Oleh Siti Rahmatillah
Malam itu dengan segala hening-dinginnya seketika jadi panas-bisu. Aku dengan berbagai tanya dibuat bungkam hanya karena kata “enggak” yang terucap. Merasa tak percaya mencoba meyakinkan, sekali, dua kali, tiga “ya udah, makasiii ya”, ucapku menutup kecewa.
Aku yang terbiasa lihai membujuk-merayu dan memenangkan hati “temanku” yang marah-kesal-kecewa karena sikapku, sangat harus merasa kaget dengan situasi ini. Berkali-kali aku menanyakan “kenapa”, dijawab dengan nada “nggak apa-apa” tidak biasa. Aku paham betul nada itu; nada-nada yang menyuarakan suasana yang berbeda atau hanya pikiranku saja?
Hahaha tertawa tapi tidak terdengar “hal menyebalkan seperti apa ini” tanyaku riuh, tak henti. “Pertama kalinya dalam hidup”, “semoga ini yang pertama-terakhir, dan tidak menemukan hal-hal seperti ini di kemudian hari” lanjut, tak henti bergumam.
Berbagai mata menyorot-bertanya aku yang menyudut, tak peduli, biarkan saja.







