RAHASIA DIBALIK SENYUM FIERSA

RAHASIA DIBALIK SENYUM FIERSA

Oleh: Dina Ikmalia
Hujan mengguyur Malang, memaksa langkahku lebih cepat. Aku berlari menuju halte di Ketawang, dekat UIN Malang. Sepulang kuliah, aku memilih naik bus, ingin merasakan suasana kota dengan berjalan kaki. Sore itu, kesibukan kota terasa menyenangkan: orang-orang berburu waktu, kendaraan padat, dan aroma knalpot menghiasi jalanan. Hujan masih turun, bus yang kutunggu belum datang. Dua anak SMA berlarian di trotoar, bermain-main di bawah guyuran hujan. Aku tersenyum melihat mereka, teringat dua tahun silam, masa SMAku yang indah, terutama tentang sahabatku, Fiersa.
Hari itu, akhir tahun 2022, hujan juga turun. Aku dan Fiersa berlari menuju gerbang SMAN 1 Tumpang. Catlyn, sahabatku yang asli Madura, selalu ceria, nakal, setia kawan, dan pintar. Meskipun sering bolos, nilainya selalu bagus. Aku tak pernah melihatnya sedih. Dia sering bolos pelajaran kimia, tapi tak pernah mau memberitahu kemana dia pergi. “Ke tempat rahasia untuk menghindari guru,” katanya.
Persahabatan kami begitu indah. Tapi, akhir-akhir ini Fiersa berubah. Dia tak seceria dulu, sering melamun. Aku penasaran, ingin tahu apa yang sedang terjadi. Namun dia sangat tertutup soal masalah pribadinya. Dari tatapan matanya, kurasa ada rahasia yang tak ingin dia bagikan kepada siapa pun.
Sepulang sekolah, dia terlihat buru-buru. Aku bertanya, “Fir, kamu mau kemana? Buru-buru amat?” “Aku ada urusan ca, sorry aku hari ini gak bisa ikut belajar di rumah lo,” jawabnya. “Iya, emang kamu mau kemana? Aku anterin ya, kamu keliatan pucet gitu, aku bawa mobil bokap tuh,” tawarku. “Etdah..kagak usah ica!! Aku baik-baik aja kok, Aku bisa sendiri, kamu pulang aja kan udah ditunggu nyokap di rumah,” jawabnya, lalu pergi tanpa menghiraukan hujan. Aku mengejarnya, tapi dia menghilang di keramaian. Sempat kulihat dia menaiki angkutan umum. “Heemm, mau kemana dia? Itu kan bukan arah rumahnya,” gumamku dalam hati.
Sejak hari itu, Fiersa berubah. Dia seperti orang asing. Jarang masuk sekolah, dan selalu menghindariku. Pesan-pesan yang kukirim padanya tak pernah dibalas.
Beberapa minggu sebelum ujian nasional, Fiersa menghilang dari sekolah. Katanya, dia pindah dan berhenti sekolah. Aku marah, kecewa. Dia pergi tanpa pamit, tanpa menghadiri pesta ulang tahunku. Rasanya seperti dikhianati. Banyak pertanyaan yang tak terjawab. Setelah pembagian ijazah, aku pergi ke rumahnya. Rumah itu kosong dan kotor. Warga sekitar mengatakan dia dan keluarganya pindah ke Jakarta, tapi tak ada yang tahu alamat pastinya.
Hari-hari di Malang terasa membosankan. Aku melanjutkan kuliah di UIN Malang, dan memilih tinggal di rumah lamaku. Setiap hari, aku berharap mendapat kabar dari Fiersa. Suatu hari, tahun 2024, aku menerima sebuah paket. Namaku tertera di sana, pengirimnya Fiersa. Di dalam kotak itu, terdapat beberapa barang dan surat.
“Untuk sahabatku Ica, maaf karna aku gak pernah ngasih kabar ke kamu, aku cuman gak mau ngelibatin kamu dalam masalahku, maaf kalo aku ga bisa dateng saat kamu ulang tahun, sebenarnya pengen banget dateng, tapi aku gak bisa, hari itu aku kerumah sakit, aku harus ikut kemoterapi, selama ini jadwal kimia kita bertepatan dengan jadwal kemoku, makanya aku ga pernah ngajak kamu waktu bolos. Maaf aku ga pernah ngasih tau kamu keadaanku yang sebenernya, aku gak bisa ngeliat sahabatku yang cakep ini sedih. Aku pindah ke Jakarta, karna disini peralatan kemonya lebih lengkap. Aku sempet beberapa kali ngeliat kamu, aku selalu ada di sisi lo ca, aku seneng akhirnya kamu bisa kuliah di jurusan yang kamu inginkan. Aku bahagia sempet kenal sama kamu, makasih untuk semuanya, ini ada surat-surat yang aku bikin disetiap ulang tahun kamu, ada juga kado-kado buat kamu, mungkin saat kamu terima ini semua, aku udah gak ada di dunia ini, tapi aku akan selalu ada di hati mu, kita akan tetap jadi sahabat ica, Sahabatmu Fiersa”
Air mataku tumpah. Aku tak percaya Fiersa sudah tiada. Aku langsung pergi ke alamat yang tertera di kotak itu. Ayahnya mengantarkanku ke makam Fiersa. Aku bersimpuh di hadapan makamnya, dia yang kusayangi selama ini telah pergi. Hujan kembali turun, menemani kesedihanku.
“Hey, kak ica. Kok ngelamun aja sih, ayok naik tuh busnya udah sampe,” kata Tiara, temanku, membuyarkan lamunanku. Hujan sudah reda.
Terima kasih, Fiersa. Kau telah mengajarkan banyak hal tentang persahabatan, perjuangan hidup, dan cara mensyukuri keadaan. Aku akan selalu mengingatmu di setiap rintik hujan, hujan yang menjadi saksi pertemuan pertama dan terakhir kita.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp