Kemaruk Garai Ambruk

Oleh : Zahriyatun Nafiah

“Kemaruk” Merupakan kata dalam bahasa Jawa yang memiliki arti serakah atau tamak. Kemaruk biasa digunakan untuk menggambarkan sifat manusia yang sedang tergila-gila atau memiliki keinginan yang berlebihan terhadap suatu hal, baik itu dalam hal harta, makanan, benda atau bahkan pekerjaan. 

Orang yang kemaruk biasanya merasa tidak puas dengan apa yang ia dapatkan, ia berusaha terus menerus agar mendapatkan segala hal yang ia mau dalam waktu yang mungkin terbilang tidak mungkin terjadi. Orang yang kemaruk sebenarnya dia memiliki semangat yang tinggi. Namun semangat disini memiliki dampak yang buruk baginya. Karena kemaruk menimbulkan beberapa sifat seperti egoisme dan tidak peduli terhadap yang lainnya. 

Misalnya orang yang kemaruk dalam suatu pekerjaan. Ia merasa bisa melakukan semua pekerjaan atau mengambil banyak pekerjaan  sendirian tanpa bantuan orang lain. Bahkan ia menolak bantuan dari orang lain dan merasa tidak percaya atau merasa tersaingi jika mendapat bantuan dari orang lain. 

Orang yang semangat dalam melakukan banyak pekerjaan itu sangat baik. Terlebih dia merasa bahwa waktunya itu tidak boleh terbuang sia-sia. Tetapi disisi lain tidak memperhatikan kondisinya sendiri apakah dia mampu melakukannya atau tidak? Apakah tubuhnya akan kuat atau tidak?. Mungkin ia dapat melampaui nya, namun hal tersebut pasti tidak berjalan dengan maksimal. Mungkin pekerjaan nya selesai hanya dengan kata selesai bukan dengan kata selesai dengan maksimal atau bahkan tubuhnya yang merasa capek bahkan tumbang. Lebih baik kita mengambil pekerjaan yang sedikit tetapi kita dapat menyelesaikannya dengan maksimal, dari pada kita mengambil pekerjaan yang banyak karena kita merasa bisa semuanya tapi hasil akhirnya tidak berkualitas. 

Begitu juga dengan hal makanan. Misalkan seseorang tersebut disuguhkan dengan berbagai macam makanan yang lezat dihadapannya, dengan sigap ia langsung mengambil dan mencoba semuanya. Tanpa memperdulikan hak orang lain dan bahkan mengabaikan kesehatan nya sendiri. 

Pada intinya kemaruk itu tidak baik dan membuat kita jadi “ambruk” atau terjatuh. Ini bukan tentang kuantitas tapi tentang kualitas.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp