
22 April 2025 – Kementerian Agama Republik Indonesia menggagas sebuah gerakan hijau bertajuk Penanaman Satu Juta Pohon Matoa, sebagai bagian dari program prioritas nasional Asta Protas yang mengedepankan prinsip keberlanjutan. Melalui gerakan ini, Kemenag ingin menunjukkan bahwa menjaga lingkungan juga bisa menjadi bagian dari ibadah yaitu konsep yang dikenal sebagai ekoteologi. Seperti dalam hadits:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
Artinya, “Dari sahabat Jabir ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, ‘Tiada seorang muslim yang menanam pohon kecuali apa yang dimakan bernilai sedekah, apa yang dicuri juga bernilai sedekah. Tiada pula seseorang yang mengurangi buah (dari pohon-)nya melainkan akan bernilai sedekah bagi penanamnya sampai hari Kiamat,’” (Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri, At-Targhib wat Tarhib minal Haditsisy Syarif, [Beirut, Darul Fikr: 1998 M/1418 H], juz III, halaman 304).
Gerakan Penanaman Satu Juta Pohon Matoa secara resmi diluncurkan oleh Kementerian Agama pada 22 April 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Bumi Sedunia ke-55. Momentum ini dipilih sebagai bentuk komitmen nyata Kemenag dalam mendukung aksi global untuk pelestarian lingkungan, sekaligus menyatukan semangat keagamaan dengan gerakan ekologi dunia.
Program ini dijalankan secara serentak di seluruh Indonesia, melibatkan satuan kerja Kemenag mulai dari tingkat pusat hingga daerah, termasuk madrasah, pesantren, rumah ibadah, perguruan tinggi keagamaan, hingga Kantor Urusan Agama (KUA). Setiap instansi diminta menanam pohon matoa di lingkungan masing-masing dan mendokumentasikan prosesnya sebagai bagian dari kampanye ekoteologi nasional.
Darun Nun dan Keikutsertaannya dalam Menjaga Alam

Pondok Pesantren Darun Nun Malang turut ambil bagian dalam Gerakan Penanaman Satu Juta Pohon Matoa yang dicanangkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni penghijauan, melainkan manifestasi konkret dari komitmen pesantren dalam mendukung pelestarian lingkungan yang berlandaskan pada nilai-nilai keagamaan dan spiritualitas Islam.
Sebagai lembaga pendidikan Islam yang menjunjung tinggi ajaran-ajaran Rasulullah ﷺ, Pondok Pesantren Darun Nun memandang pentingnya keterlibatan aktif dalam gerakan ekoteologi; sebuah pendekatan yang menyatukan antara pengelolaan alam dan nilai-nilai ketauhidan. Penanaman pohon, dalam hal ini pohon matoa (Pometia pinnata), dipahami sebagai bentuk ibadah yang tidak hanya memberi manfaat ekologis bagi bumi tetapi juga mendatangkan pahala sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ bahwa setiap pohon yang ditanam dan memberikan manfaat bagi makhluk hidup akan bernilai sedekah hingga hari kiamat.
Partisipasi Darun Nun dalam gerakan nasional ini juga merupakan wujud kesadaran kolektif santri dan pengasuh pesantren terhadap pentingnya peran aktif umat Islam dalam menjawab tantangan krisis lingkungan global. Dengan menanam pohon matoa di lingkungan pesantren, para santri tidak hanya diajarkan untuk mencintai ilmu dan agama saja; melainkan juga untuk peduli terhadap kelestarian bumi sebagai amanah dari Sang Pencipta.
Hal ini juga menanamkan nilai bahwa menjaga lingkungan bukanlah isu sekuler yang terpisah dari keimanan, melainkan bagian integral dari etika Islam yang luhur. Oleh karena itu, kegiatan penanaman pohon ini menjadi bagian dari proses pendidikan karakter dan spiritualitas ekologis di Pondok Pesantren Darun Nun. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi muslim yang tidak hanya alim dalam ilmu agama, tetapi juga arif dalam menjaga bumi sebagai rumah bersama.
Matoa (Pometia pinnata): Keanekaragaman Hayati Tropis yang Kaya Manfaat

Mengapa harus matoa?
Pohon matoa (Pometia pinnata) merupakan spesies tanaman tropis yang berasal dari kawasan Asia Tenggara dan Pasifik; termasuk Indonesia, Papua Nugini, hingga Fiji. Di Indonesia sendiri, matoa tumbuh secara alami di wilayah-wilayah timur; seperti Papua, Maluku, dan sebagian Sulawesi. Tanaman ini termasuk dalam keluarga Sapindaceae, keluarga yang sama dengan lengkeng dan rambutan. Pometia pinnata memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Secara morfologis, pohon ini mampu tumbuh hingga mencapai tinggi 20 hingga 40 meter dengan diameter batang yang besar. Sistem perakarannya yang dalam dan kuat menjadikannya pohon yang kokoh serta berfungsi baik dalam menjaga struktur tanah.
Daun matoa berbentuk majemuk, menyirip, dan tersusun rapi di batang yang tinggi. Kanopi daunnya yang lebat mampu mereduksi suhu lingkungan mikro, menjaga kelembapan tanah, dan menyediakan habitat alami bagi berbagai jenis fauna. Buahnya berbentuk bulat hingga oval dengan kulit tipis yang berubah warna dari hijau kekuningan hingga kemerahan saat matang. Daging buah matoa berwarna bening hingga putih pucat, bertekstur kenyal, dan memiliki rasa manis khas yang sering digambarkan sebagai perpaduan antara lengkeng dan durian.
Buah matoa tidak hanya lezat namun juga diketahui kaya akan vitamin C, tanin, dan antioksidan. Kandungan fitokimia ini memberikan manfaat bagi kesehatan seperti meningkatkan daya tahan tubuh dan menangkal radikal bebas. Kayunya yang tergolong keras dan kuat sering digunakan dalam konstruksi bangunan dan pembuatan mebel. Beberapa komunitas adat di wilayah timur Indonesia juga memanfaatkan matoa sebagai bagian dari pengobatan tradisional, terutama kulit batangnya yang dianggap memiliki sifat antiinflamasi.
Dari sisi ekologi, matoa dikenal sangat adaptif. Ia mampu tumbuh pada berbagai jenis tanah; mulai dari tanah aluvial, lempung, hingga tanah berbatu. Kisaran habitat alaminya berada pada ketinggian 0 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut dengan preferensi terhadap curah hujan tinggi dan kelembapan yang stabil. Toleransinya terhadap kondisi ekstrem menjadikannya tanaman yang sangat cocok untuk sistem pertanian berkelanjutan seperti agroforestri.
Keunggulan ekologis matoa tidak berhenti pada kemampuannya bertahan di berbagai kondisi. Tanaman ini juga berperan signifikan dalam konservasi air tanah dan pencegahan erosi, terutama di wilayah dengan kontur curam. Selain itu, ia memiliki kemampuan menyerap karbon dalam jumlah besar dan menjadikannya bagian dari solusi mitigasi perubahan iklim. Sebagai spesies endemik, matoa mendukung pelestarian keanekaragaman hayati lokal tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem sebagaimana tanaman introduksi yang berisiko invasif.
Dengan kombinasi karakteristik morfologis yang unggul, manfaat ekologis yang luas, dan ketahanan terhadap penyakit serta kebutuhan perawatan yang minim ini menjadikan matoa salah satu pohon tropis yang layak menjadi andalan dalam program penghijauan dan konservasi lingkungan jangka panjang.
Penulis : Adib Dzulfahmi
Pondok Pesantren Darun Nun







