SLILIT SANG KIAI

SLILIT SANG KIAI

Oleh Yahdil Falakhi Alkhikam

Malam di pesantren itu sunyi, hanya suara jangkrik dan sesekali gonggongan anjing liar yang terdengar dari kejauhan. Para santri telah kembali ke kamar masing-masing setelah mengaji, tetapi di ruang tamu ndalem, Kiai Mahfudz masih duduk bersila, ditemani secangkir teh hangat dan sepotong tempe goreng yang tinggal separuh.

Di hadapannya, duduk seorang santri bernama Anwar. Wajahnya penuh tanda tanya, seolah-olah ada sesuatu yang membebani pikirannya.

“Kiai, maaf sebelumnya, saya ingin bertanya,” kata Anwar dengan ragu-ragu.

Kiai Mahfudz tersenyum tipis, membenarkan letak sarungnya. “Silakan, Nak Anwar. Apa yang mengganjal hatimu?”

Anwar menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Saya mendengar cerita dari beberapa santri, katanya Kiai pernah menegur seseorang hanya karena ada slilit di giginya. Benarkah itu?”

Kiai Mahfudz terkekeh pelan. Ia mengangkat cangkir tehnya, meniup uapnya, lalu menyeruput pelan. “Ah, cerita itu rupanya masih beredar. Memang benar, tapi apakah kau tahu mengapa aku menegurnya?”

Anwar menggeleng.

“Begini, Nak,” Kiai Mahfudz mulai menjelaskan. “Waktu itu, ada seorang tamu datang ke pengajian. Orangnya terpandang, kaya, dan dihormati banyak orang. Namun, saat berbicara di depan jamaah, ada slilit di giginya. Tidak ada yang berani menegurnya karena mereka sungkan dan segan.”

“Lalu, apa yang Kiai lakukan?”

“Aku mendekatinya dan berkata dengan lembut, ‘Maaf, Tuan, ada sesuatu di gigimu.’ Spontan, ia tersipu, lalu buru-buru membersihkannya. Setelah itu, aku bertanya, ‘Apakah Tuan merasa lebih nyaman sekarang?’ Ia mengangguk. Aku pun berkata, ‘Begitu pula dalam kehidupan, ada hal-hal kecil yang mungkin tampak sepele, tapi bisa mengurangi wibawa kita di hadapan orang lain. Jangan sampai kita dibiarkan dalam keadaan tidak tahu hanya karena orang-orang segan untuk mengingatkan.'”

Anwar termenung. Kiai Mahfudz melanjutkan, “Sering kali, kesalahan kecil dalam hidup kita ibarat slilit di gigi. Kita tidak sadar, tapi orang lain melihatnya. Sayangnya, tidak semua orang mau mengingatkan karena takut dianggap mencampuri urusan pribadi. Namun, jika kita mau saling menegur dengan cara yang baik, kita justru membantu saudara kita agar lebih baik.”

Anwar mengangguk pelan. Dalam hatinya, ia menyadari bahwa pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga tempat belajar bagaimana menjadi manusia yang peduli dan tidak membiarkan orang lain terjebak dalam ketidaktahuan.

Malam itu, ia pulang ke kamarnya dengan hati yang lebih ringan, membawa pelajaran hidup dari sebuah slilit sederhana. Ia merebahkan diri di atas kasurnya, memandangi langit-langit kayu kamar pesantren.

Teringat percakapan dengan Kiai Mahfudz, Anwar merenung. Betapa seringnya dalam hidup manusia tak sadar akan kekurangan diri. Betapa banyak orang yang justru membiarkan kesalahan kecil terus berlarut hanya karena tak ada yang berani menegur. Dalam hati, ia berjanji untuk menjadi orang yang lebih peka terhadap sesama.

Keesokan harinya, sebelum subuh berkumandang, Anwar sudah terjaga. Ia berwudhu dan berjalan ke masjid, merasakan embusan angin dingin yang menampar wajahnya. Dalam perjalanan, ia melihat seorang teman santrinya, Rizal, yang duduk termenung di beranda kamar. Anwar menghampiri dan duduk di sebelahnya.

“Kau kenapa, Rizal?” tanya Anwar dengan lembut.

Rizal menoleh, tersenyum samar. “Tak ada apa-apa. Hanya sedang berpikir.”

Anwar diam sejenak, lalu berkata, “Jika ada sesuatu yang mengganjal, jangan ragu untuk berbagi. Kadang, seperti slilit di gigi, kita tak menyadari masalah kita sendiri sampai ada yang membantu mengingatkan.”

Rizal terdiam, lalu tertawa kecil. “Kau mulai bicara seperti Kiai Mahfudz.”

Anwar tersenyum. “Mungkin itu pertanda baik.”

Mereka berdua tertawa pelan, sementara azan subuh mulai berkumandang, memanggil para santri untuk beribadah. Malam yang sunyi kini berganti dengan fajar yang membawa harapan baru.

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp