Punisment dan Reward yang sesungguhnya dalam Pembelajaran

Punisment dan Reward yang sesungguhnya dalam Pembelajaran

Oleh: I Gede

              Hey!, kalian para orang tua, guru dan mungkin ada diantara kalian yang menjadi seorang anak atau siswa yang merasa bahwa hidup kalian itu penuh kekangan dari orang tua atau pun guru kalian disekolah, entah itu aturan yang ketat seperti hukuman yang diberikan orang tua atau guru yang bisa dibilang memberatkan kalian sendiri.

“Nah betul tuh, ya kali aku ketika telat dateng ke sekolah sama guruku disuruh khatamin surat yasin 3x bakan kadang-kadang disuruh khatamin surat Al-baqarah, terus aja begitu hukumanya, peh males tau’…”, Sahut Alex si murid teladan di sekolahnya, dengan raut muka penuh kesal sesambi dengan mengepalkan tangan kirinya ke udara.

Di lain sisi juga ada permasalahan yang berbeda, yang mana disini sering diterapkan oleh orang tua kepada anaknya, ketika orang tua menginginkan anaknya untuk rajin mengaji di TPQ, maka orang tua tersebut akan menjajikan sebuah hadiah kepada anaknya. Lalu apakah anak akan rajin mengaji terus menerus setelah diberikan hadiah seperti PS 5, HP Iphone Boba, Laptop ROG bahkan Montor Aerog?, hmm.

“Wah pastinya saya akan rajin mengaji di TPQ selama 24jam penuh kalau hadiahnya PS 5, kan lumayan buat mabar sama temen satu kompleks hehe.” Sahut faris seorang calon Kyai di desanya, sambil bergegas pulang dari kafe untuk segera mandi dan mengaji di TPQ terdekat.

Nah itu adalah beberapa contoh dari sebuah hukuman dan janji-janji manis yang bisa dibilang cukup sering diterapkan oleh seorang guru dan orang tua kepada anak atau peserta didiknya, bisa kita ketahui mengapa hal-hal tersebut dilakukan oleh orang tua maupun guru, hal itu dilakukan guna bertujuan untuk meberikan stimulus kepada anak untuk merubah sikap dan berperilaku yang lebih baik lagi dalam melakukan kehidupanya. Nah dari adanya peraturan yang memberatkan seorang murid dan adanya sebuah janji manis yang berupa sebuah hadiah,apakah dapat berjalan dengan efektif dan efisien, jika kedua hal tersebut diterapkan terus menerus kepada seorang peserta didik?

Nah untuk menjawab dari pertanyaan tersebut, saya disini akan membahas tentang teori pembelajaran pengondisian operan yang berkaitan dengan masalah yang dialami oleh peserta didik tersebut.

Jadi, Teori pengondisian operan merupakan sebuah bentuk pembelajaran bagaimana seseorang memiliki stimulus yang kuat pada dirinya karena pengaruh dari lingkungan. Prinsip dasar pengondisian operan menurut B,F Skinner adalah sebuah respon diperkuat dan karenanya mungkin akan terjadi lagi, ketika respon tersebut diikuti oleh sebuah stimulus yang menguatkan (penguat).

Dilain itu juga ada teori dari seorang tokoh yang bernama Jeanne Ellis Ormrod yang menyatakan bahwa teori pengkondisian operan berawal dari tingkah laku manusia dibentuk dari pengalaman sebelumnya dan bukan berasal dari kondisi luar. Ormrod mengidentifikasi dengan mengidentifikasi dengan mengurangi perilaku yang dinginkan dan membentuk hukuman yang ringan dan efektif seperti pengkondiasian positif, penghapusan, percontohan dan lain sebagainya.

“eh, yang dimaksud dalam penjelasan diatas itu apasih?, kok aku belum paham ya?. Kebanyakan teori sih, hehe” Tiba-tiba ada seorang pembaca yang kurang paham dengan apa yang dimaksud di 2 pragraf tersebut.

Nah, dari dua paragraf diatas bisa kita ambil beberapa poin pembahasan yang penting seperti yang kita ketahui dalam bacaan tersebut terdapat 2 tokoh yang mengungkapakan teorinya, yang berkaitan dengan teori pengondisian operan yaitu, seorang tokoh yang bernama B.F Skinner dan Ellis Ormrod. Yang mana disini seorang tokoh bernama B.F Skinner menjelaskan tentang penekanan terhadap sebuah respon yang digabungkan dengan Sebuah stimulus terhadap seorang anak atau peserta didik. sehingga dapat mempengaruhi seorang anak atau peserta didik dalam hal apa yang diharapkan oleh orang tua maupun guru dalam kegiatan pendidikanya di Rumah maupun sekolah.

Dilain sisi dari seorang tokoh yang bernama Jeane Elis Ormrod menjelaskan tentang 2 poin penting, yang mana bahwasanya tingkah laku atau karakter seseorang itu dipengaruhi oleh pengalamanya dimasalalu, dan adanya kecenderungan dalam hukuman yang ringan dan efektif merupakan hal-hal yang termasuk dalam pengkondisiann yang positif.

“ Oh begitu ya, jadi yang perlu digaris besar adalah poin-poin seperti pengalaman , hukuman yang ringan, Penekanan sebuah respon yang berbarengan dengan stimulus terhadap peserta didik, gitu ya hehe”

Dilain sisi, pengondisisan operan dapat terjadi dalam dua keadaan. Yang Pertama, memiliki stimulus yang kuat pada dirinya. Jika tidak adanya stimulus yang kuat maka tidak akan mencapa keinginannya, contohnya ketika peserta didik memiliki ketertarikan pada topikyang dibahas maka ia akan belajar lebih banyak dari sebelumya. Kedua, stimulus dan respon memiliki keterkaaitan yang kuat, miasalnya ketika seoarang guru akan memberikan hadiah bagi peserta didik yang aktif bertanya didalam kelas.

Nah, dari pembahasan diatas sebenarnya sudah bisa menjawab permasalahan yang telah ditanyakan sebelumnya, namun untuk memantapkan pemahaman kita tentang teori Pengondisian , kita akan lanjut ke next stage.

“wah next stage ya, pastinya tentang tutorial untuk mejadi orang kaya tanpa berkerja dan bisa mendapatkan PS 5 ya, haha” tiba-tiba si faris sudah kembali aja dari TPQ dengan baju gamis putih dan bersorban putih juga.

Wah enak aja, itu namanya mimpi sih hehe. Lanjut ke topik, jadi permasalahan diawal adalah sebuah metode pembelajaran yang tergolong dalam Teori Pengkondisian Operan yang berlebihan sehingga dapat menimbulkan Enforcement yaitu bertambah buruknya perilaku dikarenakan adanya sebuah paksaan/ ketidaksesuaan dalam memberian hukuman atau hadiah kepada anak atau peserta didik. Sehingga Strategi pengkondisian tersebut bisa dibilang tidak efektik untuk diterapkan kepada anak maupun peserta didik.

“lalu bagaimana sih cara kita sebagai seorang guru atau orang tua dalam menyusun strategi metode pembelajaran Pengkondisian Operan yang Efektif”, Si alex mencoba melontarkan pertanyaan jeniusnya.

Nah dikutip dari sebuah buku yang ditulis oleh , berikut ini cara menyusun strategi yang efektif dalam metode pembelajaran Pengkondisian Operan. Yang pertama Kita sebagai seorang guru atau orang tua dapat menentukan perilaku dalam pembelajaran. Contohnya seperti, Mengajarkan para peserta didik apa itu tanggungn jawab, perlunya peserta didik mengikuti intruksi yang diberikan, membawa buku dan alat sekolah sesuai yang diperlukan dikelas, serta menyelesaikan tugas tepat waktu dan tuntas.

Lalu yang kedua kita bisa Mengidentifikasi konsekuensi dalam memberikan penguatan terhadap peserta didik , contohnya seperti mecari tahu setiap individu peserta didik tentang konsekuensi apa yang membuatnya tertarik dalam pembelajaran. Yang ketiga kita bisa menggunakan penguat-penguat Ekstrinsik, contohnya seperti peserta didik mengalami kegagalan dalam suatu pembelajaran. Sebagai pendidik, sudah seharusnya memberikan beberapa penguatan ekstrinsik seperti pujian, hadiah, stiker, waktu bebas dll. Sebab perbaikan-perbaikan kecil yang telah diraih peserta didik.

Yang Keempat kita sebagai orang tua atau guru bisa membuat kontigensi Respons-konsekuensi eksplisit seperti contohnya, Pesrta didik dijenjang tk lebih mungkin untuk merespon secara tepat ketika pendidik berkata “ Kelompok yang paling tenang akan diperbolehkan untuk istirahat duluan. Swdangkan peserta didik Di Jenjang SMA akan lebih aktif menyelesaikan tugas jika dikatakan oleh pendidik bahwasanya dipermudah berdarmawisata ke festival.

Yang terakhir kita dapat memastikan seluruh peserta didik mempunyai kesempatan dalam upaya memperbaiki perilaku peserta didik, tanpa sadar mengabaikan peserta didik yang sebetulnya  sama layak mendapatkan penguatan. Hal ini dapat secara eksplisit mengajarkan peserta didik cara yang tepat untuk mencari dan memperoleh penguatan.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp