan kami berubah. Kehidupan kami perlahan berjalan ke arah yang berbeda.
Tapi ada satu hal yang tidak berubah: kami masih saling menghubungi.
“Gimana sekolahmu?”
“Baik. Kamu gimana?”
“Baik juga. Kapan kita bisa kumpul lagi?”
Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana, tetapi justru menunjukkan bahwa kami masih saling mengingat.
Waktu kembali berjalan.
Tanpa terasa, kami sudah bukan anak-anak yang dulu berlarian bersama di sekitar rumah. Kami sudah tumbuh dan mulai menjalani kehidupan masing-masing.
Sekarang, aku dan salah satu temanku sama-sama kuliah di Malang. Dua teman kami yang lain melanjutkan kuliah di kota tempat kami tinggal ketika kecil. Dan satu teman kami yang lebih tua juga sudah menjalani kehidupan rumah tangga.
Dan sekarang kita mengetahui kabar bahwa dia sedang mengandung, rasanya ada perasaan aneh yang muncul. Senang, tentu saja. Tetapi di sisi lain, aku seperti kembali mengingat masa kecil kami.
Aku teringat saat kami masih kecil, bermain tanpa memikirkan masa depan.
Teringat perkemahan.
Teringat latihan paskibra.
Teringat mengaji bersama.
Teringat buka bersama.
Teringat jatuh dari motor.
Teringat ketika kami pernah dimarahi atau bahkan tidak disukai tetangga karena terlalu sering bermain.
Dan yang paling aku ingat adalah lima orang anak kecil yang dulu selalu merasa bahwa kami akan terus bersama.
Ternyata hidup punya jalan yang berbeda.
Sekarang kami memiliki kehidupan masing-masing. Ada yang mondok sambil kuliah, ada yang ngekost, ada yang sudah menikah bahkan sekarang sedang menanti kelahiran anak mereka.
Kami tidak lagi bisa berkumpul setiap hari seperti dulu.
Tetapi setiap kali kami berbicara, rasanya seperti tidak pernah ada jarak yang begitu jauh di antara kami.
Mungkin itulah arti sebenarnya dari sebuah persahabatan.
Bukan tentang selalu bersama setiap waktu. Bukan tentang harus selalu berada di tempat yang sama. Tetapi tentang tetap saling mengingat meskipun kehidupan sudah membawa kami ke arah yang berbeda.
Dulu kami berlima tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti kami akan hidup berjauhan.
Kami hanya tahu satu hal:
“Yang penting kumpul semua.”
Sekarang, mungkin kami tidak selalu bisa berkumpul. Tetapi setiap kali mengingat masa lalu, kami tetap kembali menjadi lima anak kecil yang pernah tumbuh bersama.
Lima orang dengan jalan hidup yang berbeda.
Lima kehidupan yang terus berjalan.
Tetapi satu cerita yang akan selalu sama.
Cerita tentang kami.







